Rabu, 19 Agustus 2009

INSPIRASI DARI SI BURUNG MERAK
Minggu, 9 Agustus 2009 03:27 WIB
Di balik pesona sebagai ”Burung Merak”, almarhum WS Rendra adalah pekerja seni budaya yang teguh memperjuangkan cita-cita. Melintasi berbagai tekanan ekonomi dan politik, Bengkel Teater-nya menancapkan tonggak penting teater modern serta melahirkan sejumlah seniman kuat di Tanah Air.
”Bersumpahlah.... Jangan bikin grup teater.... Hasilnya apa? Jangan nulis sastra.... Gajinya tak seberapa. Tidak ada kesempatan beridealisme di Indonesia,” kata Narti. Demikian catatan Rendra mengutip ancaman istri pertamanya, Sunarti, dalam buku Rendra dan Teater Modern Indonesia (editor Edi Haryono, tahun 2000).
Ancaman itu dilontarkan Narti ketika Rendra baru pulang studi dari American Academy of Dramatic Arts di New York, Amerika Serikat, tahun 1967. Namun, ternyata larangan itu didobrak, bahkan kemudian Narti ikut hanyut dalam idealisme jalan kesenian.
Rendra mendirikan kelompok teater tahun 1967—yang kemudian dikenal sebagai Bengkel Teater Rendra. Kelompok ini berlatih di depan rumahnya di Ketanggungan Wetan, Yogyakarta. Dia sendiri juga berkembang sebagai penyair besar.
Meski begitu, peringatan Narti tentang sulitnya beridealisme di negeri ini juga menjadi kenyataan. Dari kenyataan inilah, Bengkel Teater itu tumbuh. Begitu pula lika-liku hidupnya sebagai penyair.
Pada masa awal, Bengkel Teater menghadapi kesulitan ekonomi. Untuk mementaskan lakon Bip-Bop di Balai Budaya Jakarta tahun 1968, misalnya, mereka merogoh kocek sendiri. Sebagaimana diceritakan Rendra dalam catatan tadi, pertunjukan itu didanai dari uangnya sendiri, uang Chaerul Umam (katanya, dengan menggadaikan sepeda), serta sumbangan uang tiket dari Trisno Soemardjo.
Bengkel kemudian berlatih menghidupi diri sendiri dengan menjual tiket pentas, terutama sejak pentas Oedipus Sang Raja (tahun 1969). Setiap pemain dapat honorarium yang cukup untuk hidup.
Sitoresmi Prabuningrat (59), istri kedua Rendra, yang aktif di Bengkel tahun 1970-1979, menceritakan seusai pemakaman Rendra di padepokan Bengkel Teater Rendra di Citayam, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8), produksi teater mengandalkan penghasilan satu pentas untuk membiayai pentas berikutnya. ”Saat uang habis, kami, anak- anak teater, utang pada warung yang menjadi tetangga teater dengan janji akan dibayar kalau dapat persekot pentas berikut. Mereka memberi utangan karena kami tinggal di situ,” kata Sito.
Masa sulit
Karena semua anggota belum bekerja dan sehari-hari hanya berlatih teater, Rendra menanggung makan mereka. ”Saya tanya, ’Mau makan apa?’. Rendra bilang, ’Sudah, pokoknya makan di rumah’. Dan saya tahu persis, banyak kawan disuruh Rendra menggadaikan apa saja, termasuk piring makan Mbak Narti,” tutur Amaq Baldjun, anggota Bengkel Teater sewaktu bermarkas di Yogyakarta.
Masa-masa sulit menerpa ketika Rendra dijebloskan dalam penjara selama beberapa bulan tahun 1978 karena dianggap membahayakan pemerintahan Orde Baru. Kesusahan makin menjadi Bengkel dilarang pentas sejak tahun 1979 hingga 1986. ”Kami mencari makan dengan membuat berbagai kerajinan kulit atau batu akik,” kata Edi Haryono, anggota Bengkel Teater sejak tahun 1974.
Kelompok bisa bertahan karena ikatan kekeluargaan kuat, sedangkan Rendra juga punya jiwa sosial tinggi. Kadang, bahkan anak-anak kandungnya harus mengalah. ”Di bengkel, hubungan keluarga erat sekali. Dia saya anggap sebagai kakak sendiri,” kata Udin Mandarin, anggota Bengkel sejak tahun 1973.
Sitok Srengenge, penyair dan anggota Bengkel Teater, mengenang bagaimana seorang Rendra menekankan kebersamaan dan ketahanan dalam segala situasi. Seluruh anggota, misalnya, hanya boleh punya dua celana. Jika lebih, harus diberikan kepada kawan lain. ”Tujuannya, mengajarkan kesederhanaan. Kata Rendra, kegagahan dalam kemiskinan,” kenang Sitok.
Bengkel Teater pindah ke Depok, Jawa Barat, tahun 1986, ketika mulai menggarap lakon Penembahan Reso. Setelah diundang pentas di Amerika tahun 1988, kemudian pentas keliling Eropa, mereka dapat uang lumayan banyak. Hasilnya dibelikan tanah dan membuat semacam padepokan di Citayam, Depok, tahun 1989.
Pada masa itu, anggota teater mencapai sekitar 30 orang dan sebagian tinggal di bengkel. Setelah keuangan membaik dan dengan manajemen keuangan lebih profesional, anggota dapat uang transpor dan uang saku untuk keluarga. ”Bagi Rendra, berkesenian adalah jalan hidup dan kami bisa hidup dari karya seni,” kata Edi menambahkan.
Bengkel Teater terakhir kali pentas dengan lakon Sobrat tahun 2005. Setelah itu, tak ada lagi pentas atas nama kelompok ini karena biaya pentas semakin mahal dan sulit mencari sponsor. Rendra kemudian memilih banyak tampil membaca puisi, mengunjungi kelompok seni di daerah-daerah, dan berceramah.
Tonggak
Lalu, bagaimana nasib Bengkel sepeninggal Rendra yang dipanggil Allah, Kamis malam lalu? ”Tak ada pesan baru menyangkut kelanjutan Bengkel. Bengkel Teater adalah Rendra. Kalau tidak ada Rendra, ya tidak menjadi Bengkel Teater Rendra lagi. Papa tak pernah menyiapkan seseorang untuk melanjutkannya,” kata Clara Sinta, anak kelima Rendra dari istri pertamanya, Sunarti.
Mungkin memang sulit meneruskan kelompok ini. Namun, spirit Rendra dengan Bengkel Teater dan kepenyairannya telah menjadi tonggak sejarah teater dan sastra modern di Indonesia. Rendra telah mendorong seni untuk bergumul dengan konteks sosial dengan mengangkat persoalan-persoalan kehidupan nyata. Secara bentuk, lakon-lakon teater itu menyumbangkan berbagai pendekatan, seperti bentuk mini kata, lalu jadi drama penuh kata-kata, drama tragedi besar, drama syair dan gerak, juga drama pamflet.
Sosok Rendra bersama Bengkel Teater-nya telah menjadi kawah penggodok beberapa seniman penting di Tanah Air. Beberapa anggota Bengkel yang kemudian tumbuh menjadi seniman mandiri, sebut saja, antara lain, dramawan dan penyair Putu Wijaya, sutradara Chaerul Umam, aktor Amaq Baldjun, Edi Haryono, penyair Sitok Srengenge, dan aktor Adi Kurdi.
”Kehidupan dan kesenian Rendra itu sangat impresif dan inspiratif bagi anggota teater dan para seniman lain, mungkin juga siapa pun yang pernah menjumpainya,” kata Adi Kurdi, anggota Bengkel saat masih di Yogyakarta. (ilham khoiri/ putu fajar arcana/ ninuk mardiana pambudy)
Karena Namanya Tertulis di Langit
Minggu, 9 Agustus 2009 03:26 WIB
Mengenang Rendra adalah mengenang keberaniannya menerobos batas dan kebebasannya berkreasi. Bukankah kebebasan berpikir dan keberanian melakukannya yang membawa perubahan?
Aktor Ikranegara telah bergaul dengan Rendra sejak 1960-an. Ketika Rendra pulang dari belajar di The American Academy of Dramatic Art di New York, Amerika, tahun 1967, Ikra melihat Rendra mengejutkan publik dengan mementaskan teater di luar cara yang dikenal selama ini.
”Dia membawa teater tanpa dialog dengan seminim mungkin menggunakan suara. Goenawan Mohamad kemudian memberi nama teater mini kata,” kata Ikra, yang saat itu menjadi wartawan lepas.
Dari wawancara Ikra dengan Rendra, dramawan dan penyair itu menyebut pentas itu sebagai ”bipbop” karena aktornya bergerak sambil mengucapkan ”bipbop”. Menurut Rendra, bentuk tersebut bermula dari kunjungannya ke Bali.
Dramawan dan novelis Putu Wijaya menilai, bunyi bipbop itu berasal dari hiphop, jenis musik jalanan yang melawan kemapanan. ”Itulah mengapa lahir istilah bipbop, tetapi Goenawan memberi nama teater mini kata” kata Putu.
Menurut Ikra, saat di Bali Rendra menyaksikan tari Cak dengan gerak dan vokal. ”Itulah yang menginspirasi Rendra membuat bipbop. Jadi, dia bukan orang yang antitradisi sebagaimana ditafsirkan banyak orang setelah pernyataan tentang kebudayaan Jawa hanyalah kasur tua,” kata Ikra.
Pemimpin Redaksi Majalah Prisma Daniel Dhakidae yang mengenal Rendra sejak awal 1967-an saat kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, melihat Rendra sebagai sosok yang melawan feodalisme yang kental di Yogyakarta, tempat Bengkel Teater berada. Karena itu, Rendra mengeluarkan pernyataan tentang kebudayaan Jawa seperti kasur tua yang harus dirombak. Tetapi, itu menurut Daniel menjadi energi kreatif Rendra yang melawan budaya yang dia anggap sebagai penghalang. Daniel mencontohkan puisi ”Khotbah” yang terdapat di dalam Blues untuk Bonnie (1971).
Menjadi awal
Periode Rendra dan Bengkel Teater di Yogya bagi Daniel, yang juga peneliti dan pemerhati sastra itu, adalah periode produktif Rendra yang menghasilkan karya paling hebat dan indah. Periode Yogya dan periode Jakarta tidak bisa dipisahkan tegas karena—seperti disebutkan anggota Bengkel Teater, Edi Haryono—Bengkel Teater boyong dari Yogya ke belakangan setelah Rendra mulai tinggal di Jakarta sejak 1978.
Sebagai penggiat dunia teater, Ikra melihat bipbop menjadi awal lahirnya teater kontemporer Indonesia. Sebelumnya, teater modern masuk ke Indonesia dengan realisme Barat sebagaimana dimainkan Teguh Karya. ”Rendra hadir dengan teater kontemporer yang meramu gerak dan vokal, Dan itu dipentaskan justru saat pernikahan Arief Budiman dan Leila di Jakarta,” kata Ikra.
Bagi sastrawan Danarto (69), Rendra adalah sosok seniman yang, selain menghasilkan bentuk-bentuk baru, juga mewakili suara hati masyarakatnya.
Danarto yang mengenal Rendra sejak 1958 terlibat dalam produksi Oedipus Rex pada tahun 1962 di Yogyakarta sebagai produser dan art director. Penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2009 ini menyebut Rendra sebagai pujangga dengan semangat melakukan perubahan sosial.
Danarto ingat bagaimana pembacaan puisi oleh Rendra di Teater Terbuka TIM Jakarta pada 28 April 1978 dilempari amoniak oleh orang tak dikenal. ”Saya ingat Bang Ali waktu itu berteriak, ’Teruskan, teruskan’. Lalu acara diteruskan dan ada satu penonton pingsan karena mencium amoniak,” kata Danarto.
Lalu, apakah seorang seniman dapat mengubah kedaan, seperti yang dikhawatirkan pemerintahan Orde Baru sehingga perlu memenjarakannya selama enam bulan pada tahun 1978?
”Saya tidak percaya seniman akan mengubah keadaan, seperti yang terjadi pada revolusi. Peran Mas Willy sebagai seniman adalah memberi visi, arah perjalanan bangsnya,” kata Danarto.
Apabila pengaruh Rendra terasa begitu luas dan dalam, Danarto mengatakan, ”Karena nama Rendra sudah tertulis di langit.” (NMP/CAN/IAM)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar