Kamis, 16 Juli 2009

Menghitung Peluang Menteri PKS

16/07/09 11:58
Menghitung Peluang Menteri PKS
Ahluwalia
INILAH.COM, Jakarta – PKS sudah menyodorkan sejumlah nama kepada presiden terpilih untuk dijadikan menteri di kabinet baru. Ketua Fraksi PKS di DPR, Mahfudz Siddiq, menyatakan pengajuan nama itu sesuai dengan kontrak politik antara PKS dan SBY. Tapi, akankah SBY memilih politisi muda bergelar doktor dari PKS itu?
PKS memang dikenal sebagai parpol yang memiliki sejumlah doktor dalam usia muda. Mereka bahkan diharapkan akan berperan bagi tumbuhnya semangat belajar di kalangan Islam yang berpikiran terbuka, open-minded.
“Apa pun keputusan Pak SBY, kami akan menerima dengan ikhlas,” kata Adhyaksa Dault, doktor lulusan IPB dan tokoh muda PKS yang kini menjabat sebagai Menegpora.
Senada dengannya, politisi PKS lainnya juga bersikap legowo. “PKS sepenuhnya memberikan kesempatan kepada Pak SBY untuk menentukan preferensinya dalam memilih para menteri kabinet dari PKS. Sikap kami tulus untuk itu,” kata Zulkieflimansyah PhD, alumni pasca sarjana Glasgow, Inggris, dan Harvard University, Cambridge, AS.
Sejatinya PKS tidak dalam posisi meminta jatah kursi kabinet kepada SBY. Mahfudz mengungkapkan, adalah hak prerogatif SBY sebagai presiden terpilih untuk merekrut berapa banyak dan siapa saja nama yang dipilih untuk masuk ke dalam kabinetnya nanti.
“Semua terserah kepada Pak SBY. Siapa dan berapa yang dipilih, itu urusan beliau,” katanya.
Dari delapan nama yang konon diajukan PKS itu, di dalamnya sangat mungkin terdapat politisi senior Dr Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR dan doktor lulusan Universitas Madinah, Saudi ) dan Tifatul Sembiring (Presiden PKS).
Nama lain yang populer dan sangat mungkin diajukan PKS adalah Dr Adhyaksa Dault (Menegpora), Zulkieflimansyah PhD (dosen pascasarjana FE-UI dan anggota DPR PKS), Suswono (anggota FPKS), Suharna Surapranata (Ketua MPP PKS), Salim Segaf Al-Jufri (Dubes Arab Saudi), Irwan Prayitno (anggota FPKS), Suripto (anggota FPKS), dan Kemal Stamboel (Ketua Dewan Pakar PKS).
Di kalangan kader muda PKS di parlemen, hanya Zulkieflimansyah yang meraih MA dan PhD di Kerajaan Inggris dan memperoleh pendalaman studi di Harvard University, AS, sehingga dianggap sebagai teknokrat muda PKS masa depan. Sementara Dr Adhyaksa Dault, yang meraih gelar doktor (PhD) ilmu kelautan di IPB, adalah tipikal solidarity maker yang memiliki basis pengaruh di kalangan nasionalis dan muslim.
Bagi SBY, jelas ada kesulitan untuk memilih menteri terbaik guna membentuk kabinet profesional. “PKS memiliki banyak doktor. Jika SBY ingin merekrut politisi PKS, maka nama-nama kompeten dan bervisi dengan pendidikan terbaik (S-3) itu, bisalah dijadikan acuan meski tak mutlak,” kata Airlangga Pribadi, pengamat politik dari Universitas Airlangga.
Sulit membayangkan bagaimana Yudhoyono menyusun kabinetnya mendatang secara profesional dan proporsional seperti dijanjikan kepada 24 partai politik mitra koalisinya. Padahal anggota mitra koalisi pendukung SBY-Boediono memegang teguh janji proporsional dalam susunan kabinet itu.
Dalam konteks PKS, agar tak memusingkan, ada baiknya SBY yang juga doktor (PhD) lulusan IPB, memilih menteri dari PKS dengan basis profesional, pendidikan, dan kompetensi. “Setidaknya para doktor muda di PKS itu adalah cerminan semangat belajar di kalangan politisi santri tersebut. Ini bisa memperkuat citra kabinet profesional,” kata seorang analis politik. [P1]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar