Rabu, 19 Agustus 2009



Pesan Terakhir Burung Merak
Minggu, 9 Agustus 2009 | 03:25 WIB
Putu Fajar Arcana & Ninuk M Pambudy
WS Rendra sesungguhnya sudah meninggal di rumah anak bungsunya dari Sunarti, Clara Sinta, di Perumahan Pesona Khayangan, Depok, Kamis (6/8), pukul 22.10. Setelah mengembuskan napas terakhir barulah dibawa ke RS Mitra Keluarga, Depok, untuk memastikan kepergiannya.
Pesan terakhir ayahandanya, menurut Clara, hanya ingin tanah di Citayam seluas 6 hektar, di mana Bengkel Teater Rendra beralamat, dihutankan. Rendra sudah menanam ratusan pohon ulin dan eboni, yang tidak boleh ditebang sampai berusia 20 tahun. Dan tidak ada pesan apa pun dari Rendra menyangkut kelanjutan Bengkel Teater Rendra.
Clara termasuk anggota keluarga besar Rendra yang paling dekat dengan ayahnya. Kepada Rachel Saraswati (31), anak Rendra dari Sitoresmi Prabuningrat (59), ”Si Burung Merak” pernah berkata, ”Kalau penyakit tak bisa diatasi, aku mau dipeluk Clara,” tutur Rachel.
Kedekatan itulah yang membuat Rendra meminta secara khusus pada hari-hari terakhirnya berbaring di rumah Clara Sinta. Meskipun selama dua hari di situ, Rendra juga ditemani istrinya, Ken Zuraida, serta anak bungsu mereka, Meriam Supraba.
”Papa itu sebagai ayah sangat unik. Dia mengekspresikan perhatiannya dengan cara unik, jujur menghadapi situasi kehidupannya. Papa selalu ke saya, bahkan untuk hal yang sangat pribadi,” tutur Clara. Dia mengenang, bagaimana ayahnya baru bisa menggunakan layanan pesan singkat SMS tiga bulan terakhir dan sejak itu seperti tak bisa dipisahkan dari telepon selulernya, bahkan ketika terbaring di rumah sakit.
Rachel sendiri melihat Rendra sebagai a complete man. ”Dia itu orang lengkap, figur ayah, teman, dan guru. Saya anak beruntung karena tidak semua anak mempunyai pergaulan kreatif dengan ayahnya,” kata Rachel.
Pergaulan kreatif itu, tambah Rachel, anak-anaknya bisa eyel-eyelan atau gojekan (bercanda) dengan Rendra. ”Saya anak yang paling cerewet, dia bisa menyikapi kecerewetan saya. Misalnya, papa bilang, jangan cerewet dong sama bapaknya yang sudah tua. Caranya mengatakan sangat lucu,” ujar Rachel.
Minta lagu
Saat-saat dirawat di rumah sakit, kata Rachel, ia selalu diminta ayahnya menyanyikan lagu Don’t Cry for Me Argentina yang dipopulerkan Madonna lewat film Evita Peron. Lagu itu, kata Rachel, mewakili perasaan ayahnya dalam menjalani hari-harinya di rumah sakit. ”Rendra menyadari sakitnya mungkin tak bisa disembuhkan, tetapi semangatnya tetap kuat,” tutur Rachel, yang menetap di Yogyakarta.
Sebelum pergi untuk selama-lamanya, ujar Ken Zuraida sembari menahan tangis, seusai pemakaman Rendra, Jumat (7/8), suaminya seperti berkhotbah panjang. ”Ia me-review saya selama sejam lebih. Saya ini memang masih harus banyak belajar, belum juga bisa apa-apa, tetap bodo...,” tutur Idha, panggilan Ken Zuraida. Mas Willy, menurut Idha, sempat mengatakan, dia sangat berbahagia. ”Saat itu ada juga Clara,” kata dia.
Bagi Sitoresmi Prabuningrat yang pernah menjadi istri Rendra, meski telah berpisah, hubungannya dengan Rendra dan Bengkel Teater tetap baik. Sampai sekarang jika diminta membaca puisi, Sito tetap merasa paling sreg ketika membacakan puisi karya Rendra. Kekaguman Sito pada Rendra dalam keberhasilannya melahirkan sosok-sosok seniman yang mandiri, seperti Putu Wijaya, Chaerul Umam, Sitok Srengenge, Sawung Jabo, serta banyak lainnya.
”Saya mendapat manfaat dari gemblengan di Bengkel Teater, mungkin tanpa gemblengan itu saya tidak akan sekuat sekarang,” tutur Sito. Gemblengan di Bengkel adalah gemblengan hidup, belajar dari kekurangan materi. ”Sekarang kalau melihat ada masalah, saya mengatakan dalam hati, saya pernah melalui yang lebih berat,” kata Sito. Sitoresmi terlibat dalam kehidupan Bengkel pada periode 1970-1979 ketika masih bermarkas di Yogyakarta.
Menurut Rachel, ketika Rendra dan Bengkel pindah ke Jakarta pada awal tahun 1980-an, ia masih balita. ”Setahu saya, Papa inginnya Bengkel harus berusaha agar semua anggota bisa dapat uang tidak hanya menunggu mendapat tawaran pentas, harus jemput bola,” kata dia.
Tentang masa-masa sulit yang dialami Bengkel ketika di Yogya, Clara mengatakan, ayah dan juga ibunya, Sunarti, mengajarkan, ”Anak-anak kandung Papa adalah rahim bagi cita-cita Papa.” Anak-anak Bengkel kerap didahulukan kepentingannya daripada anak-anak kandungnya.
Bengkel Teater Rendra memang satu cita-cita yang diwujudkan. Komunitas ini dibangun Rendra sebagaimana ia juga menyuarakan soal-soal kehidupan dalam komunitas manusia. Sitok bahkan menggambarkan Rendra adalah guru yang mengajarkan tentang keberanian hidup.
Keberanian itulah, yang menurut sahabat terdekat Rendra, budayawan Emha Ainun Nadjib, dihancurkan ketika ia sedang berbaring di rumah sakit. Rendra secara fisik memang sudah berumur, tetapi dia terlahir dengan semangat hidup menyala. ”Nah, jika semangat hidupnya yang dihancurkan, tahulah apa jadinya...,” tutur Emha.
Kini penyair yang selalu seperti mengepakkan sayapnya saat-saat membacakan puisi itu telah pergi. Mungkin keadaannya sebagaimana yang ia gambarkan dalam puisinya Kenangan dan Kesepian. //Rumah tua/dan pagar batu/Langit desa/sawah dan bambu//Berkenalan dengan sepi/pada kejemuan disandarkan dirinya/Jalanan berdebu tak berhati/lewat nasib menatapnya//Cinta yang datang/burung tak tergenggam/Batang baja waktu lengang/dari belakang menikam//Rumah tua/dan pagar batu/Kenangan lama/dan sepi yang syahdu//. (XAR/IAM)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar