Selasa, 13 Oktober 2009

Surat Kedua : Dari Ayah untuk Mas Adi (Shri Tjahyadi Baharain)

NASEHAT UNTUK MEMANFAATKAN WAKTU KULIA DENGAN BAIK
Jakarta, 30 September 2009
Mas Adi, sayang!
Surat ini adalah yang kedua Ayah kirimkan ke Mas Adi. Hanya beberapa hari dari surat pertama. Mungkin Mas Adi agak repot membacanya dan bisa membuyarkan kosentrasi belajar. Namun tetap harus Ayah tulis dan kirimkan. Tidak mudah memang untuk membuat surat. Kalau pikiran lagi enak, bisa berlembar-lembar membuatnya. Begitu sebaliknya, apabila pikiran lagi kusut dan banyak masalah, satu kalimatpun kesulitan untuk menuliskannya. Mau tidak mau, harus Ayah tuliskan dan sampaikan pada Mas Adi. Semoga Mas Adi mau menerima dan membacanya.
Mengurutkan pikiran Ayah di surat pertama, ada satu hal yang perlu ditekankan lagi kepada Mas Adi yaitu soal faktor ketepatan waktu menyelesaikan studi di STTA. Kenapa harus tepat waktu sesuai jadwal? Hal ini terkait soal usia Ayah yang saat ini sudah menginjak separuh abad atau 50 tahun. Kata orang usia-usia sebegitu cukup rawan. Mengejar karier sudah tidak mungkin lagi dilakukan. Apalagi ambisi di luar batas kemampuannya? Kalau memperhatikan ukuran pegawai negeri, tentu 5 tahun lagi Ayah akan pensiun.
Di swasta pun demikian. Dan itu merupakan batas usia produktif seseorang dalam melakukan aktivitas. Biasanya menjelang usia 40 tahun ke atas, sebagai pekerja di perusahaan swasta, orang hanya berusaha menjaga kemapanan dalam bekerja. Rata-rata dalam menjaga kemapanan itu orang akan bekerja dengan tidak atau menghindari melakukan kesalahan sekecil apapun. Menghindari benturan atau konplik dengan sesama pekerja atau atasan. Memendam rasa iri maupun menyembunyikan kekesalan apabila tidak diperlakukan tidak adil oleh atasan. Tentunya agar tidak terkena PHK dan aman sampai usia pensiun.
Mas Adi bisa bayangkan, jika seseorang mengalami persoalan dengan pekerjaan di usia 40 tahun ke atas (artinya terkena PHK), tentu akan kesulitan mencari tempat kerja pengganti. Sudah tergeser oleh tenaga yang lebih muda, baik itu dari sisi pendidikan maupun kepandaiannya. Sedangkan untuk beralih profesi dari mental pekerja ke wiraswasta, sangat sulit dilakukan dalam waktu instan. Artinya perlu waktu untuk merubah mental seseorang dari pegawai ke wiraswasta. Filosofinya sangat berbeda jauh. Sifat ketekunan, kesabaran dan keuletan dalam melakukan suatu bidang pekerjaan memang sama, tetapi area atau objek yang dihadapinya tentu saja sangat berbeda jauh. (lain waktu perlu ditulis dan diceritakan tersendiri pengalaman dan perjalanan hidup Ayah ketika meniti karier/bekerja di beberapa perusahaan).
Mas Adi, sayang! Di usia 50 tahun dan bekerja di perusahaan yang belum jelas ke depannya, mendorong Ayah harus mengingatkan Mas Adi. Pertarungannya cukup berat. Ayah tidak ingin studi Mas Adi di STTA terbengkalai atau terhenti sama sekali. Jangan sampai peristiwa ini terulang kembali. Mungkin Mas Adi ingat menjelang akhir pendidikan di MTs, saat itu tahun ketiga Mas Adi mondok di Pondok Pesantren Assaalaam Surakarta, tiba-tiba Ayah terkena PHK. Ayah mencoba merintis berniaga pakaian dengan Saudaramu di Prambanan, ternyata tidak jalan. Saudara kita itu tidak amanah. Barang habis, uangnya tidak disetorkan ke Ayah. Alasannya klasik, orang-orang yang berhutang atas barang kita yang dijalankan oleh Saudara kita itu tidak bayar alias ngemplang. Belum lagi yang di Bali. Sama juga ngemplang. Modal Ayah amblas.
Tidak lama berselang, musibah datang lagi. Mobil AVP kita disita polisi. Singkatnya Ayah tertipu. Hampir 2 tahun 5 bulan Ayah menganggur tanpa menghasilan. Mengurus mobil yang disita polisi banyak mengeluarkan biaya dan energi. Tanpa hasil. Akhirnya kita ikhlaskan. Alhamdulillah! Tak lama kemudian atas kemurahan Allah SWT kepada kita yang ikhlas menerima cobaan itu, persoalan bisa terlupakan. Semuanya jadi pelajaran yang amat berharga. Badaipun bisa berlalu, meskipun kalau teringat lagi rasa sakit hati sulit terobati. Minimal kita mencoba untuk tidak melakukan perbuatan yang menyebabkan orang sakit hati.
Mas Adi sayang! Bayangkan sebagai kepala rumah tangga tanpa penghasilan sepeserpun telah menjadikan Ayah malu dan tidak terhormat di tengah-tengah keluarga dan masyarakat. Ayah menjadi minder dan sering mengurung diri di rumah. Yang selalu Ayah pikirkan adalah masa depan anak-anak. Termasuk nasib Mas Adi di Solo. Dari pintu ke pintu mencoba mengetuk hati teman-teman lama Ayah. Mereka hanya melipur hati Ayah dengan kalimat-kalimat indah tetapi sesungguhnya pahit. Misalnya ada seorang teman dengan begitu baik dan manis berkata : “Pak! Kalau ada kesulitan datang ke sini, nggak usah sungkan-sungkan, nanti saya bantu.”
Apa yang terjadi, begitu Ayah datang menemui dikantornya lagi Jl. Sudirman, disuruhnya Ayah menunggu berjam-jam. Seharian Ayah menunggu, sampai-sampai ngantuk, jenuh dan jengkel. Akhirnya, Ayah pulang tanpa bertemu dengannya. Di perjalanan Ayah baru sadar, bahwa sebenarnya teman Ayah itu hanya basa-basi dan menolak untuk ditemuinya. Sebenarnya itu merupakan penolakannya pada Ayah. Walaupun demikian kita tidak boleh berpangku tangan untuk membantu orang yang sedang mengalami kesulitan meskipun orang itu tidak pernah kita kenal.
Beruntung dengan susah payah dan agak terseok-seok, Mas Adi bisa selesai di Solo. Sebenarnya kalau posisi Ayah tidak dalam kondisi tanpa pekerjaan, Mas Adi bisa melanjutkan di Solo. Bisa melanjutkan mondok atau di SMU Negeri 1 Solo.Terus terang dan jujur, bahwa pertimbangannya adalah masalah keuangan keluarga yang amat memprihatinkan. Memang faktornya amat banyak, khususnya mengenai prestasi belajar Mas Adi itu sendiri. Ayah melihat selama mondok tidak ada prestasi yang menggembirakan. Padahal kalau prestasinya baik, Ayah sudah merencanakan untuk meminta beasiswa. Tapi karena tidak bagus, Ayah urungkan.
Selesainya di pondok pun penuh pengorbanan yang amat besar bagi keluarga. Agar bisa tamat (selesai), banyak pengeluaran ekstra yang tidak terduga. Mas Adi, kan tahu? Sebenarnya awal-awal Kelas 3 Mts, harus dikeluarkan dari pondok. Tapi karena para Ustadz dan ustadzah sungkan dengan Ayah dan Ibu, termasuk pembelaan keluarga Ibu Ustadzah Sirikit dan Ustadz Farhan, Mas Adi bisa atau diperbolehkan meneruskan sampai selesai.
Nah, berbekal pengalaman itu, Ayah berharap Mas Adi tidak lagi menyia-nyiakan waktu studi di STTA. Bagi Ayah, tahun pertama dan tahun kedua belum terlalu berat, tapi nanti tahun ketiga pasti akan kedodoran. Soalnya Mas Eky juga akan kuliah. Tentu perlu biaya. Oleh karena itu Ayah berharap jika Mas Adi bisa selesai tepat waktu dan lanjut bekerja, Ayah dan Ibu pasti ringan. Bukan tidak mungkin kelak Mas Adi bisa juga bantu Mas Oka dan Inggit. Sekali lagi dengan keterbatasan Ayah dalam posisi bekerja saat ini, kiranya Mas Adi bisa menyelesaikan studi tepat waktu.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan jalan kepada kita sekalian. Amin..
Ayahanda,
Suherman

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar