Jumat, 10 Juli 2009

SBY Sebagai Atasan, Sahabat, dan Mentor (4)

Oleh : Dr. Dino Patti Djalal

Dalam membantu Presiden SBY, saya dan staf lainnya tidak lepas dari blunder. Istana penuh dengan cerita-cerita lucu mengenai berbagai blunder yang dilakukan oleh staf Presiden, dan mungkin suatu hari akan ada buku khusus mengenai topik ini.
Salah satu blunder yang selalu saya ingat adalah ketika suatu hari di bulan Oktober 2006, Presiden SBY bersiap-siap berangkat dari Guilin Ke Nanning untuk menghadiri peringatan 30 tahun hubungan persahabatan ASEAN – Cina. Seluruh rombongan Presiden diminta sudah di lobby Hotel di waktu yang ditentukan. Saya sendiri waktu itu sudah berada di lobby, namun karena panggilan alam, saya terpaksa harus ke toilet sebentar, tidak lebih dari 3 menit. Ketika saya keluar, saya langsung kaget karena lobby yang tadinya penuh orang kini sudah kosong: rombongan Presiden sudah berangkat ke airport. Saya beserta 3 orang lain yang ketinggalan konvoi segera mencoba menyusul, namun gagal karena tidak ada mobil polisi yang membantu menerobos kemacetan lalu-lintas kota. Melalui telepon, saya mendapat kabar dari protokol Istana bahwa Presiden menginstruksikan untuk menunggu 10 menit, dan kalau masih belum datang, maka akan ditinggal. Sayangnya, jalanan di tengah kota Guilin macet berat, dan ketika kami akhirnya tiba di airport, pesawat Presiden sudah lepas landas. Akhirnya tidak ada pilihan lain: kami segera menyewa mobil, dan setelah ngebut semalaman penuh akhirnya kami tiba di penginapan Presiden di Nanning.
Keesokan paginya, saya langsung melapor pada Presiden. Tadinya, saya mengira Presiden akan marah, namun beliau tertawa terbahak-bahak mendengar pengalaman saya, begitu pula seluruh Paspampres yang di sekitar beliau. Dan sejak itu, ada istilah baru: kalau ada yang terlambat, ia terancam ‘di-Dinokan,” yang berarti ditinggal rombongan.
Walaupun sebagai bawahan, saya selalu menyesuaikan diri dengan Presiden SBY, tidak semuanya saya lakukan dengan sempurna. Suatu contoh : menyanyi.
Saya, sama dengan Menlu Hassan Wirayuda, tidak bisa menyanyi dan tidak ingin untuk bisa menyanyi. Bagi saya pribadi, ini menimbulkan sedikit masalah karena di lingkungan Istana, semua orang suka menyanyi, termasuk Paspampres. Presiden SBY sendiri sekali-sekali mengadakan jamming session di Wisma Negara atau Istana Negara dengan kolega dan staf yang sebagian besar memang gemar menyanyi. Ini adalah cara SBY untuk secara sederhana dan murah membebaskan perangkat kepresidenan dari ketegangan dan bahkan stress karena beban tugas yang padat dan bertubi-tubi. Saya biasanya ikut menyoraki, namun menghindar kalau dipanggil ke panggung.
Suatu ketika, SBY mengadakan suatu acara makan malam santai di Wisma Negara yang dihadiri staf, kolega dan keluarga SBY. Satu per satu tamu dipanggil untuk maju ke panggung menyanyikan lagu pilihan mereka. Andi Malarangeng, yang memang gemar menyanyi, seperti biasa langsung berubah menjadi Harvey Malaiholo. Tidak dinyana, Presiden memanggil nama saya untuk naik ke panggung. Kalau ditunjuk Presiden, aturan protokolernya gamblang: tidak bisa menolak.
Karenanya, dengan hati tak menentu, saya naik panggung, dan menyanyikan lagu Ada band berjudul “Masih”—satu-satunya lagu yang saya agak hafal liriknya. Entah mengapa , saya tidak hanya menyanyi: saya setengah berteriak, dengan suara false campur cempreng, dan berjoget di luar batas kewajaran. Saya melihat istri saya mencoba bersembunyi, mungkin takut ditanya tamu apakah kenal dengan orang yang sedang berjingkrak di panggung. Ketika selesai menyanyi, hadirin bertepuk tangan, setengah terpaksa setengah kasihan. Saya turun panggung dengan perasaan dengan perasaan mual di perut. SBY kemudian mengambil mikrofon dan mengatakan: “Hadirin, harap maklum, Saudara Dino ini suka bekerja keras siang dan malam, tugasnya berat sekali. Jadi kalau dia nyanyi seperti tadi, itu pelepasan dia dari stress yang sangat berat. Kasih tepuk tangan sekali lagi.”
Setelah malam itu, SBY tidak pernah lagi meminta saya bernyanyi. Sebagai Staf Khusus, saya harus menjaga jarak dengan Presiden SBY. Namun ada momen-momen dimana Presiden SBY terus menunjukkan pershabatan yang menyentuh hati kepada saya dan keluarga.
Ketika istri saya berulang tahun bulan Januari 2005, saya terpaksa tidak bisa hadir karena harus menghadiri rapat tsunami yang dipimpin Presiden SBY di Istana sampai malam hari. Ketika rapat selesai, saya pamitan dengan Presiden dan secara sekilas menyampaikan mengenai hari ulang tahun Rosa. Mendengar itu, Presiden SBY termenung sebentar dan meminta ajudan menelepon Rosa. Begitu tersambung, beliau sendiri mengucapkan selamat ulang tahun sembari meminta maaf karena suaminya harus melaksanakan tugas negara. Ketika saya pulang ke rumah malam itu, istri saya menyatakan bahwa telepon dari SBY itu adalah hadiah ulang tahun yang paling istimewa seumur hidupnya.
Di sini, saya juga teringat suatu insiden yang terjadi di pertengahan tahun 2006. Saya dan istri yang sedang hamil (anak kedua) 8 bulan ikut dalam konvoi Presiden dari Tampaksiring menuju Ubud. Di mobil kami juga ada Andi Mallarangeng dan ali Mochtar Ngabalin.
Di sekitar Kuta, mobil van kami ditabrak bus dari belakang, sehingga belakang mobil menjadi ringsek total. Untuk saya dan istri duduk di kursi barisan tengah—kalau duduk di kursi belakang pasti sudah fatal. Istri saya terjungkal dan mengalami shock berat, dan merasa ada yang tidak beres dengan kandungannya. Saya langsung melarikan istri ke rumah sakit Sanglah, sementara konvoi Presiden terus melaju ke Ubud. Melalui Paspampres dan Sekretaris Militer, saya minta agar kecelakaan saya tidak diberitahu ke Presiden karena saya tahu beliau banyak pikiran. Namun ternyata ada juga yang memberitahukan Presiden SBY dan Ibu Ani setibanya di Ubud.
Toidak berapa lama kemudian, datanglah dokter Presiden ke kamar rawat istri saya di rumah sakit. “Saya dikirim Presiden untuk mengecek Mba Rosa,” katanya. Setelah memeriksa kondisi istri dan kandungannya, Dokter Presiden melapor kepada Presiden, dan tetap menemani bersama saya dan istri malam itu. Setelah itu, datang sejumlah Paspampres yang datang menjaga kamar dimana saya menginap dan juga yang menjaga lobby, sembari terus menawarkana apakah ada yang bisa dibantu.
Alhamdulillah, malam itu, kami beruntung karena istri saya selamat dan kandungannya juga tampak tetap normal, walaupun harus terus kontrol ke dokter. Beberapa waktu kemudian, Keanu, anak kedua dan putra pertama saya, lahir sehat tanpa cacat.
Namun bagi saya, perhatian pribadi SBY dan Ibu Ani terhadap saya dan istri (dan kandungan) sangat menyentuh hati, dan tidak akan saya lupakan. Memang dalam ilmu kepemimpinan, loyalitas antara atasan dan anak buah berlaku dua arah.
Sebagai orang yang saya tuakan dan saksi untuk perkawinan saya. SBY selalu dengan senang hati memberi nama tengah pada anak-anak saya. Alexa diberi nama dengan saraswati. Keanu diberi nama tengah Dwibuwana. Ketika anak saya yang ketiga—Chloe—lahir, beliau mengatakan: “Din, maaf saya punya peraturan hanya bisa memberi dua nama pada setiap keluarga.”
SBY memang sangat konsisten dengan prinsipnya walaupun dengan orang lingkaran dalam sekalipun. Semenjak itu, saya agak kebingungan mencari nama tengah yang tepat untuk Chloe. Saya teringat setelah bergelut panjang mencari nama yang pas dari puluhan nama yang terkumpul, istri saya sambil bercanda sempat usulkan: “Saya ketemu nama bagus!Chloe Susilowati Djalal!”Saampai sekarang saya masih belum yakin mengenai nama itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar