Selasa, 13 Oktober 2009

Surat Ke-4 : Mata Kenangan untuk Mas Adi (Shri Tjahyadi Bahrain)

NASIB ORANGTUA SAAT TAK BERDAYA
Jakarta, 9 Oktober 2009
Mas Adi, sayang!
Tadi malam sekitar pukul 01.25 WIB Ayah terbangun untuk Sholat Isya dan Tahajud sekalian. Sempat merenung beberapa saat. Banyak sekali beban yang Ayah pikirkan. Terlintas dan terbayang adalah masa depan anak-anak yang paling utama. Disusul soal Mbah (Ayahnya Ibu) yang kini terbaring sakit di rumah kita, di Giriya Asri – BSD. Melihat itu Ayah sangat sedih memikirkannya. Penyakit yang dideritanya sudah tidak bisa diobati lagi. Semuanya pasrah kepada Allah SWT. Mas Adi bisa bayangkan, Mbah benar-benar tergolek lemah tak berkutik sama sekali. Buang air besar (berak) dan air kecil (kencing) sudah di tempat tidur. Belum lagi selalu muntah-muntah terus. Dan ini tentu sangat merepotkan bagi orang yang sehat. Terutama Mbah Putri kelihatannya pusing dan rungsing. Tak ada yang bantu kecuali Mbah Putri sendiri.
Di sisi lain, keluarga kita, Ayah dan Ibumu termasuk adik-adikmu sudah disibukkan oleh keadaan sehari-hari. Ibumu mengajar dari pagi sampai sore. Begitu juga Ayah. Sementara adik-adikmu punya kegiatan masing-masing. Praktis tidak lagi care pada Mbah. Ini mungkin bukan masalah tidak suka karena jijik, tapi memang sibuk. Tapi andaikatapun demikian, sangat manusiawilah. Terutama Ibu, paling tidak suka dengan muntah. Apalagi adik-adikmu. Kondisi ini membuat ruangan menjadi bau tak sedap. Tak heran kalau mau makan saja, adik-adik cerewet. Sehingga harus ke ruang kamar keluarga dan tidak lagi di ruang makan. Begitulah keadaannya.
Seandainya kondisi ini terjadi pada Ayah dan Ibumu kelak, juga mungkin akan seperti itu. Jarang atau sedikit sekali anak-anak yang peduli pada orangtuanya yang sudah tak berdaya. Apa lagi anak-anak yang lahir serba terpelajar, segalanya minta diurus oleh orang lain dengan cara bayar. Padahal merawat orangtua di saat seperti itu sangatlah berkah dan kewajiban anak-anaknya. Belajar dari pengalaman itu, sekarang Ayah dalam berdo’a selepas sholat ada tambahan kalimat permohonan kepada Allah SWT agar kematian yang akan menjemput Ayah kelak tidak membuat repot orang yang masih hidup. Ayah secara ikhlas sangat sadar karena agar supaya anak-anak dan Ibumu tidak dibuat repot. Dan ini pasti akan dialami semua orang yang hidup dengan mengakhirinya melalui kematian. Jelas sudah, Nak! Bahwa kalau kita lahir merupakan hak, maka kematianpun akan menjadi sebuah kewajiban buat kita.
Ayah sendiri masih punya kewajiban pada orangtua Ayah sendiri yaitu Nenekmu yang sekarang tinggal dengan bibimu di Jakarta. Semoga Ayah diberikan kemampuan dan kekuatan untuk bisa menuntaskan akhir hayat Nenekmu dengan baik dan terhormat. Ayah mohon kepada Allah SWT mudah-mudahan kondisi Ayah sedang dalam baik. Artinya baik secara fisik maupun keuangan. Betapa sangat berdosanya Ayah apabila kelak menelantarkan orangtua sendiri. Mudah-mudahan andaikata kelak ajalnya tiba pada Nenekmu, Ayah berada di sampingnya. Ayah ingin mengantarkan kepergiaan Nenekmu kelak secara mulia dan terhormat di hadapan Allah SWT.
Tentu saja untuk bisa berbakti dan membahagiakan orangtua tidak semudah yang dibayangkan orang. Membahagiakan orangtua harus dimulai dari diri sendiri. Bagaimana mungkin kita bisa berbakti kepada orangtua kalau diri kita sendiri mengalami kesulitan. Banyak orangtua yang terlantar atau ditelantarkan di masa tuanya oleh anak-anaknya karena kehidupan anak-anak tidak baik (susah alias miskin). Ini memang bisa difahami, bagaimana bisa membahagiaan orangtua sedangkan untuk diri dan keluarganya sendiri sudah kerepotan. Dan ini terjadi pada keluarga Ibumu, coba lihat Oom2 dan Tante2mu. Kehidupannya sangat susah dan bnyak membuat beban pikiran orang lain.Yang mungkin agak sedikit mampu adalah keluarga kita dan Tantu Tuti. Tetapi itupun masih juga kesulitan ketika dihadapkan pada persoalan urusan biaya rumah sakit. Jadi secara singkat, jadilah Mas Adi orang yang berhasil, sehingga bisa membahagiakan orangtuamu kelak ketika keduanya sudah tidak lagi berdaya-guna.
Makanya Ayah begitu ngotot menyekolahkan Mas Adi ke STTA. Padahal Ibumu sangat menentang. Cukup pendidikan di KLK Serpong terus bekerja. Memang Ayah tidak sejalan dengan cara pandang dan pikiran Ibumu. Kekuatiran menghadapi tantangan masa depan itulah yang Ayah rasakan. Betapa banyak sarjana-sarjana yang kesulitan mencari kerja. Apalagi para lulusan setingkat STM. Ketika Ayah di NAM Centre, para pelamar kerja hampir setiap hari datang. Ada juga yang pakai katabelece, tapi mau bilang apa, posisi pekerjaan yang memang tidak ada. Malah ada anak buah Ayah lulusan Sarjana Ekonomi (Swasta) bertahun-tahun jadi gardenner atau tukang kebun. Terus ada juga lulusan Sarjana Hukum jadi Houseman (tukang merapikan kamar hotel). Inilah realita. Namun meskipun gambaran itu Ayah sampaikan, tidak lantas Mas Adi putus asa. Semuanya itu juga tergantung karena takdir Allah SWT. Insya Allah! Semua terkait dengan rezeki yang dinafkahkan kepada anak-anaknya.
Di surat terdahulu pernah Ayah kutipkan apa yang dikatakan Anies Baswedan (Rektor Paramadina) bahwa Anak itu adalah pahala kita (orangtuanya) dari Allah SWT. Berarti kalau ada anak-anak itu bermoral tidak baik, kehidupan anaknya susah, dsb, itu berarti ulah orantuanya juga. Bisa juga rezeki yang didapat orangtuanya untuk memberi nafkah keluarganya tidak baik artinya suka mengambil dan memakan yang bukan haknya. Atau bisa juga karena memang ketidak pedulian orangtuanya dalam mengantar dan membesarkan anak-anaknya sampai bisa mandiri. Misalnya membiarkan anak-anaknya tidak berpendidikan formal. Menyuruh anaknya mencari uang sejak kecil. Misalnya berdagang dan mengemis. Padahal anak-anak itu masih menjadi tanggungjawab orangtuanya untuk dibesarkan melalui pendidikan.
Alhamdulillah! Meski dalam keterbatasan, Ayah akan berusaha membiayai Mas Adi sampai selesai sesuai jadwal. Oleh karena keterbatasan waktu dan dana itu, Ayah sangat berharap Mas Adi benar-benar serius kuliahnya. Tidak membiarkan waktu hilang percuma. Jadilah seorang lulusan perguruan tinggi yang benar-benar berisi kepalanya. Tidak asal lulus karena persoalan administratif keuangannya beres. Ayah kepingin Mas Adi bernar-benar mendapatkan ilmunya sehingga bisa diaplikasikan di masyarakat. Tidak heran banyak juga para lulusan perguruan tinggi yang Cuma lulus, sedangkan ilmunya kosong.
Satu hal yang paling penting di samping menguasai ilmu yang Mas Adi dapatkan di STTA adalah juga penguasaan Bahasa Inggris. Ini penting ke depannya untuk membedakan para lulusan perguruan tinggi yang satu dengan lainnya. Penguasaan Bahasa Inggris sangatlah membantu untuk bersaing kelak ketika Mas Adi memburu pekerjaan. Kelemahan para lulusan perguruan tinggi, meskipun pintar adalah Bahasa Inggrisnya yang gagap. Insya Allah! Nanti kalau Ayah ada rezki, setelah Mas Adi menyelesaikan Semenster 3-nya, ikutlah kursus Bahasa Inggris yang baik. Tambahan nilai plusnya Mas Adi ketika harus masuk ke bursa kerja.
Sekian. Terimakasih.
Ayahanda,
Herman

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar