Sabtu, 24 Oktober 2009

Wardiman Djojonegoro (75), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1993-1998, : Pensiun Bukan Berarti Harus Istirahat

Pensiun Bukan Berarti Harus Istirahat

Minggu, 25 Oktober 2009 | 02:40 WIB

Yulia Septhiani dan Budi Suwarna

Menjalani masa pensiun tidaklah mudah. Bukannya bisa menikmati hidup dengan tenang, pensiun justru bisa membuat stres jika tidak ada persiapan matang.

Wardiman Djojonegoro (75), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1993-1998, pernah stres pada tahun pertamanya setelah pensiun sebagai menteri. Padahal, Wardiman sudah mempersiapkan diri sebelum pensiun.

”Karena banyak membaca buku tentang keadaan di Amerika Serikat dan Eropa, saya mempersiapkan sekadarnya. Tetapi, saat mulai pensiun, ternyata yang saya bayangkan sebelumnya tentang pensiun berbeda,” kata Wardiman.

Persiapan yang dilakukan adalah menyiapkan tabungan untuk keluarga, memberikan pendidikan kepada anak-anak, dan menerima masukan untuk menikmati hidup dengan melakukan berbagai hobi, seperti membaca buku dan fitness.

Di awal pensiun, Wardiman memang banyak mengisi waktu dengan menjalankan hobinya, yaitu fitness dan membaca buku. Dia juga bergabung bersama teman-temannya yang hobi golf.

”Tetapi, sesudah empat-lima kali golf jadi bosan karena tidak ada tujuan yang jelas,” kata Wardiman.

Wardiman pun stres. Karena dilampiaskan dengan makan, berat badannya naik 5-6 kilogram dalam setahun dan pernah mencapai 85 kg pada tahun 2001.

Anggota MPR 1992-1997 ini stres karena punya terlalu banyak waktu, tetapi tidak punya program. Dia kehilangan tim yang selama ini membantunya bekerja. Dia juga kehilangan teman-teman dan merasa dilupakan masyarakat.

Dalam kondisi inilah Wardiman mulai berubah. ”Saya mulai mengendalikan stres, misalnya dengan belajar pernapasan, lalu menjaga kondisi tubuh sesuai pesan dokter. Berat badan saya turun 22 kg dalam waktu 22 minggu,” kata Wardiman.

Selain menjaga kondisi fisik, Wardiman mulai menyibukkan diri. Dia belajar tentang komunikasi di lembaga public speaking Toastmasters, menjadi penasihat di Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dan berceramah di Universitas Padjadjaran yang menjadi almamaternya.

Tahun 2004, kegiatannya bertambah dengan menjadi Ketua Yayasan Puteri Indonesia. ”Karena senang dengan keindahan, tawaran dari Panitia Puteri Indonesia saya terima,” kata Wardiman yang menilai perempuan itu sebagai keindahan.

Dengan berbagai kesibukan, Wardiman mulai merasakan hidup yang berkualitas. Berdasarkan pengalamannya ini, Wardiman pun tak setuju dengan pendapat bahwa pensiun adalah waktunya untuk istirahat total.

”Jalani saja hidup dengan normal, tidur 7-8 delapan jam sehari dan tetap berkarya,” kata Wardiman, yang juga menekankan betapa pentingnya persiapan mental menjelang pensiun.

”Ternak ricu”

Faktor mental juga menjadi fokus Daryanto (61) menjelang pensiun sebagai Sekretaris Dirjen di Departemen Pertanian. ”Saya berprinsip hidup itu, kan, seperti roda yang berputar. Suatu saat pasti berhenti. Jadi, ketika pensiun, saya tidak kaget,” kata Daryanto, yang menyiapkan kader untuk meneruskan pekerjaannya sebelum pensiun pada Februari 2009.

Untuk mengisi waktu luang saat ini, Daryanto menjalankan bisnis kecil-kecilan yang dia bangun bersama teman-temannya. Daryanto mengatakan, motifnya berbisnis tidak semata-mata ekonomi karena dua dari tiga anaknya sudah mandiri.

Lepas dari kesibukan kantor, Daryanto benar-benar menikmati hidup karena dia memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga. ”Sekarang pekerjaan saya ’ternak ricu’ alias anter anak, istri, dan cucu,” katanya sambil tertawa.

Daryanto kini juga bisa merawat pohon buah-buahan dan tanaman bunga di halaman rumah, yang dulunya diurus orang lain.

Latar belakang pendidikan sebagai sarjana pertanian Universitas Gadjah Mada tak hanya berpengaruh pada kesibukan ketika masih bekerja. Di saat pensiun, Daryanto menyumbangkan pemikirannya dengan memberikan konsultasi kepada pebisnis di bidang pertanian.

Berkarya setelah pensiun juga dilakukan Samiran (62), yang pernah bekerja sekitar 30 tahun di yayasan sosial Lembaga Daya Dharma. Meski kegiatan yang dilakukan saat ini berhubungan dengan pekerjaannya pada masa lalu, rencana yang dibuat Samiran sebelum pensiun justru berbeda.

”Semula, saya berencana dagang baju, dibantu istri saya yang suka menerima pesanan masakan atau kue,” cerita Samiran.

Akan tetapi, rencana ini batal dilakukan karena Samiran tetap bergelut di bidang sosial yang terjadi tanpa disengaja. Ceritanya bermula ketika Samiran diminta menunda pensiun selama dua tahun. Permintaan dari kantor ini diikuti Samiran karena belum ada orang yang menggantikan posisinya sebagai manajer program.

Sibuk dalam kegiatan sosial akhirnya berlanjut meski Samiran pensiun tahun 2004. Saat ini, dia membantu Australia and New Zealand Association (ANZA) untuk membuat program sosial, seperti mengadakan perbaikan gizi untuk anak-anak, memperbaiki sekolah rusak, dan membuat WC umum.

Beberapa gambar desain WC umum pun diperlihatkannya. Gambarnya sederhana, hanya gambar bangunan tampak samping, depan, dan atas.

Namun, proses pembangunan ternyata tak sesederhana gambarnya. ”Saya harus sosialisasi pada masyarakat yang menjadi target karena belum tentu mereka mau menerima program dari kami. Itulah seninya dari pekerjaan ini,” kata Samiran yang gemar merawat tanaman di saat punya waktu luang.

Saat merawat sirih hitam, jeruk limau, jambu air, belimbing wuluh, dan berbagai tanaman lainnya dalam pot, Samiran betah berlama-lama di halaman rumah, dari pagi sampai maghrib.

”Intinya, jangan menjadikan pensiun sebagai beban,” kata Samiran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar