Selasa, 13 Oktober 2009

Surat Ketiga : Kepada Mas Adi (Shri Tjahyadi Bahrain)

MANFAATKAN DAN ATUR KEUANGAN SECARA TEPAT DAN BENAR
Jakarta, 8 Oktober 2009
Mas Adi, sayang!
Tanggal 5 Oktober 2009, Ayah ke BTN untuk transfer uang Rp. 500.000.- buat persediaan. Yang penting Mas Adi harus tetap hemat dan menggunakan uang seperlunya sesuai kebutuhan. Memang sulit, tapi harus dibiasakan hidup mengatur dan menata sendiri.
Banyak orang yang sukses karena ditempa oleh ketidak enakan. Artinya bersusah payah. Coba Mas Adi baca buku biografi orang ternama. Kebanyakan pemimpin itu lahir dari orang biasa-biasa saja, malah ada yang dari bawah sama sekali. Biasanya pemimpin tipe seperti itu akan berakar dan sukses. Beda kalau anak-anak yang lahir dan terbiasa serba enak. Teman Ayah bilang anak-anak yang lahir di hamparan karpet merah, rata-rata begitu orangtuanya jatuh atau mati, mereka terperangkap pada persoalan yang cukup sakit. Ayah jadi teringat teman Ayah dulu di SMA Negeri 15 Jakarta, Bapaknya seorang pejabat penting di perusahaan telekomunikasi. Hidup berkecukupan dan sehari-hari pulang-pergi diantar pakai mobil atau dia pakai motor vespa (waktu itu motor sejenis itu amat langka).
Setelah 19 tahun kemudian, apa yang terjadi? Suatu hari di NAM Centre, tempat Ayah bekerja saat itu. Di basement hotel, saat Ayah sidak ke Bagian Loudry dan Pomec, berpapasan dengan teman Ayah itu. Tentunya kaget dan dia pun kaget. Lalu Ayah ajak ke ruang kerja Ayah di Lantai 1. Banyak cerita dan obrolan ketika masa-masa di SMA Negeri 15 Jakarta dulu. Ayah bilang padanya masa di SMA Negeri 15 dulu, bukan apa-apa. Seorang pelajar yang tidak dikenal banyak orang. Termasuk anak bawang. Tapi Ayah punya kelebihan yaitu bisa menulis cerpen dan puisi. Pernah dimuat di majalah anak-anak. Dan sering dapat pujian dari Guru Bahasa Indonesia Ayah yaitu Pak Sunaryo (Beliau sudah almarhum). Kalau karangan Ayah dimuat, suka digunting dan di tempel di Madin Sekolah. Malah tulisan Ayah di Harian Pelita tentang Kebangkitan Nasional, juga digunting dan ditempel di Madin Sekolah. Tidak hanya itu pada saat upacara Hari Senin, waktu itu Kepala Sekolahnya Joelioes Joesoef (maaf jika tulisan nama salah) diiumumkan dan Ayah disuruh ke depan disuruh bercerita apa yang ditulis di Harian Pelita tersebut. Tentu saja Ayah bangga. Besoknya mulai banyak teman sekaolah yang mulai memperhatikan. Baik seangkatan maupun adik-adik kelas.
Kembali ke teman Ayah tadi, ternyata dia adalah pegawai rendahan di salah satu perusahaan pemasok kebutuhan hotel (restoran). Dia agak malu pada Ayah, karena tahu latar belakangnya. Dia puji-puji atas kesuksesan Ayah. Lalu bercerita kehidupannya saat ini, katanya rumahnya kontrak bulanan di Tambun Bekasi. Istilahnya rumah petak.
Istrinya sendiri hanya Ibu rumah tangga biasa. Anaknya 4 belum ada yang mandiri/bekerja. Anak pertama dan kedua sudah lulus SMU lima tahun yang lalu. Ujung-ujungnya minta masuk kerja di hotel. Tentu saja Ayah bantu dan anak pertamanya dimasukan di Bagian Houseman. Senangnya bukan main. Anaknya baik dan tahu diri bagaimana sulitnya cari kerja. Banyak Ayah nasehati sambil sekali-sekali cerita masa-masa lalu di SMA Negeri 15 bersama orangtuanya. Syukurlah! Kemarin Ayah tanya ke NAM Centre, anak teman Ayah masih bekerja dengan baik dan dapat promosi. Syukurlah!
Dari cerita itu, Ayah berharap kepada Mas Adi tidak boleh berkecil hati karena diri kita ini secara fisik tidak bagus (ganteng). Bersyukurlah! Atas apa yang diberikan Tuhan YME kepada kita. Dulu Ayah sering mendapatkan ejekan banyak teman. Tapi toh, Tuhan YME benar-benar maha adil dan maha melihat serta pemurah bagi ummatnya yang senantiasa berusaha memperbaiki diri dan tentu harus beramal kebaikan/soleh kepada orang yang membutuhkan. Mas Adi harus ingat, berhasil tidaknya seseorang itu bukan karena orang lain, tetapi dari dirinya sendiri. Mau bangkit atau terpuruk. Jalan menuju ke arah perbaikan itu sebenarnya dibukakan Tuhan YME lebar-lebar. Insya Allah! Kalau kita berusaha pasti ada jalan. Memang sih ada juga yang berhasil karena orang tua, tapi tidak banyak. Dan andaikatapun ada, mereka berdirinya tidak kokoh dan kuat jika dibanding dari hasil jerih payah sendiri. Coba Mas Adi renungkan apa yang dikatakan Omm Pram (Pramoedya Ananta Toer). Barang siapa yang memperoleh sesuatu (rizki maupun jabatan atau kehormatan) secara susah payah, maka hasilnya akan kekal (abadi). Sebaliknya bila yang diperoleh dengan mudah, apalagi menyikut orang, maka akan cepat hilang. Bukan tidak mungkin ujung-ujung jatuh terkapar pada kehinaan.
Terkait cerita di atas, Ayah jadi ingat atas apa yang dikatakan oleh Anies Baswedan (Rektor Paramadina) saat diwawancara TV Swasta. Dia bilang apa yang ada dan dihasilkan oleh kita sesungguhnya buah amal. Termasuk juga anak-anak yang soleh, pintar dan berhasil dalam hidupnya merupakan buah dari amal perbuatan kita. Oleh karena itu carilah rizki yang halal melalui usaha dan upaya kerja keras dengan tidak merampas hak serta kepentingan orang lain. Insya Allah! Hidup menjadi teman dan akan senantiasa mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWT.
Sejauh ini Ayah begitu merasakan. Saat-saat sulit apapun yang dihadapi, Ayah serahkan kepada Allah SWT sebagai pemilik, pemelihara dan pembimbing diri Ayah. Tidak pernah Ayah mengutuki atau menyumpahi orang yang berbuat tidak baik pada diri Ayah. Introspeksi! Siapa tahu memang kita yang salah yang membuat orang itu menjadi tidak suka. Mungkin Mas Adi masih ingat ketika mobil APV kita diambil polisi dari rumah. Ayah berbusa-busa bercerita soal bagaimana mobil itu kita dapatkan dengan susah payah. Tetap saja polisi itu berpihak kepada yang punya duit. Ayah sakit sekali kita dituduh penadah dan mau dipenjarakan. Saat itu posisi Ayah masih pesakitan seorang pegawai terkena PHK (tanpa kerja).
Tapi Ayah sadar bahwa ini cobaan dari Allah SWT yang harus dihadapi. Ayah dan Ibumu berpikir positif ke depan tanpa harus terkungkung oleh masalah itu. Syukurlah! Kebenaran adalah mutiara. Tak lama kemudian, kita diberi rizki untuk bisa membeli sebuah mobil baru (Avanza). Ayah juga mulai bekerja kembali meskipun penghasilannya jauh dari cukup. Namun itu sementara saja dan tak lama kemudian semuanya bisa berlalu. Dan kita pun mendapat pelajaran berharga. Misalnya kita harus membeli barang di tempat yang memang tempatnya. Kata pepatah teliti sebelum membeli.
Akhir cerita dari kasus itu, suatu kali Ayah ketemu Si Pemilik Show Room itu. Bangkrut banyak ditipu orang, katanya. Hidupnya sebatang karang. Istri dan anak-anaknya pergi meninggalkannya. Dia malu dan tak sepongah dulu. Termasuk juga polisi yang tidak berpihak pada yang benar. Polisi yang mengambil mobil Ayah, meninggal tidak terhormat. Satunya seorang reserse berpangkat kapten terkena masalah, sehingga kariernya mandeg. Ayah coba ketemu beliau di Polres Jakarta Barat, dia sudah tidak ada lagi. Katanya sudah dimutasi ke Polda. Semua itu untuk minta kejujuran saja, agar Ayah bisa memaafkan sekaligus melupakannya. Di Polda pun tidak ketemu. Tapi sudahlah kita sudah maafkan dan semoga dia diberi hidayah. Amin...
Sekian.
Salam, Ayahanda
Herman

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar