Sabtu, 08 Mei 2010

Cerita Sri Mulyani, Menkeu RI, Di Balik Kesibukannya

Cerita Sri Mulyani di Balik Seabrek Kesibukannya
Sabtu, 8 Mei 2010 - 13:09 wib TEXT SIZE : Andina Meryani - Okezone
Foto : Koran SI JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani memang dikenal sebagai wanita super sibuk. Hampir setiap hari selalu dipadati oleh jadwal-jadwal yang menuntut mobilitas sangat tinggi dalam menjalani tugasnya.
Namun di tengah kesibukannya yang super padat tersebut, dirinya tidak pernah lupa akan tugasnya sebagai seorang ibu dari Dewinta Illinia, Adwin Haryo Indrawan dan Luqman Indra Pambudidan, serta istri dari Tonny Sumartono.
Sebagaimana dikisahkan oleh supir pribadi Sri Mulyani, Gustaf Ari Wahyu, dirinya kagum dengan sosok Menteri Keuangan tersebut terhadap keluarganya.
"Sepejabat-pejabatnya dia, Ibu masih sempat menyiapkan makanan sendiri buat keluarga," ujarnya saat ditemui wartawan di Kantor Kementerian Keuangan, Jalan Dr Wahidin, Jakarta, Jumat (7/5/2010) sore.
Meskipun sibuk, dirinya tidak pernah lalai memperhatikan perkembangan tiga buah hatinya. Menurut Gustaf, Ibu Ani, sapaan akrabnya, sempat khawatir dengan nilai ulangan harian bahasa Indonesia putranya Adwin Haryo Indrawan menjelang Ujian Nasional (UN).
"Ibu sempat khawatir ulangan bahasa Indonesia anaknya kok jelek terus? Tapi pas UN justru nilainya bagus," ungkapnya.
Dalam berkomunikasi sehari-hari dengan anak-anaknya, Bu Ani lebih banyak menggunakan bahasa Inggris. Namun sebagai keturunan Jawa, calon managing director Bank Dunia ini juga fasih berbahasa Jawa.
"Pernah Ibu nanya ke saya pakai bahasa Jawa. Karena saya orang Jawa, ya saya jawab juga dengan bahasa Jawa. Tapi kalau sama anak-anak seringnya pakai bahasa Inggris," jelasnya.
Memiliki supir pribadi juga tidak menyurutkan hobinya untuk menyetir mobil sendiri. Gustaf menceritakan, sewaktu salah satu anak Sri Mulyani ingin belajar mengendari mobil, tiba-tiba Bu Ani ingin mengendarai kembali kendaraan roda empat itu. Tanpa pikir panjang, dia pun langsung mengendarai mobil dinas suaminya dan melaju mengitari kediaman di Widya Chandra hingga Bundaran HI bersama keluarganya. Sementara itu, Gustaf yang mengikutinya dengan mobil dinas kementerian B 1189 RFS, mengaku malah sempat tertinggal.
"Ibu pernah nyopir sekali. Ternyata nyopirnya jago. Waktu itu putar kediaman di Widya Chandra terus ke HI, kemudian balik lagi. Kita ikuti dengan mobil RFS ya sempat ketinggalan juga," kisahnya.
Sebagai orang yang kerap mengantar Menkeu, dia pun menceritakan bahwa Ibu Ani memiliki trauma dengan mobil berkecepatan tinggi karena sempat mengalami kecelakaan saat masih bertugas di Bappenas. Sehingga dia kerap mewanti-wanti supirnya untuk menjaga kecepatan pada level yang aman sekira 70-80km/jam untuk dalam kota dan sekira 120km/jam untuk luar kota. Meskipun demikian, dia berkisah bahwa pernah menyetir dengan kecepatan mencapai 170km/jam dalam keadaan mendesak.
"Pernah juga 170km/jam, seperti waktu di DPR itu, kan dari sana pukul 21.00 WIB lewat. Padahal, harus mengejar pesawat pukul 21.30 WIB untuk terbang ke Bali," terangnya.
Selama di dalam mobil, biasanya Bu Ani menghabiskan waktunya sambil membaca koleksi bukunya yang tersedia di dalam mobil, sambil mendengarkan musik jazz. Terkadang dia pun menyempatkan untuk menelpon keluarganya sekedar untuk menanyakan kabar mereka.
"Biasanya Ibu baca atau telepon keluarga," jelasnya.
Sementara itu, di balik tampilannya yang elegan di berbagai kesempatan, Gustaf menyatakan bahwa Ibu Ani sebenarnya tidak punya seorang stylish khusus hanya terkadang saja memanggil salon langganannya. Untuk busana pun dia justru mempercayakannya kepada sang kakak ipar, ketimbang desainer terkenal.
"Bajunya kebanyakan dari kakak iparnya," tuturnya.
Dengan begitu banyak kenangan bersama wanita hebat tersebut membuat Gustaf agak berat melepaskan kepergian sang atasan ke Washington. "Kalau bisa, Ibu jangan pindah deh," harapnya. (adn) (rhs)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar