Kamis, 16 Juli 2009

Kecurigaan pada Intervendi AS pada Pilpres 2009

16/07/09 14:27
Kecurigaan pada Intervensi AS
R Ferdian Andi R & Vina Ramitha
Barack Obama-Susilo Bambang Yudhoyono
INILAH.COM, Jakarta – Ucapan selamat Presiden AS Barack Obama kepada SBY memicu polemik di ranah politik domestik. Pasalnya, hingga kini KPU belum mengumumkan hasil pilpres. Selain itu peserta Pilpres 2009 masih mengumpulkan data-data pelangaran pemilu. Pernyataan Gedung Putih yang terlalu dini itu makin memicu kecurigaan bahwa AS di belakang proses politik Indonesia selama ini.
Hubungan bilateral AS-Indonesia memang bukan hubungan biasa. Apalagi, ketika AS di bawah kepemimpinan Barack Obama, hubungan dua negara terasa semakin intim. Setidaknya dalam beberapa kesempatan, Obama selalu memuji Indonesia. Terakhir, pujian dan simpati Obama itu ditunjukkan melalui ucapan selamat kepada SBY dan masyarakat Indonesia atas proses demokrasi 8 Juli lalu.
Sebenarnya pernyataan Obama sangat normatif. Apalagi, tidak hanya Obama satu-satunya kepala negara yang menyampaikan selamat kepada SBY. Sejumlah pimpinan negara sahabat pun menyampaikan selamat khusus kepada SBY. Ini karena hitung cepat memiliki referensi yang mendapat perhatian lebih, baik oleh media domestik maupun media internasional.
Menurut Atase Pers Kedubes AS, Tristam Perry, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dengan ucapan selamat dari pemerintah AS kepada pemerintah Indonesia dan SBY.
“Tidak ada indikasi apa-apa. Ucapan semacam ini standar saja. Lagi pula, saya yakin banyak pemerintahan lain yang memberikan ucapan serupa kepada Indonesia dan SBY. Kami sama sekali tidak terlibat dalam pemilu Indonesia. AS dan seluruh pejabatnya hanya penonton,” tandas Perry.
Perry menegaskan, ucapan Obama dengan memberi selamat atas pelaksanaan pemilu yang dianggap aman (peaceful election), sama sekali tidak terkait dengan masalah indikasi kecurangan yang sedang diselidiki Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Dalam hal itu, pihaknya tidak akan mengomentari perihal dugaan kecurangan pemilu. Menurut dia, yang terpenting, pemerintah AS berharap hubungan baik RI-AS bisa terus berjalan.
Sebagaimana dimaklumi, pasangan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto saat ini sedang mengumpulkan bukti-bukti pelanggaran dan kecurangan Pilpres 8 Juli lalu. Ucapan selamat Obama itu dinilai akan berdampak serius dalam proses penegakan pemilu yang jujur dan adil. Di samping itu, KPU baru mengumumkan hasil resmi penghitungan manual pada akhir Juli mendatang.
Sekjen DPP PDIP Pramono Anung menilai, pernyataan Obama itu terlalu dini dilakukan. Masalahnya, hingga kini proses politik sedang berjalan. “Proses politik sedang berjalan, sehingga ucapan resmi dilakukan setelahnya. Too early-lah kalau sekarang,” kata Pram usai Rakernas VI PDIP di kantor DPP PDIP, Jakarta, Rabu (15/7).
Menurut Pram, tidak bisa disamakan proses pemilu AS dengan Indonesia. Pelaksanaan pemilu di di AS sudah mengunakan teknologi komputer secara maksimal, sedangkan di Indonesia masih menggunakan cara manual. “Bahkan ada satu kabupaten di Papua yang belum melakukan pemungutan suara,” ujarnya.
Rakernas VI PDIP yang digelar Rabu (15/7) juga merekomendasikan bahwa Pemilu 2009, baik pemilu legsilatif maupun pemilu presiden, tidak berlangsung langsung, umum, bebas, dan rahasia (luber) serta jujur dan adil (jurdil). Rekomendasi PDIP ini seperti mementahkan apresiasi Obama terhadap proses pemilu di Indonesia.
Secara terpisah, pengamat politik internasional dari CSIS Bantarto Bandoro juga menilai sulit menyimpulkan bahwa pernyataan Obama mengukuhkan asumsi bahwa proses politik di tanah air, termasuk Pilpres 8 Juli, adalah hasil konspirasi negara AS.
“Saya tidak melihat ada konspirasi dari AS untuk bekerja sama dengan elemen politik di negeri ini. Karena ini sangat dibutuhkan bukti yang lebih kuat, apakah mereka terlibat atau tidak,” kata Bantarto.
Meski begitu Bantarto menilai ada ketidakwajaran dari pernyataan AS dan Obama terhadap proses Pilpres 2009. Menurut dia, lazimnya ucapan selamat dari pemimpin negara lainnya atas proses pemilu, dilakukan setelah ada pengumuman resmi dari pemerintah yang bersangkutan. “Ucapan selamat Obama ke SBY di luar kebiasaan. Selamat kemenangan untuk SBY diucapkan begitu cepat oleh Obama,” ujarnya.
Di atas semua itu, bagi Bantarto, Indonesia dan AS memang memiliki hubungan saling ketergantungan yang sangat tinggi. Salah satunya, melalui kemitraan komprehensif AS-Indonesia. Bagaimanapun, pernyataan Obama jelas berpengaruh dalam proses politik domestik Indonesia. [P1]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar