Rabu, 19 Agustus 2009

KOMPAS.COM/IRFAN MAULLANA
Keranda Yang Membawa Rendra
/
Jumat, 7 Agustus 2009 | 05:18 WIB
DEPOK, KOMPAS.com — Menjelang pukul 05.00, Jumat (7/8), jenazah almarhum WS Rendra dibawa dari rumah duka di Kompleks Pesona Kayangan, Depok, Blok AV/5, ke tempat persemayaman terakhirnya di Bengkel Teater Cipayung, Citayam, Depok, Jawa Barat. Dalam keranda berkain hijau, jenazah Rendra dibawa dengan menggunakan mobil ambulans Pesona.
Seperti yang disampaikan oleh pihak kerabat Rendra, Iwan Burnani, jenazah Rendra rencananya akan dimakamkan di kompleks pemakaman seniman Bengkel Teater siang nanti. Pemakaman akan dilakukan setelah disembahyangkan dalam shalat Jumat dan menunggu kedatangan putranya, Yonas, dari Kalimantan.
Sebelum pemakaman, jenazah rencananya akan disemayamkan di Rumah Lampung. Seluruh kerabat ikut dalam rombongan jenazah Rendra, termasuk putrinya, Clara Sintha, atau yang biasa dipanggil Auk. Istri Rendra, Ken Zuraida, diperkirakan juga ikut meski tak tampak memasuki mobil rombongan.
Rendra Tetap Suarakan Nasib Rakyat

Dedi Mizwar saat melayat ke rumah almarhum WS Rendra di Depok
/
Jumat, 7 Agustus 2009 | 02:58 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Meskipun terkulai di rumah sakit selama masa pengobatan di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, "Si Burung Merak" tetap ngotot membicarakan nasib rakyat dibanding kesehatannya.

"Saya beri dia semangat ayo cepat sembuh dan baca puisi sama-sama. Tapi dia justru membicarakan nasib rakyat setelah pilpres saat itu," kenang aktor senior Dedi Mizwar saat mengunjungi rumah duka Rendra, di perumahan Pesona Khayangan Depok II, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8).

Diceritakan juga oleh Dedi, jika Rendra selama menjalani perawatan di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading terus berceloteh soal perkembangan ekonomi bangsa. "Gimana konsep ekonomi yang mendukung rakyat, keprihatinan tentang bangsa ini," cerita Dedi sambil menirukan ucapan Rendra.

"Dia sampai napasnya terengah-engah, bahkan bisa bicara lancar dan garang. Seperti kita tahu itulah Rendra," sambung Dedi.

Seperti dituturkan Dedi, jika Rendra yang terus ngotot membicarakan nasib bangsa ini akhirnya berhenti berbicara setelah napasnya sesak saat itu. "Sampai akhirnya beliau sesak napas karena bicara terus," ujar Dedi.

Namun, di luar dugaan setelah sesak napas itu, keesokan harinya Rendra kembali membaik. "Besoknya dia pindah dari ICU ke ruang biasa, mungkin karena sudah plong," ujar Dedi.

Dalam kesempatan yang sama Dedi pun mengakui kekagumannya terhadap sosok Rendra. "Di akhir hayatnya dia berpikir tentang bagaimana bangsa ini, bahkan pada saat sakit dia tidak bicara tentang sakit, justru rakyat diutamakan," ungkap Dedi.

"Tiap orang akan mendapatkan apa pun karena kebaikan-kebaikannya, kita harus memaafkan dengan seiklas-ikhlasnya. Pemikirannya terus dihidupkan dan karyanya terus didengungkan," tutup Dedi. (C7-09)
Obituari
WS Rendra, Burung Merak Itu Terbang Selamanya...

KOMPAS Images/Fikria Hidayat
Jenazah budayawan WS Rendra, disemayamkan di rumah duka Perumahan Pesona Khayangan, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8) dini hari. WS Rendra yang dijuluki 'Si Burung Merak' meninggal dunia pada Kamis (6/8) pukul 22.05 WIB di RS Mitra Keluarga Depok.
/
Jumat, 7 Agustus 2009 | 01:28 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi
KOMPAS.com — Kabar duka masih menggelayut di Bengkel Teater Rendra di Citayam, Depok. Belum habis rasa duka yang mendalam dengan kepergian seniman fenomenal Mbah Surip (52) yang dikebumikan Selasa (4/8) malam, kabar duka datang lagi.
Penyair terkemuka Willibordus Surendra Broto Rendra atau lebih dikenal dengan WS Rendra (74), meninggal dunia, Kamis (6/8) sekitar pukul 22.05 WIB. Penyair berjuluk "Si Burung Merak" itu terbang selamanya....
"Bapak meninggal sekitar pukul 20.05 WIB setelah sempat disuapi bubur dan dikasih minum," ungkap putrinya, Clara Shinta, kepada Kompas.com, semalam.
Menurut penuturan Clara, yang juga dikenal sebagai artis sinetron, bapaknya tengah mengalami sakit komplikasi dan sempat dirawat di rumah sakit. Jenazah almarhum semalam disemayamkan di kediaman putrinya itu yang terletak di Perumahan Pesona Khayangan Depok.
Banyak seniman dan sastrawan merasa kehilangan dan duka yang mendalam. Sastrawan Hamsad Rangkuti (66) yang terakhir sempat bersama Rendra ketika memperingati 15 tahun wafatnya pelukis Nashar di Denpasar, Bali, Juni 2009 lalu, mengatakan sangat kehilangan.
"Rendra suatu malam tak keluar kamar. Katanya, ia ingin menghindari makan yang enak-enak. Malam berikutnya, ketika diajak makan di warung, ia mau dan selalu mengingatkan bahwa semua ini harus kita lalui, karena kita diberi umur panjang," katanya.
Rendra yang sudah menunaikan ibadah haji lebih satu kali ini, lanjut Hamsad, sempat mengutip ayat-ayat Al Quran; "Kuberi kamu berumur panjang, tapi Kukurangi hal-hal lain." Hamsad pun berkali-kali dapat pesan pendek di telepon selulernya, yang berisikan nasihat untuk istrinya, sebelum operasi kanker payudara.
Menurut sastrawan terkemuka peraih SEA Write Awards tahun 2008 ini, kematian Rendra adalah kehilangan besar bangsa ini. Penyair besar yang sangat peduli dengan persoalan bangsa ini.
Dalam suatu pembacaan puisi memperingati Seabad Bung Hatta di Padang, Sumatera Barat, 29 Agustus 2002, Rendra dalam puisinya memukau belasan guru besar dan puluhan doktor. Ini satu bait dari 23 bait puisi yang dibacakannya:
... Dengan puisi ini aku bersaksi/bahwa rakyat Indonesia belum merdeka/Rakyat yang tanpa hak hukum/bukanlah rakyat merdeka./Hak hukum yang tidak dilindungi/oleh lembaga pengadilan yang mandiri/adalah hukum yang ditulis di atas air!//," ucap Rendra, ketika itu.
Sajak tersebut, kata Rendra, ketika itu adalah penghormatan kepada Mohammad Hatta. "Beliau saya anggap sebagai pelopor pejuang pembebasan bangsa Indonesia dan bukan sekadar pembebasan negara dari kolonialisme belaka," ujarnya kepada Kompas saat itu.
Rendra tidak hanya garang dalam sajak. Akan tetapi, juga saat menyampaikan pokok-pokok pikirannya dalam makalah. "Sejak rezim Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur (Abdurrahman Wahid), dan Megawati, ternyata demokrasi kita adalah demokrasi elite politik, bukan demokrasi rakyat. Demokrasi elite politik dalam praktiknya menjajah daulat rakyat. Tanpa daulat hukum tak ada daulat rakyat, dan tanpa daulat rakyat tak ada kontrol terhadap keadilan hukum," ujarnya.
Dalam percaturan seni kontemporer Indonesia (sastra dan teater/drama), WS Rendra, yang dipanggil Mas Willy ini, adalah satu yang paling terkemuka. Dilahirkan di Solo, 7 November 1935, penyair yang mengklaim diri berumah di angin karya-karya dikenal banyak orang. Tidak saja di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Karya-karyanya diterjemahkan dalam berbagai bahasa.
Dalam suatu sajaknya; untuk Kembali ke Angin Rendra mengatakan:
Kemarin dan esok
adalah hari ini
Bencana dan keberuntungan
sama saja
Langit di luar
langit di badan
bersatu dalam jiwa.

Ya, bencana dan keberuntungan, bagi Rendra, sama saja. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Semoga Mas Willy mendapat tempat yang terbaik di sisi-Nya. Amin.(YURNALDI)
/Home/Oase/Cakrawala
Si Burung Merak Dimakamkan Jumat di Bengkel Teater WS Rendra

LIN
Jenazah penyair WS Rendra tiba di rumah duka di kompleks Pesona Depok Blok AV/5 Depok. Kedatangannya disambut isak tangis putra-putrinya.
/
Jumat, 7 Agustus 2009 | 00:50 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Jenazah tokoh teater modern H Wahyu Sulaiman Rendra (WS Rendra) menurut rencana akan dikebumikan seusai pelaksanaan shalat Jumat (7/8). Hal ini diketahui dari papan pengumuman yang dipampang pihak keluarga di depan rumah duka di Kompleks Pesona Kayangan Blok A No 5.
Pria kelahiran Solo, 7 November 1935, itu akan dimakamkan di Bengkel Teater WS Rendra, Cipayung, Citayam, Depok. Hingga berita ini diturunkan, kondisi rumah duka masih terus dikunjungi oleh kerabat Rendra. Beberapa saat yang lalu, mantan anggota KPU Mulyana tampak memasuki rumah duka untuk melayat.

C10-09


Kemarin Iwan Fals Sempat Menghibur Rendra

Kompas/Arbain Rambey
WS Rendra
/
Jumat, 7 Agustus 2009 | 00:21 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah mendapat kabar dari Toto Tewel yang pada Rabu (5/8) siang menjenguk WS Rendra di kediaman Clara Shinta di Pesona Khayangan, Depok, seusai latihan di studionya di Leuwinanggung pada Rabu malam, Iwan Fals langsung bergegas menuju kediaman Clara Shinta untuk menengok kondisi WS Rendra yang sedang sakit.
Menurut penuturan Toto Tewel, yang juga mantan suami Clara, kondisi mantan mertuanya itu sudah cukup parah. "Tapi kayaknya dikuat-kuatkan. Beliau tampak kesulitan bernapas," ujar Toto melalui telepon.
Toto menuturkan, meski sudah susah bicara tetapi Rendra masih sempat memberi senyum. Sementara Iwan Fals, menurut Toto, sempat mengajak bercanda "Si Burung Merak" seraya memijati tangan Rendra yang kala itu duduk di kursi roda.
Pada Rabu malam itu, sekira pukul 21.00 WIB, selain Iwan Fals dan Toto Tewel, tampak terlihat istri Rendra, Ken Zuraida; Samuel dan Clara Shinta, kedua anak Rendra dari Sunarti Suwandi; dan musisi Franky Raden.
WS Rendra diketahui telah mengidap sakit jantung sejak tahun lalu. Pada jantungnya sudah dipasang ring. Sebulan yang lalu, Willy, demikian Rendra akrab disapa, pernah dibawa ke RS Cinere, terus pindah ke RS Harapan Kita, lalu RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, sebelum akhirnya dibawa ke rumah Clara Shinta pada Selasa (4/8) malam, bertepatan dengan penguburan Mbah Surip yang dimakamkan di pekarangan rumah WS Rendra di wilayah Cipayung, Depok.

JY


Rendra Pergi Jauh Setelah Minta Makan

PERSDA NETWORK/Bian Harnansa
Budayawan WS Rendra saat tampil di acara Java Jazz Festival 2008, Jakarta, 9 Maret 2009 lalu. Penyair ternama yang dijuluki 'Burung Merak' ini meninggal dunia, Kamis (6/8) pukul 22.05, dalam usia 74 tahun.
/
Jumat, 7 Agustus 2009 | 04:55 WIB
DEPOK, KOMPAS.com — Pulang ke rumah adalah keinginan almarhum WS Rendra ketika dirawat terakhir kali di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading beberapa waktu lalu. Keinginan itu terwujud setelah dokter membolehkannya pulang.
Diizinkan pulang, Rendra dirawat di kediaman putrinya, Clara Sinta, atau yang akrab dipanggil Auk, di Kompleks Pesona Depok Blok AV/5, Depok.
Di rumah inilah, ajal menjemput pria kelahiran Solo, 7 November 1935, ini. "Meninggalnya ditunggui putrinya ketika minta minum dan makan, tiba-tiba menghilang saja. Tidak ada raungan, kesakitan. Meninggal dengan tenang dan dengan baik. Ini jalan terbaik baginya," tutur rekan seperjuangan Rendra, Eros Djarot, di depan rumah duka, Jumat (7/8).
Mengutip cerita putri Rendra, Auk, Eros mengatakan, Rendra sempat menyatakan ingin terus hidup. Namun sayangnya, setelah minta makan bubur, pria yang dijuluki Burung Merak ini 'terbang' untuk selamanya.
"Jadi tidak ada tanda-tanda yang cukup berarti mau pergi. Yang sangat menyenangkan, kepergiannya di sebuah kamar, seperti yang dia inginkan sebelumnya, pulang ke rumah," lanjut Eros.

LIN
WS Rendra Pergi dengan Wajah Tenang dan Bersih

KOMPAS Images/Fikria Hidayat
Jenazah budayawan WS Rendra, disemayamkan di rumah duka Perumahan Pesona Khayangan, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8) dini hari. WS Rendra meninggal dunia pada Kamis (6/8) pukul 22.05 WIB di RS Mitra Keluarga Depok.
/
Jumat, 7 Agustus 2009 | 04:47 WIB
DEPOK, KOMPAS.com — Menjelang dibawa ke kawasan Bengkel Teater Cipayung pada pukul 06.00 nanti, Jumat (7/8), jenazah WS Rendra mulai dimandikan sekitar pukul 02.30 tadi. Shalat setelah ritual mandi dipimpin oleh Ustaz Mochtar, rekannya di Bengkel Teater.
Hal ini disampaikan artis senior Eros Djarot, rekan seperjuangan Rendra dalam grup Kantata Takwa, ketika keluar dari rumah duka menjelang pukul 03.00. "Tadi setengah tiga dimandikan, ditunggui anaknya, Clara Sinta, dan kerabat lainnya," tutur Eros di depan rumah duka.
Eros mengatakan, sejumlah rekan juga ikut menunggui ritual mandi tersebut, antara lain mantan Mensesneg Moerdiono. Eros juga sempat bertutur soal jenazah Rendra yang dilihatnya.
"Wajahnya tenang, bersih. Mungkin karena meninggal di ranjang Auk (Clara Sinta) di rumah ini," lanjut Eros.

LIN

Sebelum Wafat, Rendra Minta Potong Kuku

Kompas/JB Suratno
WS Rendra
/
Jumat, 7 Agustus 2009 | 03:05 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Seolah tahu akan wafat, WS Rendra meminta agar kukunya dipotong dan dibersihkan. "Dua minggu yang lalu kita ngobrol dan dia merasa dipenjara, tetapi ya..sudah waktunya," cerita Poppy ditemui di rumah duka WS Rendra, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8) dini hari.
Poppy yang aktif bersama Rendra di perguruan Bangau Putih seperti merasakan keganjilan akan ditinggal "Si Burung Merak". "Kita sama dari Bangau Putih, kita memiliki rasa kekeluargaan," aku Poppy.
"Sepertinya beliau memang sudah siap-siap dan meminta dipotongkan kuku sambil bercanda," sambungnya. Lebih lanjut Poppy menambahkan, Rendra sebagai orang yang memiliki ilmu yang tinggi dan ilmu kebudayaan seolah sudah mengetahui ajalnya akan tiba.
"Kita di Bangau Putih menganggap mati itu adalah sesuatu yang sudah dipersiapkan," tuturnya. (C7-09)
Rendra Jadikan Teater Tak Sekadar Tontonan

Kompas/Eddy Hasby
Rendra ketika membacakan puisi terkenalnya berjudul Suto Mencari Bapak di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (6/4)
/

Jumat, 7 Agustus 2009 | 00:12 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Penggiat teater yang juga pendiri gerakan Budaya Cultura Di Vita, Sulistiadi, kaget sekaligus bersedih atas meninggalnya dramawan dan budayawan WS Rendra di kediaman putrinya, Clara Sinta, pukul 20.30 WIB di Pesona Khayangan, Depok, Jawa Barat.
"Tokoh ini belum ada gantinya di bidang teater dan budaya. Bisa disebut tokoh beberapa zaman dan tidak ada seorang pun yang punya kualitas seperti dia. Ini kehilangan besar untuk dunia teater. Kita masih membutuhkan dan mengusahakan tokoh lain supaya mengisi kekosongan itu," ungkap Sulis, demikian pria yang menyebut dirinya murid tidak langsung WS Rendra ini disapa.

Sulis, yang kenal Rendra saat masih mahasiswa tahun 1986, ini menyebutkan, Rendra merupakan tokoh yang konsisten dengan panggilannya. Dia juga tokoh berkepribadian, yang mendedikasikan hidupnya untuk teater. "Saya berutang budi pada beliau. Secara tidak langsung saya mendapat pendidikan teater dari beliau, meskipun saya sebenarnya muridnya Adi Kurdi," jelas Sulis. Adi Kurdi adalah salah satu anggota Bengkel Teater WS Rendra, yang juga adik ipar dramawan ini.
Menurut Sulis, Rendra dikatakan berjasa besar karena setia pada tradisi Indoensia. Dia merupakan tokoh yang mengombinasikan teater klasik dan gerak wayang. "Bloking teater Rendra itu bersih kayak wayang, tidak seperti teater Gandrik yang lebih mirip ketoprakan," jelas Sulis.
Rendra, sebut Sulis, menjadikan teater tidak hanya sekadar entertain, tetapi juga tempat bagi pemainnya untuk mengolah kejiwaan, karena Rendra berangkat dari religiusitas. "Dalam teater, kualitas manusia diolah betul. Teater juga tidak hanya tontonan tetapi menjadi tuntutan," jelas pria yang pernah belajar Komunikasi Sosial Jurusan Film dan Televisi, Salesiana, di Italia.

ABD
Pintu Ditutup Rapat, Info Pemakaman Rendra Tak Terungkap

Mardanih
Jenazah WS Rendra Dibawa Pulang Ke Rumah Duka dari RS Mitra Keluarga
/
Jumat, 7 Agustus 2009 | 00:10 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Pujangga Indonesia WS Rendra atau yang bisa dikenal dengan julukan "Si Burung Merak" telah meninggal dunia pada Kamis (6/8) pukul 20.30 WIB di kediaman salah satu putri Rendra, Clara Shinta, Pesona Khayangan Blok AV No 5, Depok, Jawa Barat.
Pihak keluarga besar Rendra tampak langsung menolak wartawan yang coba mendekat.

"Tolong kasih kami sedikit privacy," seru salah satu kerabat Rendra dari dalam garasi.

Spontan keluarga Rendra pun menutup pintu rapat-rapat dan langsung terdengar takbir dari dalam ruang tamu.

Hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan resmi dari keluarga Rendra mengenai kapan dan di mana "Si Burung Merak" akan dikebumikan. (C7-09)

Rendra Tiba di Rumah Duka

Mardanih
Jenazah WS Rendra Dibawa Pulang Ke Rumah Duka dari RS Mitra Keluarga
/
Kamis, 6 Agustus 2009 | 23:34 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik
DEPOK, KOMPAS.com - Jenazah penyair WS Rendra tiba di rumah duka di Kompleks Pesona Depok Blok AV/5 Depok sekitar pukul 23.20 dengan ambulans dari RS Mitra Depok. Rumah ini merupakan kediaman putrinya Clara Santi.
Kedatangan jenazah Rendra disambut isak tangis dari putra dan putrinya baik dari istri pertamanya Sunarti maupun istri ketiganya Ken Zuraida. Putra-putri Rendra juga tak ingin media massa yang menyerbu "Papa belum mati. Tolong dong kasih privacy," seru salah seorang putrinya yang berkaus hijau.
Hingga berita ini diturunkan, kerabat sedang membenahi ruang di dalam rumah dan menyebarkan bendera kuning di sekitar kompleks menuju rumah duka.
Butet Kertaredjasa: Mas Willi Tokoh Jenius

Kompas
Butet Kertaradjasa
/

Kamis, 6 Agustus 2009 | 23:20 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Raja monolog yang juga merupakan salah satu tokoh teater Indonesia, Butet Kartaredjasa menyebutkan WS Rendra sebagai tokoh besar, seorang jenius yang pernah lahir di bumi Indonesia.

Selain aktor, Rendra dikatakan juga sebagai penyair, penulis skenario, serta seorang intelektual dan sutradara luar biasa. Sumbangannya sangat berharga bagi kehidupan teater modern Indonesia. Pemikiran, kreativitas dan inovasinya sangat mempengaruhi perjalanan teater modern Indonesia.

"Saya sebagai pekerja teater termasuk yang berani memilih teater sebagai jalan kehidupan diinspirasi oleh keteguhan sikap beliau dalam mengabdikan diri di dunia keseniam," ungkap Butet lewat sambungan telepon di Surabaya, Kamis (6/8).

Meski bukan murid langsung dari Rendra, tapi menyaksikan pertunjukan Mas Willi, sapaan akrab terhadap si burung merak ini, Butet merasa dekat dengan Rendra. "Sejak masih kanak-kanak kebetulan dengan keluarga (Rendra) kami bertetangga kampung. Beliau sahabat ayah kami. Anak-anak Mas Willi teman sekolah saya," jelas Butet.

Bagaimana pun Butet merasakan ada yang bolong atas kehilangan si burung merak ini setelah para empu teater tiada. "Kemarin saat Bulan Mei mengunduh mantu, beliau menyempatkan datang ke rumah saya, di siang hari, satu hari setelah pelaksanaan perkawinan anak saya. Beliau merasa bersalah karena tidak bisa hadir pada acara resmi. Itu suatu kehormatan. Beliau sesepuh, tapi memerhatikan dengan serius pada saya yang secera generasi sangat jauh. Membanggakan sekaligus mengharukan. Rupanya itu pertemuan terakhir," cerita Butet.

Lalu Butet pun bertutur. Terhadap Rendra, dirinya selalu mendudukkan dia sebagai ayah. "Mengingatkan penyakit dan kesehatan, mencoba menciptakan kegembiraan," jelas Butet menutup pembicaraan.

ABD

Riwayat dan Karya Si Burung Merak

Kompas/Eddy Hasby
WS Rendra
/
Artikel Terkait:
Kamis, 6 Agustus 2009 | 23:00 WIB
KOMPAS.com - Willibrordus Surendra Broto Rendra (lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935; umur 73 tahun) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok. Semenjak masa kuliah beliau sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.

Masa kecil
Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya itu

Pendidikan
* TK Marsudirini, Yayasan Kanisius.
* SD s/d SMU Katolik, St. Yosef, Solo - Tamat pada tahun 1955.
* Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta - Tidak tamat.
* mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 - 1967).

Rendra sebagai sastrawan
Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.

Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.

"Kaki Palsu" adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.

Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India.

Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).

Bengkel Teater
Pada tahun 1961, sepulang dari Amerika Serikat, Rendra mendirikan grup teater di Yogyakarta. Akan tetapi, grup itu terhenti karena ia pergi lagi ke Amerika Serikat. Ketika kembali lagi ke Indonesia (1968), ia membentuk kembali grup teater yang bernama Bengkel Teater. Bengkel Teater ini sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Sampai sekarang Bengkel Teater masih berdiri dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.

Penelitian tentang karya Rendra
Profesor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap kesusastraan Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”. Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

Penghargaan
* Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954)
* Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)
* Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)
* Hadiah Akademi Jakarta (1975)
* Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)
* Penghargaan Adam Malik (1989)
* The S.E.A. Write Award (1996)
* Penghargaan Achmad Bakri (2006).

Kontroversi pernikahan, masuk Islam dan julukan Burung Merak
Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Satu di antara muridnya adalah Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta, yang bersedia lebur dalam kehidupan spontan dan urakan di Bengkel Teater. Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra kepadanya, antara lain menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti.

Ujung-ujungnya, ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Dia dinamis, aktif, dan punya kesehatan yang terjaga, tutur Sito tentang Rendra, kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra. Satu-satunya kendala datang dari ayah Sito yang tidak mengizinkan putrinya, yang beragama Islam, dinikahi seorang pemuda Katolik. Tapi hal itu bukan halangan besar bagi Rendra. Ia yang pernah menulis litani dan mazmur, serta memerankan Yesus Kristus dalam lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka, memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi.

Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti Rendra masuk Islam hanya untuk poligami. Terhadap tudingan tersebut, Rendra memberi alasan bahwa ketertarikannya pada Islam sesungguhnya sudah berlangsung lama. Terutama sejak persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sito. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang.

Toh kehidupannya dalam satu atap dengan dua istri menyebabkan Rendra dituding sebagai haus publisitas dan gemar popularitas. Tapi ia menanggapinya dengan ringan saja. Seperti saat ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Itu Rendra! Itu Rendra!. Sejak itu, julukan Burung Merak melekat padanya hingga kini. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati

Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981.

Beberapa karya
Drama
* Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)
* Bip Bop Rambaterata (Teater Mini Kata)
* SEKDA (1977)
* Selamatan Anak Cucu Sulaiman (dimainkan 2 kali)
* Mastodon dan Burung Kondor (1972)
* Hamlet (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)- dimainkan dua kali
* Macbeth (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)
* Oedipus Sang Raja (terjemahan dari karya Sophokles, aslinya berjudul "Oedipus Rex")
* Lisistrata (terjemahan)
* Odipus di Kolonus (Odipus Mangkat) (terjemahan dari karya Sophokles,
* Antigone (terjemahan dari karya Sophokles,
* Kasidah Barzanji (dimainkan dua kali)
* Perang Troya Tidak Akan Meletus (terjemahan dari karya Jean Giraudoux asli dalam bahasa Prancis: "La Guerre de Troie n'aura pas lieu")
* Panembahan Reso (1986)
* Kisah Perjuangan Suku Naga (dimainkan 2 kali)

Sajak/Puisi
* Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
* Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
* Blues untuk Bonnie
* Empat Kumpulan Sajak
* Jangan Takut Ibu
* Mencari Bapak
* Nyanyian Angsa
* Pamphleten van een Dichter
* Perjuangan Suku Naga
* Pesan Pencopet kepada Pacarnya
* Potret Pembangunan Dalam Puisi
* Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
* Rick dari Corona
* Rumpun Alang-alang
* Sajak Potret Keluarga
* Sajak Rajawali
* Sajak Seonggok Jagung
* Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
* State of Emergency
* Surat Cinta
Sumber: Wikipedia


Si Burung Merak Telah Tiada

PERSDA/ BIAN HARNANSA
WS RENDRA
/
Kamis, 6 Agustus 2009 | 22:31 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Jodhi Yudono
JAKARTA, KOMPAS.com — WS Rendra, budayawan dan penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak", meninggal dunia dalam usia 74 tahun, pada Kamis (6/8) malam.

Kabar meninggalnya WS Rendra diperoleh Kompas.com melalui keterangan putrinya, Clara Shinta. Rendra, yang lahir di Solo 7 November 1935, wafat di kediaman putrinya itu yang terletak di Kompleks Perumahan Pesona Kayangan, Depok.

"Bapak meninggal sekitar pukul 20.30 WIB setelah sempat disuapi bubur dan dikasih minum," ungkap Clara.

Menurut penuturan Clara, yang juga dikenal sebagai artis sinetron, ayahnya memang tengah mengalami sakit komplikasi dan sempat dirawat di rumah sakit.

Hingga saat ini, belum ada informasi tentang rencana pemakaman Rendra. Namun, berdasarkan informasi, saat ini juga tengah dilakukan persiapan di Bengkel Teater, Citayam, Depok, untuk menyambut jenazah WS Rendra.
Mengenang Rendra
Karena Namanya Tertulis di Langit

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Jenazah almarhum penyair WS Rendra diusung menuju masjid untuk dishalatkan sebelum dimakamkan di padepokan seni Bengkel Teater di Citayam, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8). Rendra meninggal Kamis malam pada usia 74 tahun akibat serangan jantung.
/
Minggu, 9 Agustus 2009 | 07:35 WIB
KOMPAS.com — Mengenang Rendra adalah mengenang keberaniannya menerobos batas dan kebebasannya berkreasi. Bukankah kebebasan berpikir dan keberanian melakukannya yang membawa perubahan?
Aktor Ikranegara telah bergaul dengan Rendra sejak 1960-an. Ketika Rendra pulang dari belajar di The American Academy of Dramatic Art di New York, Amerika, tahun 1967, Ikra melihat Rendra mengejutkan publik dengan mementaskan teater di luar cara yang dikenal selama ini.
”Dia membawa teater tanpa dialog dengan seminim mungkin menggunakan suara. Goenawan Mohamad kemudian memberi nama teater mini kata,” kata Ikra, yang saat itu menjadi wartawan lepas.
Dari wawancara Ikra dengan Rendra, dramawan dan penyair itu menyebut pentas itu sebagai bipbop karena aktornya bergerak sambil mengucapkan bipbop. Menurut Rendra, bentuk tersebut bermula dari kunjungannya ke Bali.
Dramawan dan novelis Putu Wijaya menilai, bunyi bipbop itu berasal dari hiphop, jenis musik jalanan yang melawan kemapanan. ”Itulah mengapa lahir istilah bipbop, tetapi Goenawan memberi nama teater mini kata” kata Putu.
Menurut Ikra, saat di Bali Rendra menyaksikan tari Cak dengan gerak dan vokal. ”Itulah yang menginspirasi Rendra membuat bipbop. Jadi, dia bukan orang yang antitradisi sebagaimana ditafsirkan banyak orang setelah pernyataan tentang kebudayaan Jawa hanyalah kasur tua,” kata Ikra.
Pemimpin Redaksi Majalah Prisma Daniel Dhakidae yang mengenal Rendra sejak awal 1967-an saat kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, melihat Rendra sebagai sosok yang melawan feodalisme yang kental di Yogyakarta, tempat Bengkel Teater berada. Karena itu, Rendra mengeluarkan pernyataan tentang kebudayaan Jawa seperti kasur tua yang harus dirombak. Tetapi, itu menurut Daniel menjadi energi kreatif Rendra yang melawan budaya yang dia anggap sebagai penghalang. Daniel mencontohkan puisi ”Khotbah” yang terdapat di dalam Blues untuk Bonnie (1971).
Menjadi awal
Periode Rendra dan Bengkel Teater di Yogya bagi Daniel, yang juga peneliti dan pemerhati sastra itu, adalah periode produktif Rendra yang menghasilkan karya paling hebat dan indah. Periode Yogya dan periode Jakarta tidak bisa dipisahkan tegas karena—seperti disebutkan anggota Bengkel Teater, Edi Haryono, Bengkel Teater boyong dari Yogya ke belakangan setelah Rendra mulai tinggal di Jakarta sejak 1978.
Sebagai penggiat dunia teater, Ikra melihat bipbop menjadi awal lahirnya teater kontemporer Indonesia. Sebelumnya, teater modern masuk ke Indonesia dengan realisme Barat sebagaimana dimainkan Teguh Karya. ”Rendra hadir dengan teater kontemporer yang meramu gerak dan vokal, Dan itu dipentaskan justru saat pernikahan Arief Budiman dan Leila di Jakarta,” kata Ikra.
Bagi sastrawan Danarto (69), Rendra adalah sosok seniman yang, selain menghasilkan bentuk-bentuk baru, juga mewakili suara hati masyarakatnya.
Danarto yang mengenal Rendra sejak 1958 terlibat dalam produksi Oedipus Rex pada tahun 1962 di Yogyakarta sebagai produser dan art director. Penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2009 ini menyebut Rendra sebagai pujangga dengan semangat melakukan perubahan sosial.
Danarto ingat bagaimana pembacaan puisi oleh Rendra di Teater Terbuka TIM Jakarta pada 28 April 1978 dilempari amoniak oleh orang tak dikenal. ”Saya ingat Bang Ali waktu itu berteriak, ’Teruskan, teruskan’. Lalu acara diteruskan dan ada satu penonton pingsan karena mencium amoniak,” kata Danarto.
Lalu, apakah seorang seniman dapat mengubah kedaan, seperti yang dikhawatirkan pemerintahan Orde Baru sehingga perlu memenjarakannya selama enam bulan pada tahun 1978?
”Saya tidak percaya seniman akan mengubah keadaan, seperti yang terjadi pada revolusi. Peran Mas Willy sebagai seniman adalah memberi visi, arah perjalanan bangsanya,” kata Danarto.
Apabila pengaruh Rendra terasa begitu luas dan dalam, Danarto mengatakan, ”Karena nama Rendra sudah tertulis di langit.” (NMP/CAN/IAM)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar