Sabtu, 10 Oktober 2009

Kenangan dengan Pak Harto dan Jalan Jalan ke Singapuran & Malaysia

Kenangan dengan Pak Harto
Written on 8 June, 2007 – 20:36 | by Rahmat Zikri |
Pada hari ini, 8 Juni 2007, mantan Presiden Republik Indonesia berulangtahun yang ke-86. Pak Harto dilahirkan di sebuah desa yang bernama Kemusuk, Argomulyo, di Yogyakarta, pada tahun 1921.
Pada tulisan ini saya tidak bermaksud membahas panjang lebar tentang sosok Pak Harto. Sosok yang pernah berkuasa di negeri ini selama 32 tahun jelas bukan tokoh yang tidak dikenal. Semua sudah tahu, walau mungkin hanya secara garis besar, bahwa Soeharto mengawali karir di dunia militer, ikut berjuang pada perang kemerdekaan, sampai pada peristiwa G30S/PKI yang membawanya ke dunia politik di tanah air.
Setiap kali melihat wajah Pak Harto, ada satu hal yang saya ingat, dulu saya pernah surat-suratan dengannya. Hal ini pula-lah yang mengingatkan saya ketika sadar bahwa hari ini Pak Harto berulangtahun. Ya, mungkin sekali sebenarnya surat saya tidak dibaca oleh beliau. Yang membalas pun jelas bukan beliau. Tapi yang jelas dulu saya pernah balas-balasan. Sekurangnya 2-3x saling balas.
Pertama kali “bertegur-sapa” dengan Pak Harto adalah ketika saya duduk di kelas IV B, SD Negeri 2 Telukbetung Selatan, Bandarlampung, sekitar tahun 1984-85. Surat pertama saya hanyalah sebuah kartu ucapan selamat hari raya idul fitri, tentunya dengan beberapa kalimat yang saya tulis sendiri di kartu murahan yang saya beli di emperan halaman Kantor Pos di dekat rumah. Lupa dulu bilang apa di kartu itu. Yah yang pasti seputaran selamat lebaran untuk Pak Harto sekeluarga. Itu pun saya kirim dengan asal tebak, karena ngga tahu nomor rumah dan kode pos Pak Harto. Saya masih ingat, dulu surat saya tujukan ke:
Kepada Yth.
Bapak Presiden Soeharto dan Keluarga
Jl. Cendana no.1
Jakarta Pusat
Begitu saja. Belakangan saya baru tahu kalau ternyata rumah Pak Harto bukan di rumah nomor 1. Tapi yang penting pak pos tahu-lah. Yang penting sampai. Pada keterangan pengirim, saya menggunakan alamat sekolah, lengkap dengan keterangan kelas IV B nya.
Gotcha! Ternyata kartu lebaran saya dibalas. Memang agak telat, karena lebaran sudah lewat. Tapi tetap saja, better late than never. Bikin heboh guru-guru, bikin heboh sekolah. Karena ada kiriman untuk Ananda Rahmat Zikri, Murid kelas IVB, SD Negeri 2 Telukbetung Selatan…. dari Presiden Republik Indonesia!
Dengan hati yang berbunga-bunga karena dapat balasan kartu lebaran dari Pak Harto, saya nekat menulis surat. Kiriman yang ke-dua ini jelas bukan sekadar kartu ucapan. Kali ini benar-benar surat yang saya tulis tangan, pada beberapa lembar kertas surat bergaris yang saya beli di toko yang juga dekat rumah. Yang jelas bukan hanya selembar. Banyak yang saya tulis di situ. Lupa, apa saja isinya. Pastinya 2-3 lembar. Mungkin lebih. Intinya, saya mengucapkan terimakasih atas balasan kartu lebarannya. Cerita kalau saya ranking 1 di sekolah. Cerita bagaimana lingkungan di sekitar saya. Lalu saya juga meminta sebuah kenang-kenangan lagi dari Pak Harto, saya minta foto beliau berdua Ibu Tien Soeharto.. lalu minta foto tersebut ditandatangani.
Nah, untuk kali ini balasannya agak lambat. Malah saya nyaris hampir melupakan permintaan tersebut. Saya pun telah naik kelas ke kelas V B. Tiba-tiba seorang guru piket mengetuk pintu kelas, memanggil saya. Lagi-lagi heboh. Kali ini saya menerima kiriman paket dari Sekretariat Negara Republik Indonesia. Waktu bungkusan dibuka, ternyata isinya sebuah foto ukuran 10R dengan bingkai bertuliskan Presiden Republik Indonesia, foto Pak Harto berdua Ibu Tien Soeharto, lengkap dengan tandatangan mereka berdua dengan tinta emas!
Sebagai surat pengantar kali ini adalah sebuah surat yang ditandatangani oleh (Brigjen) G.Dwipayana. Sekretaris Presiden kala itu, yang sebenarnya lebih saya kenal namanya pada serial “Si Unyil” di awal dekade 80-an. Kalau tidak salah dulu posisi Pak G.Dwipayana di “Si Unyil” adalah sebagai sutradara. Lagi-lagi saya ngga ingat apa isinya. Cuma ingat yang tandatangan di surat itu adalah G.Dwipayana.
Surat-suratan pun masih berlanjut. Tapi pada surat yang berikutnya ini permintaan saya ngga dipenuhi. Salah satu yang saya ingat adalah saya ingin sekali punya sepeda. Ketika itu ada pabrik sepeda di Lampung, yang konon punya keluarga Cendana. Desas-desus itu pula-lah yang mengilhami surat saya yang isinya minta sepeda. Ada juga cerita bahwa ada anak Indonesia yang pernah dikasih sepeda oleh Pak Harto. Entah karena mungkin ketika disurvai oleh intel ternyata orangtua saya dianggap mampu membelikan sepeda atau sebab lain, yang jelas sampai sekarang (setelah lewat 2 dekade) saya tetap tidak dapat sepeda dari Pak Harto, juga belum pernah sekali pun punya sepeda
Di surat yang lain, saya ‘curhat’ membayangkan enaknya jadi anak Pak Harto. Dengan eksplisit pula pernah secara tersurat bilang supaya Pak Harto mengangkat saya sebagai anak. Entah apakah ada anak Indonesia yang lebih nekat dari saya ketika itu. Kalau dipikir-pikir, gokil juga. But it was really fun!.
Kenekatan saya yang lain pada jaman SD adalah ketika mengirim surat ke Menteri Pemuda dan Olahraga ketika itu, Abdul Gafur, untuk menantang salah satu dari dua petinju top Indonesia waktu itu, Ellyas Pical atau Yani Hagler, kalau berani lawan sepupu saya yang lagi doyan body building. Walau anak SD, tapi soal hitung-hitungan duit ngerti banget. Saya yakin kalau kakak sepupu saya itu diadu dengan salah satu dari petinju top itu, bisa menang. Badannya lebih besar. Lumayan kalau saya jadi promotor dia gebuk-gebukan dengan Ellyas Pical. Tapi suratnya ngga dibalas
Memasuki usia SMP, saya mulai ‘bosan’ dengan Pak Harto. Sebenarnya bukan dengan Pak Harto-nya sih. Tapi dekat lingkungan di sekitarnya. Walau usia SMP (1987-1990), saya cukup memahami sepak terjang orang-orang di sekitar Pak Harto, bagaimana mereka menguasai bisnis, menguasai dunia politik. Dengan Golkar sebagai mesin politiknya, semua yang tidak berwarna “kuning” bisa susah.
Kebetulan Ibu saya ketika itu aktif di dunia politik, dengan posisi terakhir sebagai Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (DPW PPP) Propinsi Lampung. Dengan posisi sebagus itu pun ternyata pada tahun 1987 gagal menembus kursi legislatif di DPRD Propinsi. Penggembosan PPP yang terjadi di tahun 1987 meluluhlantakkan perolehan suara yang sangat merosot dibandingkan pada Pemilu tahun 1982. Seingat saya, tahun 1982 PPP Lampung sekurangnya kebagian 5 kursi, tapi tahun 1987 hanya 1 atau 2. Prosedurnya, nomor 1 untuk ketua, nomor 2 untuk sekretaris. Golkar-isasi nyaris absolut. Menguasai kursi sekitar 90%!
Oh iya, cerita sedikit tentang Ibu, sebenarnya beliau lebih aktif di dunia dakwah. Memulai ‘perjumpaannya’ dengan politik melalui Aisyiyah (Organisasi kewanitaan di Muhammadiyah), yang berlanjut ke Muslimin Indonesia (MI) — yang pada Pemilu 1955 bernama Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Masyumi dibekukan di jaman Orla, kalau tidak salah karena dianggap menentang Orla. Lalu berubah wujud menjadi Partai Muslimin Indonesia, yang selanjutnya berubah menjadi MI. MI bersama Nahdlatul Ulama (NU), Syarikat Islam (SI) dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah Indonesia (Perti) melebur menjadi Partai Persatuan Pembangunan (5 Januari 1973).
Pada awal-awal saya duduk di bangku sekolah dasar, sempat juga menikmati indahnya “jadi anggota dewan yang terhormat”. Ketika itu Ibu di DPRD Tingkat II Kotamadya Tanjungkarang-Telukbetung (pada tahun 1982 berubah nama menjadi kotamadya Bandarlampung). Ibu ngga berani meninggalkan saya sendiri di rumah, berdua dengan pembantu. Karena katanya saya bandel luar biasa. Ngga bakal nurut dengan orang lain, kecuali dengan beliau. Jadi, daripada “diapa-apain” sama pembantu, mending diajak ngantor di DPRD. Kadang saya ikut sidang juga.. kecuali sidang pleno, karena tidak boleh ada anak kecil. Enak juga. Kalau giliran anggota dewan yang terhormat jalan-jalan ke luar kota, saya ikut. Hahaha.
Nah, begitu masuk SMP, jadi sebal dengan sepak terjang Golkar yang membuat semua orang dipaksa nyoblos Golkar. Karena jelas saya juga kena imbasnya. Hahaha.. Itu sih alasan pribadi. Tapi alasan umum, semua juga tahu bagaimana sepak terjang Orde Baru. Pak Harto sebenarnya baik. Jelas banyak jasanya pada bangsa ini. Tapi orang-orang di sekitarnya yang memanfaatkan berbagai fasilitas yang membuat bangsa ini jadi luluhlantak. Secara langsung atau tidak, tetap saja Pak Harto punya andil dalam memudahkan orang-orang itu merajalela.
Hasilnya, pada jaman SMP ini, surat-surat dan foto Pak Harto yang saya dapatkan di jaman SD pun masuk dalam gudang. Kalau saya cari mungkin masih ada. Yah, mestinya memang harus saya cari. Memorabilia. Bagaimana pun Pak Harto tetap berjasa dan patut dikenang.
Selamat ulangtahun Pak Harto!
Melancong ke Kuala Lumpur
Written on 11 May, 2007 – 10:05 | by Rahmat Zikri |
Seperti halnya berlibur ke Singapura, Kuala Lumpur telah menjadi salah satu tujuan wisata bagi sebagian orang Indonesia. Dengan ongkos yang hanya berbeda sedikit dengan ongkos Jakarta-Denpasar (Bali), Kuala Lumpur menjadi alternatif yang menarik. Karena ‘judul’nya adalah liburan ke luar negeri! Gengsinya jelas beda.
Tulisan saya kali ini akan membahas cara menuju Kuala Lumpur, lewat Singapura. Rute ini adalah rute yang sangat menarik, karena ibarat pepatah, sekali merengkuh dayung dua-tiga pulau terlampaui. Tulisan ini sekaligus merupakan sambungan dari tulisan saya tentang cara menuju Singapura dengan biaya lebih murah melalui Batam, yang bisa di baca di sini.
Rute yang bisa ditempuh untuk paket hemat ini adalah berangkat dari Jakarta menuju Batam, lalu ke Singapura dan melanjutkan ke Kuala Lumpur. Kembali ke Jakarta langsung dari Kuala Lumpur. Atau kalau mau dilanjutkan lagi, ada banyak alternatif, misalnya ke daerah Genting (pegunungan seperti di Puncak, dengan berbagai fasilitas hiburan, termasuk judi), atau ke Pulau Penang. Genting dan Penang masih dalam wilayah kedaulatan Malaysia. Kalau mau terus lagi bisa juga ke wilayah selatan Thailand (Phuket dan sekitarnya), terus ke atas bisa sampai Bangkok.
Pada umumnya pelancong yang sedang di Singapura dan ingin melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur akan mengambil alternatif perjalanan darat dengan bus. Selama ini rute baku yang diketahui adalah direct dari Singapura ke Kuala Lumpur. Naik bus dari terminal Golden Miles di Singapura, yang akan membawanya ke terminal Puduraya di Kuala Lumpur. Bus ini bertarif sekitar SGD 26/orang. Pilihan ini bukan yang terbaik. Karena dengan sedikit trik, anda bisa mendapatkan 1/2 harga, dengan naik bus yang sama!
Bagaimana caranya? Bus-bus yang berangkat dari Golden Miles (Singapore) ini akan mampir terlebih dahulu di terminal bus Larkin, di Johor Baru (Malaysia). Nah, cobalah naik bus tujuan Kuala Lumpur dari terminal ini. Tarifnya hanya MYR 24 (sekitar SGD 11 saja!). Untuk bisa tiba di terminal Larkin ini, ada banyak bus yang bisa dinaiki dari Singapura. Setidaknya yang saya tahu ada di dekat stasiun MRT Bugis, Lavender dan Kranji. Tarif bus dari Singapura menuju Johor Baru ini sekitar SGD 2.50/orang, dengan waktu tempuh sekitar 30-40 menit. Setiap saat ada bus yang berangkat. Mungkin sekitar 10-15 menit sekali di setiap tempatnya. Jadi, ngga usah khawatir.
Di perbatasan negara antara Singapore dan Malaysia kita mesti melewati checkpoint imigrasi ke-dua negara. Di sini, kita harus turun dari bus dan berjalan kaki ke loket imigrasi. Jangan lupa untuk membawa semua barang bawaan tanpa terkecuali. Karena waktu keluar dari sini kemungkinan besar bus yang akan kita pakai untuk melanjutkan perjalanan adalah bus yang berbeda. Tinggal naik saja. Yang penting perusahaan operator bus-nya sama. Ada beberapa yang saya ingat, misalnya SBS, Causeway, dsb. Jangan sampai tiket hilang, karena itu artinya harus bayar lagi. Bus berjalan sebentar, mungkin hanya sekitar 1-2 menit, sudah berhenti lagi dan lagi-lagi kita harus turun. Kalau tadi adalah imigrasi Singapura, kali ini imigrasi Malaysia. Hal serupa mesti dilakukan kembali, bawa semua barang.
Setibanya di terminal Larkin (Johor Baru, Malaysia), mungkin anda akan dihampiri oleh 1-2 orang calo. Ngga usah diladeni. Ngga perlu khawatir juga, terminal di sana cukup aman koq, jangan bayangkan anda seperti orang kampung yang baru tiba di terminal Kampung Rambutan atau Pulogadung di Jakarta, yang bisa “dimakan” orang. Bahkan di tengah malam sekali pun. Cobalah berjalan berkeliling beberapa loket agen bus yang ada di depan mata. Coba lihat tulisan jam keberangkatan bus tujuan Kuala Lumpur. Cari saja yang paling dekat jam keberangkatannya. Ada baiknya juga sebelum memutuskan hendak naik bus yang mana, cobalah memandang ke bus-bus yang parkir, bus milik operator mana yang menarik minat anda. Saya menghindari penyebutan nama perusahaan bus favorit saya di sini, karena alasan netralitas. Tapi mestinya mata anda pun tak akan berbohong pada diri sendiri. Bus mana yang bagus, setidaknya dari tampilan fisik. Pada poin ini pun tidak perlu khawatir, setiap saat ada bus yang akan berangkat ke Kuala Lumpur.
Waktu tempuh antara terminal Larkin (Johor Baru) dan Puduraya (Kuala Lumpur) sekitar 4-5 jam. Perjalanan pada malam hari akan lebih cepat, karena jalanan kosong. Jika ternyata masih ada waktu menunggu, di terminal ini juga banyak kedai tempat makan yang bisa dipakai sebagai tempat duduk-duduk membuang waktu sambil menikmati makanan atau kopi. Karena saya adalah pecandu kopi tubruk, catatan untuk sesama penggemar kopi tubruk di sini adalah, bilang: “saye nak kopi o”. Jangan cuma kopi. Nanti yang diberikan adalah kopi 3in1.
Selama perjalanan di bus tidak banyak yang menarik. Tapi lumayanlah buat ganti suasana pemandangan. Satu hal yang menarik, di Singapore atau Malaysia supir bus itu digaji. Bukan kejar setoran seperti di Indonesia. Jadi ngga akan kebut-kebutan. Malah pernah saya menggerutu sendiri, karena menganggap si supir terlalu lamban menjalankan busnya seperti keong.
Terminal tujuan di Kuala Lumpur adalah terminal Puduraya. Lokasinya tidak jauh dari daerah pecinan di Petaling street. Hanya sekitar 5 menit dengan berjalan kaki. Terminal ini pula-lah yang menjadi titik sentral bus-bus antar kota di Malaysia atau bahkan antar negara (Malaysia-Singapore atau Malaysia-Thailand). Jadi, jika nanti selanjutnya berminat melanjutkan perjalanan darat ke kota-kota lain –termasuk ke beberapa kota di Thailand atau kembali lagi ke Singapura– anda mesti kembali lagi ke terminal ini.
Sama seperti terminal-terminal antar kota di Indonesia, di sekitar terminal ini pun banyak tersedia penginapan. Mulai dari yang kelas losmen/hostel sampai hotel yang bagus. Jika anda tiba di sini dini hari, mungkin sebaiknya beristirahat dulu di penginapan yang murah. Lumayan menghemat, karena seperti di Indonesia, jika anda check-in sebelum jam 6 pagi itu dihitung menginap 1 malam. Check-in jam 7 pagi tidak ada bedanya dengan anda check-in jam 7 malam. Setelah hari terang baru mencari hotel yang bagus. Ini jika anda ingin tinggal di hotel yang lebih bagus.
Alternatif arah perjalanan anda untuk mencari penginapan ada 2 (dua). Berjalan ke arah bawah menuju Petaling street (pada arah yang sama jika diteruskan berjalan 4-5 menit dari Petaling street anda akan menemukan lokasi wajib lainnya yaitu Pasar Seni). Pada arah ini, tepatnya di seputaran Petaling street dan jalan-jalan di sekitarnya, ada beberapa hotel dan juga hostel (backpacker). Penginapan backpacker di sini bertarif sekitar MYR 30-40 per ranjang. Sedangkan untuk hotel berkelas bintang 1-2 tarifnya sekitar MYR 80-150 per kamar. Alternatif yang ke-dua adalah dari terminal Puduraya berjalan ke arah atas, ke arah Bukit Bintang. Ini juga adalah daerah wajib dikunjungi. Ada beberapa shopping center yang menarik, termasuk untuk belanja barang-barang elektronik (yang ini cari saja di Plaza Low Yat). Di seputaran Bukit Bintang ini ada banyak sekali penginapan. Lagi-lagi dari yang kelas hostel sampai hotel. Salah satu favorit tempat saya menginap ada di sini. Tapi tarifnya bukan tarif backpacker, tapi buat saya price per performance-nya lumayan.
Setelah urusan penginapan beres, tinggal masalah jalan-jalan. Ada banyak lokasi yang bisa dikunjungi. Selain Petaling street dan Pasar Seni yang tadi sudah disebutkan, tentu saja jangan lupa untuk meng-explore seluk beluk daerah Bukit Bintang ini. Seperti hal-nya daerah Geylang yang saya sebut pada tulisan terdahulu, Bukit Bintang adalah juga kawasan red-light. Tapi yang lebih banyak berkeliaran di sini adalah makelarnya. Pernah ada yang dengan terang-terangan menawarkannya ke saya dengan mengatakan: “awak nak ape… melayu ker? cine ker? atau nak keling juge ade!”
Seperti halnya orang ndeso jalan-jalan ke Jakarta yang tidak akan melewatkan wisata ke Monas, para turis yang melancong ke Kuala Lumpur pun wajib datang dan berfoto di menara kembar Kuala Lumpur City Center (KLCC), yang merupakan salah satu dari gedung tertinggi di dunia. Dari Bukit Bintang bisa saja jalan kaki ke mari. Tapi sebaiknya naik taksi. Kurang lebih ongkosnya MYR 10, pakai argo. Tapi harap diingat, pada jam-jam tertentu (jam macet, jam pulang kantor) banyak supir taksi yang ogah pakai argo untuk jarak dekat atau yang melewati daerah macet. Ada juga perusahaan taksi yang mengenakan tambahan biaya beberapa puluh sen untuk tambahan per penumpang (jika penumpang dalam taksi ada 2,3 atau 4 orang).
Jika anda berminat untuk naik ke atas menara, pihak manajemen KLCC mengijinkannya.. dan gratis! Tapi untuk ini anda mesti mengantri tiket terlebih dahulu. Sangat disarankan mengambil tiket sepagi mungkin. Lokasi tiket ada di basement salah satu menara dari twin tower ini. Cari atau tanyakan saja pada satpam. Di dekat loket tiket ini juga ada toko yang khusus menjual memorabilia tentang KLCC. Setelah mendapatkan tiket, anda akan mengetahui kira-kira jam berapa anda boleh naik. Perlu diingat juga, kalau hari Senin tidak ada turis yang boleh naik, karena itu waktu perawatannya. Anda akan mendapatkan kesempatan sekitar 10 menit berada di atas jembatan yang menghubungkan Tower 1 dan Tower 2, yang berada di ketinggian sekitar lantai 41-42.
Selain KLCC Twin Towers –yang juga disebut menara Petronas–, Malaysia juga memiliki Menara Kuala Lumpur (KL Tower), yang juga merupakan salah satu menara tertinggi di dunia. KL Tower ini mirip seperti Menara TVRI di Senayan Jakarta. Tapi lebih besar. Menara ini berlokasi di Bukit Nanas. Bisa naik monorail untuk mencapai lokasi ini. Sebagai orang Indonesia, kita boleh ikut berbangga, karena arsitek bangunan kebanggaan orang Malaysia ini adalah insinyur Indonesia. Anda boleh berlama-lama di atas menara ini, karena untuk menaikinya mesti bayar, MYR 20. Tapi dari atas sini kita bisa melihat sekeliling Kuala Lumpur dan meneropong berbagai tempat dengan teropong koin. Posisi anda pun jauh di atas posisi jembatan penghubung Twin Towers.
Tempat lain yang menarik untuk membuat foto kenangan adalah Dataran Merdeka (Merdeka Square). Di sini ada gedung menarik, Sultan Samad Building, yang juga menjadi icon Kuala Lumpur. Masih ada beberapa tempat menarik lainnya. Tidak usah khawatir, di berbagai tempat (misal di dalam mal di KLCC) anda akan dengan mudah mendapatkan berbagai brosur tujuan wisata di sekitar KL dan/atau kota lain di Malaysia.
Terakhir, untuk kembali ke Jakarta, anda bisa menuju stasiun KL Sentral dengan menaiki LRT. Dari sini, perjalanan dilanjutkan kembali menuju bandara. Uppss, bergantung pesawat apa yang anda naiki. Jika naik AirAsia, anda mesti menuju LCC (Low Cost Carrier) Terminal. Tapi jika naik pesawat selain AirAsia, anda harus menuju KLIA (Kuala Lumpur International Airport). Jika tujuan anda adalah LCC (naik AirAsia), anda mesti berjalan ke luar area stasiun LRT, cari petunjuk ke arah bus menuju LCC Terminal (turun ke bawah). Anda akan menemukan bus yang akan membawa anda ke LCC. Tarifnya hanya MYR 9. Tapi jika tujuannya adalah KLIA, mesti naik kereta KLIA Express. Kalau yang ini, anda ngga perlu ke luar area stasiun LRT. Cari di mana loket tempat membeli tiket KLIA Express. Keretanya bagus dan bersih. Hanya perlu waktu 30 menit untuk bisa tiba di KLIA. Tapi harganya juga bagus. MYR 35. hehe. Kalau bepergian dengan partner, 3 atau 4 orang, mending naik taksi ke KLIA (dari Kuala Lumpur sekitar MYR 80).
updated: Untuk tempat tinggal di KL dengan tarif ekonomis bisa coba sewa apartemen-nya Riyani (orang Indonesia yang tinggal di KL). Apartemennya disewakan untuk umum (ada beberapa kamar). Ukuran kamar terkecil 3×4m, ber-AC tentunya. Harga mulai dari MYR 80/malam. Lokasi di KL Plaza Suite, Jalan Bukit Bintang, bersebelahan dengan JW Marriott Hotel dan satu gedung dengan Planet Hollywood. Bisa hubungi Riyani via handphone di nomor +60164401978, atau email/YM: riyaniwong@yahoo.com.
Popularity: 97% [?]
Jalan-jalan Hemat ke Singapura
Written on 11 April, 2007 – 08:47 | by Rahmat Zikri |
Dulu, orang Indonesia yang berbelanja di Singapura di-identik-kan dengan orang kaya. Belum afdol rasanya jika merasa kaya, tapi belum punya hobi bolak-balik ke Singapura, hanya untuk berbelanja.
Lain dulu lain sekarang. Dulu, ongkos yang perlu dikeluarkan untuk ke Singapura memang mahal. Bayangkan saja, dua dekade yang lampau, di tahun 1990, ketika mulai ada penerbangan swasta nasional (Indonesia) yang melayani rute internasional Jakarta-Singapura, harga tiket pergi-pulang termurah yang bisa saya peroleh adalah 1 juta-an rupiah (lupa persisnya berapa). Itu pun dengan naik penerbangan milik maskapai penerbangan Sempati Air, yang telah lama almarhum sebelum sempat menikmati masa-masa booming penerbangan domestik di Indonesia belakangan ini. Jangan lupa, itu di awal dekade 90-an sebagai pembanding, harga sebuah mobil Toyota Kijang Super yang standar ketika itu adalah sekitar Rp 15 juta-an. Belum lagi biaya fiskal udara yang mesti dibayar, sebesar Rp 250.000 per orang (sekarang fiskal udara adalah Rp 1.000.000).
Nah, sekarang, dengan booming penerbangan domestik yang terjadi di Indonesia, hukum ekonomi berjalan dengan baik. Dengan semakin banyaknya pilihan penerbangan, harga tiket pun ikut terkoreksi sesuai dengan harga pasar. Harga tidak lagi terlalu ditentukan sewenang-wenang. Karena calon penumpang sekarang punya banyak pilihan.
Dari sekian banyak pilihan yang ada, sebagian besar orang tetap hanya mengetahui rute konvensional ke Singapura, yaitu dari Jakarta (bandara Cengkareng) naik pesawat langsung menuju Singapura (bandara Changi). Walau belakangan ini mulai banyak yang mengetahui jalur alternatif yang bisa lebih murah, yaitu melalui Batam, tapi tidak semua orang tahu.
Bagaimana sih caranya jika kita ingin pergi ke Singapura lewat Batam? Aman kah? Bisa setiap saat? Bisa lebih murah? Jawabannya adalah YA.
Ada banyak pilihan maskapai penerbangan domestik dari Jakarta yang menuju Batam. Harga tiket termurah adalah Rp 200.000 per sekali jalan. Tentunya diperlukan sedikit kesabaran dan juga keberuntungan untuk mendapatkan tiket ini. Yang pasti-pasti sih, normalnya sekitar Rp 250.000-275.000. Kalau mau lebih pasti untuk mendapatkan tiket paling murah, rumus sederhananya adalah hindari pergi/pulang pada waktu akhir pekan, apalagi long weekend. Jangan lupa, di bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta, anda mesti membayar airport tax sebesar Rp 30.000 (untuk penerbangan domestik). Bandingkan saja, untuk penerbangan internasional dari Cengkareng, airport tax yang mesti dibayar adalah Rp 100.000!
Setibanya di bandara Hang Nadim, Batam, sebelum bertemu dengan tempat pengambilan bagasi dari pesawat, anda akan melihat ada sebuah konter penjualan tiket kapal cepat menuju Harbor Front, Singapore. Mampir lah ke situ. Mau tahu strategi saya? Pantau saja dari kejauhan terlebih dahulu. Kalau kira-kira ada orang lain yang akan menuju konter itu juga, dan dia sendirian atau berdua (pokoknya jika dijumlahkan dengan anda dan teman–jika pergi dengan teman/pasangan) tidak lebih dari 4 orang, segera lah mendekat. Untuk apa? Well, nanti saya sebutkan kenapa nya.
Di konter ini, kita bisa membeli tiket kapal cepat tujuan Singapura tersebut seharga SGD 12 untuk sekali jalan, atau SGD 14 untuk tiket pergi-pulang. Harga ini hanya berlaku untuk orang Indonesia (jika anda tidak ber-paspor Indonesia, harganya lebih mahal lagi. Kalau tidak salah SGD 20 per sekali jalan). Boleh dibayar dengan rupiah. Ada 2 pilihan kapal cepat di sini, Batam Fast atau Penguin. Menurut saya, sama saja. Berangkat nya pun nyaris bersamaan. Hanya berselang sekitar 10 menit. Hampir setiap jam ada jadwal berangkatnya.
Selanjutnya, dari bandara Hang Nadim, kita mesti naik taksi menuju pelabuhan. Ada 2 pilihan pelabuhan, Batam Center atau Sekupang. Terserah anda. Tiket ferry yang sudah anda beli valid di ke-dua tempat tersebut. Saya pribadi lebih memilih berangkat dari Batam Center. Lokasinya lebih dekat dari bandara. Memang, konsekuensinya sedikit lebih lama di laut. 60 menit. Sedang jika berangkat dari pelabuhan Sekupang, di laut hanya sekitar 45 menit. Masalahnya adalah, ongkos taksi jadi lebih mahal. Kelebihan lain dari pelabuhan Batam Center adalah bersebelahan dengan mall. Sehingga kalau masih ada waktu sebelum jadwal ferry berangkat, bisa lihat-lihat atau makan siang sebentar.
Ongkos taksi di Batam terbilang mahal. Untuk jarak Bandara Hang Nadim ke Batam Center ongkosnya Rp 70.000. Ngga pakai tawar-tawaran. Dengan jarak seperti itu, dengan naik taksi yang berlogo burung warna biru di Jakarta itu paling hanya sekitar Rp 25.000! Nah, di sini-lah kesempatan untuk kembali berhemat. Semua orang Jakarta yang ke Singapura lewat Batam pasti karena ingin berhemat. Jadi, jangan segan atau malu menegur orang yang sama-sama hendak membeli tiket ferry di konter yang ada di bandara itu, untuk sekadar mengajak bareng naik taksi menuju pelabuhan! Selama ini saya ngga pernah punya pengalaman ditolak. Pasti mau! Paling top bisa ber-empat. Ongkos taksi ya dibagi 4 )Â Sebenarnya sih, dari waktu di dalam pesawat atau bahkan waktu mau check-in di Cengkareng, anda sudah bisa mencari teman sharing naik taksi di Batam. Coba sedikit lebih jeli, anda pasti bisa membedakan mana orang yang tujuannya memang hanya sampai Batam, mana yang mau terus ke Singapura. Gaya-nya lain
Tiba di pelabuhan Batam Center, anda mesti check-in di konter perusahaan ferry yang anda pilih (Batam Fast atau Penguin. Oh iya, di sini juga ada pilihan lain selain yang dua ini, yaitu Wave Master). Pilih jam yang anda inginkan. Check-in ditutup 15 menit sebelum jam keberangkatan. Di sini anda mesti bayar seaport tax sebesar SGD 3 (seperti airport tax kalau di bandara lah).
Setelah itu, jangan lupa membayar fiskal laut di loket pembayaran fiskal. Biayanya hanya Rp 500.000 (bandingkan dengan fiskal udara dari Cengkareng, tarifnya Rp 1 juta!). Saya termasuk orang yang beruntung karena paspor saya keluaran kantor imigrasi di Lampung. Saya bebas fiskal jika berangkat dari pelabuhan/bandara mana pun di Sumatera. Begitu juga pemegang paspor Sumatera lainnya.
Segera masuk ke ruang tunggu, jangan sampai terlambat, jika memang anda memilih jam keberangkatan terdekat. Tunggu sampai ada panggilan untuk naik ke kapal. Nikmati-lah perjalanan di lautnya. Kapalnya lumayan bagus dan bersih kok.
Perjalanan 60 menit tidak terasa. Sebentar saja sudah tiba di Harbor Front di Singapura. Satu hal yang mesti diingat oleh para perokok, Singapura menerapkan no duty free untuk rokok. Dengan kata lain, berapa pun jumlah rokok yang anda bawa, sedikit atau banyak, akan dikenai cukai. Susah buat yang rokoknya kretek produksi dalam negeri. Harganya di negara singa ini bisa berkali-kali lipat. Tujuannya jelas, supaya orang tidak merokok. Tapi kalau mau lolos sepertinya gampang saja, kalau anda bawa beberapa bungkus, jangan ditaruh bertumpuk jadi satu. Sebar saja di beberapa tempat atau bahkan beberapa tas.
Dari Harbor Front, tinggal tentukan tujuan mau menginap di mana. Saya cenderung menghindari booking terlebih dahulu. Ada banyak pilihan tempat menginap di Singapura. Dari yang kelas backpacker –yang hanya sewa ranjang, sekamar bisa 10-16 orang–sampai hotel berbintang 5.
Karena tema yang saya angkat di tulisan ini adalah cara murah ke Singapura, tentu kita tidak berminat membahas penginapan yang bintang 4 ke atas.
Jika anda sendirian, mungkin menarik untuk coba tinggal di penginapan backpacker. Saya pernah coba di daerah Bugis. Kalau mau cari, silahkan saja naik MRT menuju stasiun Bugis. Saya lupa nama gedungnya. Yang jelas, penandanya adalah Burger King ada di salah satu sisi dari gedung tersebut. Burger King dan penginapan backpacker ini ada pada sisi L. Penginapannya terletak di lantai 3. Anda hanya perlu membayar sebesar SGD 20 per orang untuk kamar yang berisi ranjang tingkat sebanyak 8 buah (jadi kalau full bisa 16 orang). Kamarnya ber-AC. Waktu itu di kamar saya ada beberapa bule cewek dan cowok, ada Jepang dan juga India. Semua friendly. Ciri khas para backpacker. Alternatif lain ada di daerah Little India. Di sana saya malah melihat ada beberapa pilihan penginapan backpacker, yang jika dilihat dari luar sih sepertinya lebih bagus daripada yang pernah saya coba di daerah Bugis. Dibanding dengan alternatif lain, sebenarnya pilihan ini menarik.
Biasanya penginapan backpacker menyediakan beberapa mesin cuci pakaian yang bisa dioperasikan dengan memasukkan uang koin. Selain itu, juga ada yang menyediakan 1-2 PC untuk akses ke Internet dengan sistem pre-paid voucher –dengar-dengar yang di daerah Little India bisa akses Internet gratisan, malah menyediakan wi-fi hotspot juga. Ada ruang TV dengan aneka bacaan/novel yang biasanya merupakan warisan dari turis yang pernah menginap di situ. Breakfast pun disediakan, walau self-service. Ada roti dan mie instan. Juga teh, kopi dan susu. Selesai makan, bersihkan kembali semua peralatan yang anda pakai. Konon ada penginapan backpacker yang dengan kasar meminta tamunya untuk mencuci kembali peralatan makan yang telah pakai; dengan menempel tulisan yang kira-kira berbunyi “Don’t forget to clean up. Your mother doesn’t work here!” Untungnya itu di Eropa.
Update: Penginapan backpacker di Singapura yang memiliki website –sehingga anda bisa melihat-lihat seperti apa suasana di dalamnya– adalah Inncrowd dan Betelbox.
Jika anda kurang tertarik berpetualang dengan gaya backpacker, masih ada alternatif murah lainnya. Datanglah ke daerah Orchard (juga naik MRT). Di sekitar Orchard ada banyak apartemen yang bisa disewa. Yang sudah lumayan dikenal oleh banyak orang Indonesia adalah yang berlokasi di Lucky Plaza. Harga sewa mulai dari SGD 40-80 per malam. Jadi, jika anda tidak sendirian, menyewa apartemen adalah alternatif yang bagus. Apalagi Orchard adalah surganya belanja, mulai dari barang-barang murah dan juga murahan, sampai merk-merk kelas dunia, semua ada di sini.
Kalau anda masih lebih pilih penginapan konvensional –alias hotel– di berbagai penjuru Singapura ada. Seperti yang saya bilang tadi, ngga perlu booking terlebih dahulu. Daerah yang paling banyak hotelnya (yang murah meriah, dengan tarif sekitar SGD 40-80 per malam) ada di seputaran Geylang. Berbeda dengan Bugis, Little India dan/atau Orchard yang namanya terpampang jelas sebagai nama stasiun juga –sehingga anda akan mudah melihat namanya ketika hendak membeli tiket MRT– nama Geylang tidak ada di daftar stasiun yang dilewati MRT. Nama stasiun yang harus anda pilih adalah Aljunied. Jalan kaki sekitar 5-10 menit menuju sekitaran Lorong 22, Lorong 20, Lorong 18 dan Lorong 16 (tanya ke petugas di stasiun atau lihat peta yang ada di mana-mana. Jangan pernah takut tersesat di Singapura. Dari ujung ke ujung negara ini bisa ditempuh dalam waktu 1 jam dengan mobil!), di sini ada setumpuk hotel. Ketika hari mulai menjelang malam, anda akan tahu kenapa di sini banyak hotel. Ya karena di sini adalah kawasan malam (red-light district) -nya Singapura. Mirip seperti Mangga Besar kalau di Jakarta.
Hotel-hotel di sini biasanya menerapkan juga harga diskon. Itu sebabnya, jangan booking dari Internet atau biro perjalanan anda di Jakarta. Waktu check-in dan mendapatkan tarif (biasanya terpampang di dinding pada front office), coba-lah untuk berpura-pura kaget dan bilang, lho kok segitu..? bukannya harganya mestinya segini… (sambil menyebutkan sebuah angka sekitar SGD 20 lebih murah dari harga yang dipajang). Tentunya ngomong dalam bahasa inggris. Tidak semua orang Singapura mengerti bahasa Melayu, apalagi mereka yang beretnis tionghoa atau india. Mintalah harga diskon, bilang kalau anda sudah sering ke sana. Tentunya selama paspor anda mengatakan bahwa anda sering ke Singapura. Kalau paspor anda tidak mengatakan begitu, bilang saja teman anda sering ke situ dan bilang harganya segini. It works, my friend!
Jika urusan menginap sudah selesai, tinggal urusan jalan-jalan. Semua orang Indonesia yang jalan-jalan ke Singapura pasti ke Orchard, walau mungkin hanya melihat-lihat. Tempat wajib lainnya adalah melihat dan berfoto di dekat patung singa (namanya Merlion. Naik MRT menuju Raffles City). Untuk berbelanja yang murah (street shopping) bisa dilakukan di Bugis atau China Town. Sebagai contoh, harga kaos bergambar dengan tulisan “Singapore is a fine city” yang populer itu bisa diperoleh seharga SGD 10 untuk 4 buah t-shirt berbagai ukuran. Salah satu tempat belanja “wajib” lainnya bagi orang Indonesia adalah Mustafa center. Naik MRT, turun di Little India. Pusat belanja yang satu ini sudah tersohor murahnya.. dan yang terpenting, dia buka 24 jam dalam sehari!
Masih banyak lagi segudang tempat menarik lainnya di Singapura. Ada banyak brosur yang bisa anda ambil di berbagai tempat publik di Singapura. Salah satunya ada persis di depan pintu anda keluar dari tempat pemeriksaan barang ketika baru turun dari kapal cepat yang membawa anda dari Batam.
Intinya, untuk jalan-jalan ke Singapura sekarang tidak perlu bermodal banyak. Yang penting tahu harus bagaimana. Oh iya, untuk jalur pulang, kali ini tidak ada salahnya untuk memilih rute langsung dari bandara Changi di Singapura untuk langsung menuju Jakarta. Setidaknya pada saat ini sudah ada beberapa maskapai penerbangan nasional Indonesia yang melayani rute Singapura-Jakarta; Garuda Indonesia, Merpati, Lion Air dan Adam Air. Kalau mau coba pesawat milik maskapai luar negeri seperti KLM, Cathay, Singapore Airlines, dsb juga menarik tuh. Sekali-sekali nyobain pesawat besar! Tiket tentunya sudah pesan dari Jakarta.
Popularity: 100% [?]
alan Hemat Kuala Lumpur – Singapura
July 5, 2007 by rommya
Jika Anda berencana untuk mengunjungi negara Singapura dan Malaysia dalam suatu perjalanan, saya akan membagikan tips untuk melakukan perjalanan dengan cara hemat. Cara tersebut adalah dengan melalui jalan darat, yaitu bus.
Betul, banyak operator bus yang melayani rute KL – Singapura, bahkan banyak juga kelas yang tersedia, mau ekonomi sampai executive tersedia. Namun kalau boleh saya sarankan pilihlah TransNasional. Selain tepat waktu, pelayanannya pun saya rasakan cukup baik. Dan karena tema kita adalah jalan hemat, maka kita memilih bus ekonomi Jangan khawatir, karena bus kelas ekonomi disini tidak sama dengan bus ekonomi di Indonesia. Bus ekonomi ini sudah menggunakan pendingin udara (air conditioner), reclining seat dan ada televisinya pula. Jadi mungkin setara dengan bus executive di Indonesia.
Untuk membeli tiket bus ini dapat dilakukan di terminal bus Puduraya, TransNasional memiliki counter yang lebih bagus dibandingkan operator bus lainnya. Letaknya di Lantai 2, counter no 1-4, telp: +603 – 20703300. Harga tiketnya: RM 30 untuk dewasa, RM 15 untuk anak-anak. Jadwal keberangkatannya adalah : 8:45am, 10:30am, 1:30pm, 5:30pm, 10.30pm,11:59pm.
Sebelum berangkat sopir akan menawarkan kertas form imigrasi kepada penumpang. Ingat, segera minta, dan isi form tersebut selama dalam perjalanan. Bus ini akan berhenti di perjalanan, untuk memberikan kesempatan untuk ke kamar kecil atau untuk membeli makanan / minuman. Ada tempat yang menyediakan toilet (istilah disana tandas) secara gratis ada juga yang menetapkan tarif 20 sen.
Bus akan berhenti di imigrasi Malaysia, barang berharga dibawa turun, sisanya tidak apa tinggal di bus. Siapkan potongan kertas imigrasi yang diisi waktu masuk pertama kali ke Malaysia. Urus ke imigrasi, tapi usahakan jangan berlambat-lambat karena bus menunggu kita. Tidak perlu foto-foto, karena dalam kawasan imigrasi kita dilarang untuk mengambil foto atau video. Setelah selesai, maka kita akan berhenti sekali lagi di imigrasi Singapura. Kali ini bawa semua barang-barang kita, siapkan kertas imigrasi yang sudah diisi. Sekali lagi harus cepat, karena disini ada kemungkinan sopir bus meninggalkan kita. Jika ditinggal, simpan karcis Anda, dan Anda dapat naik bus TransNasional yang berikutnya tanpa perlu membayar lagi. Tapi belum tentu tempat duduknya tersedia. Jadi saran saya, cepat saja dan ikut bus yang sama.
Bus akan berhenti di terminal Lavender di Singapura. Jika Anda membawa barang dan jumlah orang cukup banyak, silahkan panggil taksi, tapi jika hanya sendiri dan tidak membawa koper, Anda bisa memilih bus / MRT sesuai dengan tujuan selanjutnya.
Semoga memberi pencerahan, nanti saya sambung dengan jalan-jalan di Singapura.
Salam jalan jajan hemat.
Tempat iklan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar