Selasa, 11 Agustus 2009

Minggu, 09/08/2009 14:15 WIB
Panglima: TNI Ikut Bantu Operasi Teroris di Temanggung
Ari Saputra - detikNews

Jakarta - Aksi penyergapan terhadap teroris yang diduga Noordin M Top di Temanggung, Jawa Tengah ternyata juga melibatkan aparat dari TNI. Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso mengatakan peran TNI dalam penyergapan tersebut berada di ring dua.

"Di Temanggung kita dapat tugas bantu ring 2," ungkap Djoko Santoso di sela-sela HUT TNI ke-64 di Silang Monas Jakarta, Minggu (9/8/2009).

Sesaat setelah orang yang diduga Noordin M Top itu tertangkap dengan kondisi tewas, Djoko langsung menyampaikan selamat melalui SMS kepada Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri.

"Kemarin saya sudah kirim SMS ke Kapolri, semoga hasil baik ini bisa terus dilanjutkan. TNI senantiasa siap membantu langkah-langkah baik itu pendeteksian, pencegahan maupun penindakan," papar Djoko.

Terkait keterlibatan TNI dalam aksi penyergapan ini, menurut Djoko sudah diatur dalam UU. Selain itu kerjasama antara TNI dan Polri dalam memerangi terorisme juga sudah diatur dalam kesepakatan antara Kapolda dan Pangdam di masing-masing wilayah.

"Pelibatan sudah diatur sesuai UU. Lebih detail lagi dijabarkan antara Kapolda dan Pangdam, mereka buat kesepakatan-kesepakatan sendiri untuk atasi terorisme dan menghadapi tugas-tugas pengamanan yang dipegang tertib sipil karena keamanan jadi ujung tombak," papar mantan KSAD ini.

Terkait banyaknya aksi teror yang menyebar, Djoko menilai UU Keamanan Nasional (Kamnas) sangat diperlukan. "UU Kamnas jelas diperlukan. Sekarang dalam proses penyusunan. Kalau aturan pelibatan sudah ada dan kita latihan bulan Oktober. Kita akan adakan latihan bersama dengan Polri tentang antiteror, pengamanan VVIP dan sebagainya," pungkasnya.

(yid/iy)
Minggu, 09/08/2009 14:30 WIB
Pelaku Bom Marriott
Dani Pelaku Bom Bunuh Diri, Jamaah Masjid Prihatin
Arifin Asydhad - detikNews

Jakarta - Keterlibatan Dani Dwi Permana dalam kasus bom JW Marriott Jakarta membuat syok teman-temannya dan juga jamaah Masjid As-Surur, tempat dani beraktivitas selama ini. Mereka sedih sekaligus prihatin.

"Kita semua prihatin dan mari kita selalu mengamalkan perintah Allah dan Rasul dengan cara yang benar," kata Ketua DKM Masjid As-Surur, H Syuhailmaidi Syukur saat memberikan sambutan dalam acara 'Tarhib Ramadan' di Masjid As Surur, Gugus Candraloka, Perumahan Telaga Kahuripan, Kabupaten Bogor, Minggu (9/8/2009).

Dani Dwi Permana (18) memang selama ini aktif bergiat di masjid ini. Dia aktif di Ikatan Remaja Masjid, juga aktif di Karang Taruna Candraloka. Selama ini, Dani yang baru lulus SMA Juni 2009 lalu, dikenal sebagai anak yang baik, supel, dan suka membantu.

Meski dalam suasana prihatin, Syuhailmaidi mengajak semua jamaah untuk tetap bersemangat dalam bergiat dan menyambut Ramadan. Ada kalanya tiap orang khilaf. Karena itu, dia mengajak jamaah untuk sering datang ke masjid, sehingga bisa saling mengingatkan bila terjadi kekhilafan.

Sekretaris RW 10 Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Wachju, yang juga memberi sambutan dalam acara itu juga menyatakan keprihatinannya atas adanya keterlibatan Dani yang merupakan salah satu jamaah di masjid itu. "Karena itu, mari kita tingkatkan kewaspadaan, agar lingkungan kita aman," kata dia.

Keprihatinan mendalam juga terlihat pada para remaja yang aktif di remaja masjid. "Saya sangat kaget," kata salah seorang sahabat Dani, yang sering mengumandangkan azan di masjid bercat hijau itu.

Teman-teman Dani lainnya juga tampak syok. Bahkan, ada di antara mereka yang menangis saat mendengar berita bahwa Dani disebut Kapolri sebagai pelaku bom bunuh diri Marriott.

"Orangnya baik banget," ujar teman Dani lainnya, yang meminta tidak disebut namanya. Dia tidak bisa melupakan kebaikan Dani selama ini. "Dani pekerja keras dan suka menolong. Disuruh minta tolong apa pun dia mau," kata dia.

Sekretaris RW 10 Wachju juga memiliki penilaian yang sama. "Orangnya mau apa saja. Saya pernah minta tolong sebarkan surat undangan RW, dia dengan gesit melakukannya," ujar dia.

Di mata jamaah Masjid As Surur, Dani tidak punya tampang untuk berani melakukan peledakan bom. Karena itu, banyak di antara mereka menduga Dani sebagai korban dalam konspirasi besar komplotan terorisme.

"Saya kok lebih yakin, dia adalah korban, bisa saja dibohongi untuk melakukan sesuatu yang lain, padahal dia tidak mengetahui kalau itu bom," ujar salah seorang jamaah.

Dani merupakan sosok remaja yang inklusif. Memang, dalam lima bulan terakhir, dia sangat dekat dengan pria bernama Saifuddin Jaelani, seorang pendatang baru yang menjadi ustad di kompleks itu.

Saefudin datang ke perumahan Kahuripan satu tahun lalu dan telah menghilang sejak 3 bulan lalu. Saifuddin Jaelani inilah yang diduga pria berinisial SJ yang merupakan murid DR Azahari dan perekrut Dani.
(asy/yid)
Minggu, 09/08/2009 14:32 WIB
Malaysia Tunggu Kepastian Noordin M Top Tewas
Iin Yumiyanti - detikNews

Jakarta - Malaysia Tunggu Kepastian Noordin M Top Tewas

Apakah Noordin M Top tewas? Kepastian tentang tewasnya pimpinan teroris yang paling diburu ini kini ditunggu-tunggu, termasuk oleh kepolisian Malaysia.

Kepala Kepolisian Diraja Malaysia Tan Sri Musa Hassan mengatakan polisi Malaysia siap memberikan bantuan untuk Indonesia jika pria yang tewas dalam perburuan teroris di Temanggung, Jawa Tengah itu benar Noordin M Top yang adalah warga Malaysia.

"Saya tidak bisa mengkonfirmasi (apakah Noordin benar tewas). Saya belum mendapat jawaban balasan dari Indonesia," kata Musa.

"Meski demikian kita tetap terus berkomunikasi dan akan membantu termasuk dalam mengidentifikasi jenazah," kata Musa seperti dilansir Bernama.

Sejumlah kalangan meragukan Noordin M Top telah tewas dalam baku tembak dengan Densus di Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (8/8/2009) kemarin. Keraguan antara lain dismapaikan pengamat intelijen Dinno Cressbon, Direktur International Crisis Group (ICG) Sidney Jones dan Kepala Centre for Violence and Terrorism Singapura, Rohan Gunaratna.

"Saya kira kemungkinan besar itu bukan dia (Noordin). Bukannya saya yakin itu bukan dia, tetapi kemungkinan besar bukan," kata Sidney Jones saat dihubungi detikcom, Minggu (9/8/2009).

(iy/yid)
Minggu, 09/08/2009 14:59 WIB
Penggrebekan Teroris
PM Australia Sampaikan Terima Kasih ke Indonesia
Moksa Hutasoit - detikNews

Jakarta - Densus 88 berhasil menangkap dan menewaskan beberapa anggota teroris di 2 tempat yang berbeda. PM Australia, Kevin Rudd, pun mengucapkan terima kasih atas tindakan pemerintah Indonesia dalam melacak jaringan teroris Noordin M Top.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Indonesia atas apa yang mereka lakukan selama ini," kata Rudd seperti dilansir dari ABC.net.au, Minggu (9/8/2009)

Seperti diberitakan, Densus 88 melakukan penyerbuan ke sebuah rumah di Temanggung, Jawa Tengah. Polisi berhasil menewaskan satu orang yang diduga teroris.

Di Jatiasih, Bekasi, Densus 88 juga berhasil menangkap seseorang yang diduga teroris dan menggagalkan upaya pengeboman yang telah dipersiapkan.

Rudd mengaku tidak dapat menjelaskan apakah eksekusi tiga terpidana mati Bom Bali justru menjadi penyebab adanya ledakan bom di Jakarta. Ia juga enggan mengomentari apakah bom di Hotel Ritz-Carltons dan JW Marriott sebagai aksi balas dendam.

"Tentunya aksi teroris didorong oleh berbagai faktor. Kuncinya, kerja sama kami dengan Indonesia semakin kuat, komprehensif, dan setiap tindakan yang diambil bertanggung jawab untuk penanganan terois," jelasnya.
(mok/iy)
Minggu, 09/08/2009 15:40 WIB
Penangkapan Teroris
Mabes: Amir Abdillah Ditangkap di Jakut, Ahmad Fery masih Diburu
Chazizah Gusnita - detikNews

Jakarta - Penangkapan teroris di Jakarta Utara, muncul dua nama yang serupa tapi tak sama. Selain Suryana alias Yayan alias Gepeng (28), polisi menangkap Amir Abdillah atau Amir Ibrohim.

"Di Koja itu Amir Abdillah," ujar Kabid Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol I Ketut Untung Yoga Ana kepada detikcom, Minggu (9/8/2009).

Pernyataan Yoga berbeda dengan keterangan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD) dan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Wahyono sebelumnya.

BHD, Sabtu (8/8/2009) pukul 05.00 WIB, menjelaskan yang ditangkap di Koja, Jakarta Utara adalah Amir Abdillah dalam penggerebekan di Jatiasih Bekasi. Amir diidentifikasi sebagai pemesan kamar 1808 di JW Marriott.

"Ditangkap di Jatiasih ini pelaku Amir Abdillah adalah yang memesan kamar 1808," kata BHD di lokasi penggerebekan, Perumahan Puri Nusapala, Blok D 12 RT 4 RW 12, Sabtu (8/8/2009).

Tak lama dari itu, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Wahyono menyatakan kalau Amir Ibrohim ditangkap di kawasan Jakarta Utara, Sabtu (8/8/2009).

Yoga menegaskan kalau yang ditangkap di Koja Jakarta Utara adalah Yayan dan Amir Abdillah. Sedangkan Ahmad Fery masih diburu polisi.

"Ahmad Fery yang ngontrakin rumah itu (Koja). Dia belum ditangkap masih diburu. Amir Abdillah tugasnya dia ngawasin rumah kontrakan itu," tegasnya.

Dalam jumpa pers di Mabes Polri tadi malam, BHD menyebutkan nama Ibrahim ditangkap pada 5 Agustus di Jakarta Utara.

"Kita tangkap Ibrahim di Jakarta Utara. Dia pengangguran tapi pernah kerja di Hotel Mulia dan direkrut oleh SJ atau AT yang masih jadi kejaran kita. Dia juga yang rekrut 2 pelaku bom," kata BHD.

Sejumlah media memberitahukan hal yang berbeda seperti Amir Abdillah dikatakan merupakan orang yang sama dengan Ahmad Fery yang sudah ditangkap pada Kamis (6/8/2009) di kawasan Semper Jakarta Utara.

(gus/iy)
Minggu, 09/08/2009 15:40 WIB
Noordin M Top Tewas?
PM Australia Akan Tanyakan Langsung ke SBY
Moksa Hutasoit - detikNews

Jakarta - Identitas anggota teroris yang tewas di Temanggung, Jawa Tengah masih misterius. PM Australia, Kevin Rudd akan segera menghubungi Presiden SBY untuk menanyakan langsung identitas orang yang tewas.

"Masih tidak jelas siapa yang tewas dan siapa yang ditahan," kata Rudd seperti dikutip dari ABC.net.au, Minggu (9/8/2009).

Tidak ada informasi resmi soal identitas orang yang tewas di Temanggung. Semula orang tersebut disebut-sebut adalah Noordin M Top.

Kemudian foto yang diduga sebagai teroris yang tewas beredar di internet. Namun wajahnya sangat jauh berbeda dengan Noordin.

"Kita sedang menunggu konfirmasi lebih lanjut dari yang berwenang di Indonesia," jelas Rudd.

(mok/mok)
Minggu, 09/08/2009 15:45 WIB
Bom Marriott dan Ritz-Carlton
Kisah Masuk Lewat Jendela di Rumah Saifuddin Jaelani
Arifin Asydhad - detikNews

Kontrakan Saifudin Jaelani (Foto: Arifin A/detikcom)
Jakarta - Kisah masuk rumah lewat jendela, bukan lewat pintu, tidak hanya dilakukan Ahmad Ferry. Saifuddin Jaelani (SJ) juga pernah melakukan hal yang sama. Tamu yang diundangnya juga terpaksa masuk rumah lewat jendela.

Ahmad Ferry, tersangka kasus bom Marriott dan Ritz-Carlton, sering tepergok oleh tetangganya masuk lewat rumah melalui jendela saat tinggal di perumahan Puri Nusapala, Jatiasih, Bekasi. Warga sempat menanyakan hal itu, dan Ferry menjawab bahwa dirinya ketinggalan kunci.

Nah, suatu saat Saifuddin Jaelani juga pernah tepergok melakukan hal yang sama saat tinggal di RT 03 RW 10 Gugus Candraloka, Perumahan Telaga Kahuripan. Kisah ini sudah terjadi sekitar lima bulan lalu.

Salah seorang warga Candraloka bercerita kepada detikcom dirinya pernah diundang Saifuddin ke rumahnya. Warga yang tidak mau ditulis namanya ini mengaku diundang terkait bisnis obat herbal dan pengobatan bekam yang dijalani Saifuddin.

"Saat itu saya datang, dan saya dipersilakan masuk lewat jendela," kata dia saat berbincang-bincang dengan detikcom, Minggu (9/8/2009).

Saat itu, dia sempat bertanya kepada Saifuddin mengapa harus lewat jendela. Saifuddin menjawab dirinya kehilangan kunci. Karena saat itu tidak menaruh curiga apa pun terhadap Saifuddin, akhirnya dia pun masuk rumah lewat jendela.

Dan saat masuk, dia melihat Dani Dwi Permana, remaja yang disebut polisi sebagai pelaku bom bunuh diri di Marriott, ada di dalam rumah itu. Dalam pertemuan itu, Saifuddin memperlihatkan produk-produk herbal. Saifuddin juga memperlihatkan beberapa buku, termasuk buku soal Imam Samdura.

Saifuddin sempat juga menawarkan kepada dirinya belajar ilmu herbal ke Malaysia. "Dia menawarkan saya ke Malaysia, karena dia punya adik bernama Sahid yang punya klinik herbal di Malaysia," ujar dia.

Menurut dia, tidak ada hal mencurigakan sebenarnya dalam pertemuan saat itu. "Hanya saja saya sempat bertanya dalam hati tentang buku Imam Samudra saja. Saya tidak mencurigai sedikit pun karena Ustad Saifuddin orang yang supel, baik, dan bergaul juga dengan masyarakat di sini ," ujar dia.

Bila melihat kisah Ahmad Ferry dan Saifuddin tentang masuk rumah lewat jendela, mungkin ada sesuatu di balik itu. Apalagi, polisi menemukan bom jebakan di balik pintu di rumah kontrakan Ahmad Ferry dkk di Jatiasih itu.

Di kompleks Candraloka, Saifuddin dikenal sebagai ustad dan menjadi imam di Masjid As-Surur. Dia juga sering bergaul dengan remaja-remaja masjid dan sering berceramah. Saifuddin juga sering mengajak rihlah para remaja itu.

Kapolri sudah menyebut SJ sebagai buron polisi. SJ, menurut Kapolri, sebagai murid Dr Azahari dan perekrut Dani untuk menjadi pelaku bom bunuh diri. Informasi yang didapatkan detikcom, SJ tersebut memang Saifuddin Jaelani. Dia telah menghilang dari Perumahan Telaga Kahuripan sejak tiga bulan lalu.
(asy/iy)
Minggu, 09/08/2009 15:45 WIB
Bangun Rumah, Tukang Batu Temukan Granat Nanas Aktif
Ari Saputra - detikNews

Jakarta - Seorang tukang batu, Rahmat (30) yang sedang membuat pondasi rumah di atas tanah seluas lapangan bola voli tiba-tiba saja terkejut. Rahmat melihat ujung paculnya memantik benda keras. Rahmat pun curiga dan mendekati benda itu.

"Saya langsung hentikan pekerjaan, saya perhatikan mirip granat," ucap
Rahmat di lokasi kejadian, Jl Raya Veteran RT 1/1, Bintaro, Pesanggrahan,
Jaksel, Minggu (9/8/2009).

Tak mau gegabah, Rahmat meneruskan temuan ini ke Polsek Pesanggrahan. Setengah jam kemudian, tim gegana Polda Metro Jaya langsung mengamankan
granat aktif tersebut.

"Akan kita selidiki granat aktif ini. Kemungkinan peninggalan perang kemerdekaan," kata Kepala Tim I Gegana Polda Metro Jaya, Iptu Agus Dwi yang memimpin tim tersebut.

Usai diamankan, lokasi yang tadinya ramai dikerumuni warga kini mulai sepi.
Sementara pemilik tanah dan bangunan, Suci Indahsari tidak terlihat dilokasi.

(Ari/gus)
Minggu, 09/08/2009 16:15 WIB
TNI Waspadai Serangan Bom ke Cikeas
Ari Saputra - detikNews

Jakarta - TNI akan meningkatkan pengamanan terhadap presiden dan wakil presiden. Hal itu dilakukan untuk merespons perkembangan dan menyesuaikan dengan ancaman yang ada.

"Itu otomatislah (pengamanan di kediaman SBY di Cikeas diperketat), tren situasi otomatis akan ada penyesuaian terhadap langkah-langkah pengamanan baik itu untuk VVIP maupun pengamanan pada umumnya. Isu bom Cikeas, ya kita waspada,"ungkap Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso di sela-sela perayaan HUT ke-64 TNI di Silang Monas, Jakarta, Minggu (9/8/2009).

Sayangnya Djoko menolak menjelaskan penambahan kekuatan pengamanan terhadap pihak-pihak yang memiliki pengamanan VVIP. Karena hal itu untuk menjaga strategi yang akan dijalankan."Saya tidak akan jelaskan (penambahan dan strategi), nanti orang tahu," paparnya.

Terkait peningkatan pengamanan dan deteksi, Djoko menjelaskan bahwa sistem deteksi dan pengintaian dilakukan melalui sistem komando teritorial (Koter). Namun, aparat TNI juga tetap merangkul masyarakat untuk mengantisipasi aksi-aksi serangan teror ini.

"Kita lakukan melalui satuan-satuan Koter, satuan intelijen. Untuk pencegahannya, kita lakukan bersama masyarakat seperti kita berikan pemahaman tentang ancaman teror dan bagamana menghadapinya," pungkasnya.

(yid/nrl)
Minggu, 09/08/2009 16:26 WIB
Penggerebekan di Jatiasih
Ayah Eko Peyang Tiba-tiba Pingsan
Amanda Ferdina - detikNews

Jakarta - Agus Purwanto benar-benar syok. Ayah Eko Joko Sarjono (Eko Peyang), tersangka teroris yang tertembak di Jatiasih, Bekasi itu tiba-tiba saja pingsan saat akan menuju Masjid Mabes Polri.

Ceritanya, sekitar pukul 15.40 WIB, Minggu (9/8/2009), Agus keluar dari Bareskrim Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan. Agus berjalan beriringan dengan Slamet Widodo, ayah Air Setiawan yang juga tewas tertembak di Bekasi, pengacara dan sejumlah kerabat.

Keluar dari gedung Bareskrim, wartawan langsung mencegat orang tua kedua tersangka teroris itu untuk wawancara. Pertanyaan wartawan hanya diladeni oleh pengacaranya, Endro Sudarsono. Endro memberi keterangan sekitar 15 menit.

Setelah memberikan keterangan, orang tua Air dan Eko itu menuju ke Masjid Mabes Polri. Wartawan tetap mengikuti orangtua yang tengah berduka itu dan mengambil foto mereka. Di tengah aksi wartawan mengambil foto tersebut, tiba-tiba saja Agus jatuh pingsan.

Sejumlah kerabat langsung menyokong tubuh Agus dan memapahnya agar bisa berjalan. Tidak dinyana, Agus jatuh pingsan lagi. Ia pun kemudian diberi minum air putih. Kepala ayah Eko itu juga disiram air.

"Ini kecapaian, soalnya dari tadi malam," kata salah satu kerabat. Agus dan Slamet telah tiba di Mabes Polri pada pukul 08.00 WIB untuk melihat jenazah Air dan Eko yang dilaporkan tewas tertembak di Jatiasih. Mereka berangkat dari Solo, Jawa Tengah pukul 17.30 WIB, Sabtu (8/8/2009).

Setelah agak segar, Agus dibawa ke mobil untuk istirahat. Mobil pun segera meninggalkan Mabes Polri. Mereka membatalkan salat di masjid Mabes Polri.

(iy/yid)
Minggu, 09/08/2009 16:44 WIB
Penggerebekan di Jatiasih
Warga Sering Temui Perilaku Aneh Penghuni Rumah D 12
Reza Yunanto - detikNews

Jakarta - Polisi menggerebek rumah teroris di Blok D 12, Perumahan Nusapala, Jatiasih, Bekasi. Bagi warga sekitar, perilaku penghuni di rumah tersebut memang berbeda dari biasanya.

"Saya pernah melihat orang di rumah D 12 itu keluar malam-malam pakai topi, tapi agak ditutupi hingga matanya, pakai kemeja, celana panjangnya agak sedikit digulung," kata Wilma yang kediamannya hanya berjarak 6 rumah dari D 12, Minggu (9/8/2009).

Wilma tidak dapat memastikan apakah itu memang Ahmad Fery, tersangka teroris yang telah ditangkap oleh Densus 88 atau bukan. Namun pria tersebut perawakannya sedikit gemuk serta jalannya tegak.

"Tapi kepalanya agak sedikit tertunduk," paparnya.

Beberapa hari sebelum penyerbuan, jelas Wilma, rumah tersebut didatangi oleh 2-3 pria. Mereka semua memakai topi dengan gaya yang sama.

Bagi Wilma, penghuni di rumah tersebut memang tidak terlalu dekat dengan warga sekitar. Mobil pick up yang berada di depan rumah tersebut juga tampak tertutup.

"Saya juga agak sedikit aneh, melihat mobil pick up di depan rumah selalu ditutup, plat nomornya ditutup kardus," ungkapnya.

(mok/iy)
Minggu, 09/08/2009 16:52 WIB
Panglima TNI Minta Publik Sabar Soal Siapa Teroris Temanggung
Ari Saputra - detikNews

Jakarta - Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso meminta masyarakat bersabar dalam menunggu informasi siapa sesunguhnya teroris di Temanggung yang tewas dalam penyergapan tim Densus 88. Djoko tidak mau menjawab pertanyaan wartawan mengenai siapa sesungguhnya pria tewas tersebut.

"Jadi itu Noordin atau bukan? Tunggu saja konfirmasi Polri. Kita semua di luar ring. Agar kita semua waspada dan mempersiapkan diri dalam menghadapi ancaman teror," kata Djoko Santoso di sela-sela HUT ke-64 TNI di Silang Monas, Jakarta, Minggu (9/8/2009).

Menurut Djoko, TNI selalu membuat analisa dan prediksi-prediksi sesuai dengan data-data yang ada di lapangan."Kita selalu buat analisa dan prediksi yang harus sesuai dengan data-data yang ada," jelasnya.

Terkait proses penangkapan yang memakan waktu sampai 18 jam, menurut Djoko hal itu mungkin disebabkan karena polisi ingin menangkap teroris yang diduga Noordin M Top itu dalam keadaan hidup.

"Mungkin karena polisi ingin Noordin hidup. (Penangkapan) sesuai kebutuhan, bisa sampai tiga hari juga bisa ditungguin," paparnya.

(Ari/yiMinggu, 09/08/2009 16:52 WIB
Panglima TNI Minta Publik Sabar Soal Siapa Teroris Temanggung
Ari Saputra - detikNews

Jakarta - Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso meminta masyarakat bersabar dalam menunggu informasi siapa sesunguhnya teroris di Temanggung yang tewas dalam penyergapan tim Densus 88. Djoko tidak mau menjawab pertanyaan wartawan mengenai siapa sesungguhnya pria tewas tersebut.

"Jadi itu Noordin atau bukan? Tunggu saja konfirmasi Polri. Kita semua di luar ring. Agar kita semua waspada dan mempersiapkan diri dalam menghadapi ancaman teror," kata Djoko Santoso di sela-sela HUT ke-64 TNI di Silang Monas, Jakarta, Minggu (9/8/2009).

Menurut Djoko, TNI selalu membuat analisa dan prediksi-prediksi sesuai dengan data-data yang ada di lapangan."Kita selalu buat analisa dan prediksi yang harus sesuai dengan data-data yang ada," jelasnya.

Terkait proses penangkapan yang memakan waktu sampai 18 jam, menurut Djoko hal itu mungkin disebabkan karena polisi ingin menangkap teroris yang diduga Noordin M Top itu dalam keadaan hidup.

"Mungkin karena polisi ingin Noordin hidup. (Penangkapan) sesuai kebutuhan, bisa sampai tiga hari juga bisa ditungguin," paparnya.

(Ari/yid)
Minggu, 09/08/2009 17:10 WIB
Belum Diizinkan Lihat Jenazah, Keluarga Air dan Eko Mengeluh
Elvan Dany Sutrisno - detikNews

Jakarta - Setelah menunggu berjam-jam, keluarga Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono (Eko Peyang) masih belum diizinkan untuk melihat jenazah anak mereka. Prosedur yang cukup panjang di Mabes Polri membuat keluarga dan pengacara mengeluh kerepotan.

"Belum diizinkan dari Mabes untuk melihat jenazah. Belum diperbolehkan sama
forensik kata anggota Densus 88. Lama, kalau setengah jam lagi tidak
diberikan saya akan pulang dulu saja," ujar Pengacara Keluarga, Muhammad Kurniawan saat dihubungi wartawan, Minggu (9/8/2009).

Jenazah Air dan Eko diotopsi di RS Polri Soekanto Kramat Jati. Keluarga sejak pagi sudah meminta izin kepada Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji. Namun hingga kini keluarga masih menunggu di Mabes Polri.

Kurniawan yang juga merupakan kuasa hukum keluarga Arman (anak buah Azhari) yang tewas saat penangkapan Azhari tahun 2003 silam merasa prosedur izin Air dan Eko berbeda dengan Arman.

"Prosedurnya dulu waktu saya ambil Arman (anak buah Azhari), saya kesini
ditemui Satgas Pom piket. Setelah itu diberikan surat untuk ke RS. Setelah
itu ke Mabes. Disana disiapkan petinya baru boleh dibawa pulang," ujarnya.

Kurniawan menjelaskan bahwa keluarga menginginkan jenazah Air dan Eko bisa segera dibawa pulang. Sehingga bisa langsung dimakamkan.

"Ini maksudnya keluarga mau ambil sekalian kalau cocok. Ini disuruh nunggu
sebentar. Makanya saya tunggu di bawah. Kalau kelamaan saya tinggal saja,"
pungkasnya kesal.

(vanMinggu, 09/08/2009 17:11 WIB
Noordin M Top Tewas?
Foto Beredar dan Teroris Tewas di Temanggung Hanya Mirip di Kalung
Moksa Hutasoit - detikNews

Jakarta - Mabes Polri memang belum mengeluarkan pernyataan apa pun mengenai identitas teroris yang tewas di Temanggung, Jawa Tengah. Namun foto yang diduga sebagai teroris tersebut telah beredar.

Dalam foto yang juga didapat detikcom, tampak seorang pria tewas dengan kepala terbelah mulai dari hidung ke atas. Sedangkan hidung ke bawah masih menyatu. Mata pria yang berambut ikal itu pun terbelalak.

Pria naas tersebut mengenakan kaos oblong berwarna coklat, sementara di lehernya terdapat kalung berwarna hitam.

Uniknya, pria tersebut memiliki wajah lonjong dengan struktur rahang yang tegas. Tidak seperti wajah Noordin yang bulat, sebagaimana sketsa disebarkan pihak kepolisian.

Bagi pengamat intelijen, Dynno Chressbon, foto tersebut bukanlah teroris yang tewas di Temanggung. Dynno yang mengaku telah melihat foto asli itu pun menerangkan perbedaan antara foto yang ia lihat dengan yang beredar.

"Yang saya lihat, foto ini (beredar di wartawan dan sejumlah kalangan) terlihat wajahnya seperti dibacok orang dan tidak pernah saya lihat sebelumnya. Wajah di foto itu terlalu horor," paparnya lewat pesan pendek yang diterima detikcom, Minggu (9/8/2009),

Lantas, foto siapa itu? "Kemiripannya cuma sama-sama pakai kalung di leher," pungkasnya.

(mok/iy)
Minggu, 09/08/2009 17:30 WIB
TNI Minta Masyarakat Proaktif Perangi Terorisme
Ari Saputra - detikNews

Jakarta - Massifnya ancaman teror di Indonesia akhir-akhir ini meminta semua pihak harus waspada. Pangdam Jaya Mayjen TNI Darpito Pudyastungkoro meminta semua pihak termasuk masyarakat dan pemda untuk bersama-sama proaktif memerangi terorisme.

"Semakin orang mengatakan kondusif, kita aparat harus semakin waspada. Kedua untuk masalah keamanan bukan semata-mata tanggung jawab aparat keamanan. Tapi juga masyarakat luas, apakah TNI, Polri, pemda dan masyarakat harus bersama-sama," kata Mayjen TNI Darpito Pudyastungkoro.

Menurut Darpito, semua pihak harus bergandeng tangan untuk bersama-sama memerangi terorisme yang marak akhir-akir ini di Indonesia. Tanpa kebersamaan itu, pasti perang terhadap terorisme akan menghadapi kendala meskipun TNI juga sudah memiliki kewenangan untuk memerangi terorisme.

"Kita harus memeranginya dengan bergandeng tangan. Peran TNI kan kalian tahu, kita bukan hanya perang tapi untuk penanganan teroris," paparnya.

Terkait koordinasi teknis yang sudah dilakukan TNI, menurut Darpito hal itu sudah dilakukan. TNI selama ini sudah melakukan koordinasi dengan aparat kepolisian dalam hal penanganan dan pencegahan aksi-aksi terorisme.

"Tentara itu harus tetap berlatih. Dalam kondisi apapun harus selalu siaga. Tidak ada mati suri. Kita tetap dan pelaksanaannnya kita back up. Kita bantu Polri sesuai dengan UU. Saya dengan Polda menjalin kerjasama yang baik sampai Babinsa," paparnya.

"Yang jelas kalau kita punya info, tidak kita simpan sendiri. Kita juga share ke Polri. Sebaliknya juga dengan Polda, kita juga hidupkan Kominda, kita aktifkan lagi," pungkasnya.

(yid/iy)
Minggu, 09/08/2009 17:30 WIB
TNI Minta Masyarakat Proaktif Perangi Terorisme
Ari Saputra - detikNews

Jakarta - Massifnya ancaman teror di Indonesia akhir-akhir ini meminta semua pihak harus waspada. Pangdam Jaya Mayjen TNI Darpito Pudyastungkoro meminta semua pihak termasuk masyarakat dan pemda untuk bersama-sama proaktif memerangi terorisme.

"Semakin orang mengatakan kondusif, kita aparat harus semakin waspada. Kedua untuk masalah keamanan bukan semata-mata tanggung jawab aparat keamanan. Tapi juga masyarakat luas, apakah TNI, Polri, pemda dan masyarakat harus bersama-sama," kata Mayjen TNI Darpito Pudyastungkoro.

Menurut Darpito, semua pihak harus bergandeng tangan untuk bersama-sama memerangi terorisme yang marak akhir-akir ini di Indonesia. Tanpa kebersamaan itu, pasti perang terhadap terorisme akan menghadapi kendala meskipun TNI juga sudah memiliki kewenangan untuk memerangi terorisme.

"Kita harus memeranginya dengan bergandeng tangan. Peran TNI kan kalian tahu, kita bukan hanya perang tapi untuk penanganan teroris," paparnya.

Terkait koordinasi teknis yang sudah dilakukan TNI, menurut Darpito hal itu sudah dilakukan. TNI selama ini sudah melakukan koordinasi dengan aparat kepolisian dalam hal penanganan dan pencegahan aksi-aksi terorisme.

"Tentara itu harus tetap berlatih. Dalam kondisi apapun harus selalu siaga. Tidak ada mati suri. Kita tetap dan pelaksanaannnya kita back up. Kita bantu Polri sesuai dengan UU. Saya dengan Polda menjalin kerjasama yang baik sampai Babinsa," paparnya.

"Yang jelas kalau kita punya info, tidak kita simpan sendiri. Kita juga share ke Polri. Sebaliknya juga dengan Polda, kita juga hidupkan Kominda, kita aktifkan lagi," pungkasnya.

(yid/iy)
Minggu, 09/08/2009 17:42 WIB
Penggerebekan di Temanggung
Noordin Tak Mungkin Pilih Temanggung Sebagai Tempat Persembunyian
Elvan Dany Sutrisno - detikNews

Jakarta - Pengamat intelijen menilai tidak mungkin teroris sekelas Noordin M Top memilih tempat persembunyian di Temanggung, Jawa Tengah. Posisi persembunyian yang terpencil justru akan membuat Noordin terkunci.

"Tidak mungkin sekali Noordin mencari lokasi seperti Temanggung, " ujar Dinno Cressbon saat dihubungi wartawan melalui telepon, Minggu (9/8/2009).

Dinno melihat selama ini Noordin selalu memilih tempat persembunyian yang aman. Alhasil, Noordin bisa licin dan selalu terhindar dari sergapan polisi.

"Analisa saya meragukan bahwa orang tersebut Noordin M Top,"

"Lokasi persembunyiannya dikelilingi bukit yang sulit untuk kabur berbeda dengan 9 lokasi sebelumnya yang dekat akses jalan dan laut," beber Dino.

Mengenai kesaksian orang yang mengaku sebagai Noordin sebelum tewas disergap, menurut Dinno kurang jelas sebagai bukti.

"Kesaksian orang itu adalah bernama Noordin itu tidak cukup," tegasnya.

(van/mok)
Minggu, 09/08/2009 17:55 WIB
Penggerebekan di Jatiasih
Keluarga Air & Eko Tunggu Izin Lihat Jenazah Hingga Senin
Amanda Ferdina - detikNews

Agus menutupi mukanya (Foto: Amanda/detikcom)
Jakarta - Keluarga Eko Joko Sarjono (Eko Peyang) dan Air Setiawan belum mendapatkan izin untuk melihat jenazah 2 pria yang diduga teroris yang tewas dalam penggerebekan di Jatiasih, Bekasi tersebut. Keluarga akan menunggu keluarnya izin tersebut.

"Kita akan menunggu, maksimal besok (Senin, 10 Agustus 2009)," kata pengacara keluarga Air dan Eko, Endro Sudarsono usai mendampingi orangtua Eko dan Air memimta izin di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Minggu (8/8/2009).

Endro menjelaskan, ia mendapatkan kabar tidak mendapatkan izin untuk melihat jenazah Air dan Eko sekitar pukul 13.30 WIB. Kepolisian menyampaikan dokter forensik belum memberi izin.

Belum didapatnya izin ini, bagi Endro menambah duka keluarga. Keluarga ingin segera memakamkan jenazah bila 2 orang yang tewas itu benar Eko dan Air sebab ajaran Islam jenazah harus secepatnya dimakamkan.

"Kalau sudah pasti dan ini dibuat menjadi tidak pasti. Dulu yang penyebutan N saja sudah keliru dan ini sebenarnya dari Kapolri sudah sebut Eko dan Air, tapi ini menjadi tidak pasti," keluh Endro.

Keluarga hingga kini belum ditunjukkan foto jenazah Air dan Eko. Di Mabes Polri, orang tua menunjukkan ijazah dan difoto.

(iy/mok)

Minggu, 09/08/2009 17:55 WIB
Penggerebekan Jatiasih
Dilarang Lihat Jenazah, Keluarga Air & Eko Diminta Temui Densus 88
Amanda Ferdina - detikNews

dok detikcom
Jakarta - Pihak kepolisian belum mengizinkan keluarga Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono (Eko Peyang) untuk melihat jenazah. Hal ini dilakukan karena jenazah masih diidentifikasi dan keluarga perlu dimintai data.

"Karena kita belum selesai mengidentifikasi, makanya disuruh menghadap ke Densus 88," kata Kapusdokes Polri Brigjen Edi Saparwoso saat dihubungi wartawan, Minggu (9/8/2009).

Menurut Edi, keluarga akan dimintai keterangan oleh pihak Densus soal identitas masing-masing. Setelah itu, data akan dicocokkan dengan jenazah.

"Prosesnya dicocokkan data dia sebelum meninggal dan sesudah meninggal dengan orang yang melapor," jelasnya.

Selain itu, kata Edi, jenazah juga perlu dihormati layaknya semasa hidup. "Ini adalah prosedur umum, ketentuan interpol," tegasnya.

Sebelumnya, keluarga Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono (Eko Peyang) dan pengacaranya mendatangi Mabes Polri. Sambil membawa ijazah, keluarga ingin mengecek secara fisik kondisi 2 tersangka teroris yang tertembak di Jatiasih, Bekasi itu. Namun pihak kepolisian belum bisa mengizinkan hal tersebut.
(mad/iy)
Minggu, 09/08/2009 19:09 WIB
Belum Ada Keluarga Identifikasi Jenazah Teroris ke RS Polri
Elvan Dany Sutrisno - detikNews

Jakarta - Tiga jenazah tersangka teroris yang tewas oleh Densus 88 masih berada di RS Polri Sukanto, Jakarta Timur. Hingga pukul 19.00 WIB, tidak ada aktivitas penting yang terjadi di tempat ini.

Pantauan detikcom, di hari pertama pascapenggerebekan, Minggu (9/8/2009) tidak ada keluarga atau kerabat yang datang ke RS ini. Padahal kehadiran mereka menentukan hasil tes DNA.

Terlebih lagi untuk satu jenazah dari Temanggung, Jawa Tengah. Orang tersebut disebut-sebut adalah gembong teroris nomor wahid, Noordin M Top.

Kapolri Jendral Bambang Hendarso Danuri yang direncanakan akan datang ke RS pukul 13.00 WIB juga dipastikan batal hadir. Tidak ada tanda-tanda kedatangan mantan Kapolda Sumut tersebut.

Yang tertinggal hanya segelintiran polisi yang masih berjaga-jaga.
(mok/iy)
Minggu, 09/08/2009 19:54 WIB
Mayat Teroris itu Ibrohim Bukan Noordin Top?
Rachmadin Ismail - detikNews

Jakarta - Sejumlah pihak meragukan jenazah yang tewas di Temanggung adalah Noordin M Top. Jika argumen ini benar, lalu siapakah pemuda yang kabarnya tewas mengenaskan tersebut. Mungkinkah ia adalah Ibrohim?

Pihak pertama yang meragukan kematian Noordin adalah pengamat intelijen Dynno Chressbon. Ia yang mengaku sudah melihat foto asli jenazah itu mengatakan, teroris tidak mirip sama sekali dengan Noordin. Kemiripan jenazah dengan foto yang beredar hanya dari kalung yang dipakai saja.

"Lebih mirip preman pasar daripada Noordin M Top," cetus Dynno.

Senada dengan Dynno, kepala Centre for Violence and Terrorism Singapura, Rohan Gunaratna, bahkan berani menyatakan jenazah tersebut bukanlah Noordin M Top. Ia mengaku mengutip dari sumber yang ikut dalam proses investigasi.

"Dia (Noordin) belum tewas, sesungguhnya tes DNA membuktikan bahwa jasad yang ditemukan bukan Noordin Mohammed Top," kata Rohan seperti dilansir Aljazeera.net.

Sikap pesimis juga datang dari Direktur International Crisis Group (ICG) Sidney Jones. Ia menduga kemungkinan besar jenazah itu bukan Noordin.

"Saya kira kemungkinan besar itu bukan dia (Noordin). Bukannya saya yakin itu bukan dia, tetapi kemungkinan besar bukan," kata Sidney Jones saat dihubungi detikcom, Minggu (9/8/2009).

Setelah adanya berbagai keraguan tersebut, muncul kabar bahwa pria yang tewas di Temanggung adalah Ibrohim, florist di flower shop di Ritz-Carlton. Keberadaan Ibrohim pun saat ini masih gelap. Jika foto jenazah yang beredar di internet benar, maka secara fisik bentuk muka Ibrohim lebih mirip.

Ketika dikonfirmasi, Wakadiv Humas Mabes Polri Sulistyo Ishak tidak bisa memastikan hal ini. Pihaknya masih menunggu hasil tes DNA yang dilakukan penyidik dari Densus 88.

"Kita tidak bisa berbicara kemungkinan dan berandai-andai, semuanya masih menunggu hasil tes DNA," ucapnya saat dihubungi lewat telepon. (mad/did)

Minggu, 09/08/2009 21:05 WIB
SBY Target Pengeboman
Jaringan Noordin M Top Semakin Menguat
Didi Syafirdi - detikNews

Jakarta - Ratusan kilogram bahan peledek yang ditemukan di Perumahan Puri Nusa Phala di Jatiasih, Bekasi ditujukan untuk menyerang kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Istana Negara. Ini menunjukkan jaringan teroris Noordin M Top semakin menguat.

"Menunjukan jaringan Noordin M Tob semakin percaya diri dan menguat, bisa jadikan presiden sebagai target," ujar Pengamat intelijen UI Andi Widjajanto saat dihubungi detikcom, Minggu (9/8/2009).

Rencana pengeboman yang akan dilakukan 2 pekan setelah 1 Agustus, menurut Andi mengindikasikan kalau jaringan Noordin semakin menguat. Dalam hitungan satu bulan setelah bom di Hotel Ritz Charlton dan JW Marriot mereka sudah merencanakan pengeboman lagi.

"Kita harus cemas, dalam satu bulan ada serangan lagi," kata Andi.

Menurut Andi, serangan dalam tempo satu bulan memang tidak lazim dilakukan oleh teroris, biasanya setelah melakukan serangan mereka masih harus memikirkan pelarian. Dalam waktu lama baru akan muncul lagi merencanakan serangan berikutnya.

"Ini mengindikasikan jejaringan dan penetrasi teroris semakin menguat," tandasnya.

(did/mad)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar