Kamis, 16 Juli 2009

Catatan Redaksi : Momentum Golkar untuk Tampil Beda

Catatan Redaksi
Momentum Golkar untuk Tampil Beda
Senin, 13 Juli 2009 - 16:02 wib
Setidaknya ada tiga persoalan sekarang yang melibat Partai Beringin. Yaitu, kekalahan meraih suara maksimal di pemilihan legislatif dan pemilihan presiden, isu musyawarah nasional luar biasa (munaslub), dan persoalan positioning usai kegagalan yang berturut-turut itu.Isu munaslub mencuat karena sebagian elit Golkar merasa tidak puas dengan kepemimpinan Jusuf Kalla. Tiga tokoh yang disebut-sebut mendorong adanya munaslub itu adalah Agung Laksono, Aburizal Bakrie, dan Akbar Tandjung.Dari ketiga tokoh ini yang terang-terangan berani mengkritik Jusuf Kalla adalah Akbar Tandjung. Mantan Ketua Umum Partai Golkar ini mengungkit bahwa Jusuf Kalla tidak memenuhi target suara sebesar 30% dan hanya mendapat 14 persen di pemilu lalu. Padahal di pemilu 2004, Golkar meraih 21 %.Sementara itu Agung Laksono lebih halus menyerang. Saat penentuan calon presiden Golkar, Ketua DPR ini mendorong-dorong agar Golkar merapat ke SBY dan Demokrat dan mengusung kembali duet SBY-Kalla. Aburizal Bakrie tak terdengar suaranya dan lebih sering di belakang layar.Jusuf Kalla kembali terpuruk di bawah kejayaan SBY pada pemilihan presiden 8 Juli kemarin. Meski banyak kalangan menganggap popularitas Jusuf Kalla diperkirakan meningkat karena sering tampil segar dan lugas pada acara debat capres, namun kenyataan di bawah hasil hitung cepat atau quick count, Jusuf Kalla yang berpasangan dengan Wiranto kalah telak.Lalu, konsekuensi yang tentu tidak mengenakkan bagi Golkar saat ini adalah kesempatan luas untuk terlempar dari kekuasaan, karena menyeberang dan memutuskan untuk bertarung dengan SBY, Demokrat, serta partai koalisinya. Untuk bisa bersatu lagi dengan mantan musuh, tentu perlu kemurahan hati para pemenang dan obat penahan rasa malu dengan dosis tinggi bagi elit Golkar.Tapi pintu kekuasaan bukan sudah tertutup bagi Golkar. Adanya unsur Golkar yang bakal diterima kembali berada di barisan pemerintahan SBY mendatang, saat ini masih terbuka, dan bukan hal yang mustahil.Indikasinya yang paling mudah tentu adalah obrolan SBY dan Jusuf Kalla melalui telepon pada Kamis pekan lalu. SBY membuat Jusuf Kalla tersanjung dengan menyatakan bahwa Jusuf Kalla masih dibutuhkan negara. Lalu timbul dugaan SBY siap memboyong kembali Jusuf Kalla sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden di pemerintahannya nanti. Inilah secuil kemurahan hati pemenang yang bisa 'menolong' Golkar.Ketua DPP Golkar yang selama ini dekat dengan SBY, Muladi menyambut wacana kembalinya Golkar ke pemerintahan. Muladi tidak peduli meski Golkar pernah berbeda sudut di ring pilpres dengan Demokrat. "Golkar memang tidak punya tradisi oposisi," kata Muladi dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu. Muladi tentu tidak sendiri, sejumlah elit partai yang menjadi pembantu SBY di kabinet nampaknya sebelas dua belas alias lebih memilih kembali merapat ke kekuasaan yang hampir pasti jatuh ke genggaman SBY.Pil dosis antimalu mudah saja ditelan agar bisa dengan santai masuk kembali ke barisan SBY. Namun reaksi keras tentu bakal bermunculan dari penyokong SBY khususnya yang dari awal menentang kehadiran Golkar di kubu SBY, yaitu PKS. Belum lagi sejumlah kader yang merasa penting untuk membela harga diri partai.Partai Golkar penting untuk membuktikan diri bahwa Golkar adalah Partai baru yang telah meninggalkan warisan Orde Baru dan siap memajukan bangsa, seperti motonya yang sering didengungkan pascareformasi.Menjelang pemerintahan 2009-2014 adalah titik bersejarah bagi Partai Golkar untuk memberikan nuansa yang berbeda dalam berpolitik, dan menyingkirkan anggapan bahwa Golkar adalah partai yang hanya berisi kader-kader oportunis yang haus kekuasaan.Namun itu masih tergantung siapa yang dapat merebut kendali partai. Kubu yang ingin merapat ke pemerintah, atau yang ingin mencoba jalan baru sebagai oposisi. Jadi tidaknya munaslub bisa jadi menentukan jawaban atas pertanyaan itu. (fit) OKezone

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar