Selasa, 13 Oktober 2009

Surat Ke-5 : Mas Adi, Seriuslah Belajar. Terus atau Berhenti di Tengah Jalan.

KENAPA MAS ADI LALAI AKAN TANGGUNGJAWAB?
Jakarta, 14 Oktober 2009
Mas Adi, sayang!
Beberapa hari ini ketika Ayah sholat malam, (tahajud dan hajat), ada sedikit kontak bathin dengan Mas Adi. Ayah melihat beda ketika memanjatkan do’a. Kesimpulannya, Mas Adi tampaknya belum punya tanggungjawab atas aktivitas sehari-hari. Mengatur waktu dengan benar dan menjadwal antara kepentingan masa depan dengan main. Satu contoh, masih terpantau suka main internet berlebihan, yaitu game. Ayah Cuma ingatkan bila pendidikan di STTA terbengkalai apalagi gagal, maka tidak ampun untuk bisa berbenah apalagi memperbaiki. Jangan biarkan umur Mas Adi terus bertambah dengan sia-sia. Semester I ini adalah ukuran prestasi keseriusan. Pengulangan mata kuliah hanyalah buang-buang waktu. Dan ingat ketika melakukan pengualangan mata kuliah akan bertemu dengan adik-adik kelas Mas Adi. Ini pasti akan dihadapkan pada ujian mental. Akan semakin terpojok pada keterpurukan.
Pendek kata, Ayah tidak akan memberikan ampunan (maaf) sedikitpun atas kelalaian ini. Hanya dua kata yaitu TERUS atau BERHENTI. Penegasan ini perlu Ayah sampaikan karena terlihat dengan jelas ketidak seriusan itu. Dan yang paling penting atas pekerjaan kita sehari-hari adalah masalah perlu tetap menjalankan ibadah sholat lima waktu. Jangan diabaikan. Di usia sekarang ini, benar-benar bukan lagi usia anak-anak atau remaja. Mas Adi sudah dewasa, tidak perlu secara terus-menerus diingatkan. Ingat penyesalahan atau ketidak pedulian kata-kata Ayah dalam surat ini kelak. Ayah Cuma ingin Mas Adi bisa tegak berdiri kokoh di atas kaki sendiri. Tidak menjadi beban dan sampah masyarakat.
Ayah sangat tahu, kalau Mas Adi sholatnya juga tikdak beres. Banyak nongkrong di Warnet. Alasan cari materi kuliah. Padahal cuma main game. Ingat sekarang bukan anak-anak lagi. Beberapa tahun ke depan, umur akan sampai pada usia 25 tahun terus merangkak sampai 30 tahun dan akhirnya sampai sampai 40 tahun. Usia produktif adalah antara 25 s/d 30 tahun. Setelah itu 31 s/d 38 rawan. Di atas itu yaitu 40 tahun tamat kesempata itu. Yang ada hanya sia-sia belaka. Kelihatannya, Mas Adi adalah orang suka ngegampangin. Bagaimana nanti? Cara berpikir seperti ini tak ubahnya seperti Monyet, binatang yang rakus dan tak peduli akan hari esok atau hari depan.
Ayah lihat, Mas Adi tidak ada kapok-kapoknya. Waktu di Ponpes Assaalam tidak serius. Begitu juga di SMK, banyak mainnya ketimbang serius. Pikirkan!
Kekuatiran ini terus berlanjut setelah Mas Adi di STTA. Padahal saat ini bukan masa remaja lagi, apalagi anak-anak. Sudah benar-benar dewasa dan harus menentukan masa depan yang tinggal satu sampai dengan dua tahun ke depan. Kecemasan ini benar-benar menghantui Ayah. Kalau saja ini menjadi kenyataan, maka Ibu pasti akan menyalahkan Ayah. Buang-buang waktu dan uang saja. Asal Mas Adi tahu kenapa Ayah begitu ngotot untuk menyekolahkan Mas Adi sampai ke perguruan tinggi, ini bukan apa-apa karena sebuah kekuatiran atas masa depan. Sekali lagi coba Mas Adi lihat, Saudara-saudara Ibumu sekarang benar-benar dihadapkan pada banyak masalah dalam menjalankan roda rumah tangganya. Akankan seperti itu? Tentu saja tidak. Makanya Ayah begitu ngotot menyekolahkan Mas Mas Adi ke STTA meskipun dengan susah payah dan jungkir balik membiayainya. Jangan sia-siakan waktu! Sekali lalai, maka tamatlah riwayat Mas Adi untuk menuntaskan kuliah di STTA. Berhenti di tengah jalan.
Sekian. Terimakasih.
Ayahanda,
Herman

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar