Selasa, 25 Mei 2010

SAMBUTAN PRESIDEN SBY PADA PEMAKAMAN NY AINUN HABIBIE : IBU PENUH KASIH

PEMAKAMAN NY AINUN HABIBIE
Presiden: Ibu Penuh Kasih Rabu, 26 Mei 2010 02:56 WIB
Jakarta, Kompas - Sosok almarhumah Ny Hasri Ainun Besari Habibie adalah sosok Ibu Negara yang penuh kasih, pejuang kemanusiaan yang tulus, dan ibu yang patut menjadi panutan bagi keluarga.
Hal itu disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat upacara pemakaman di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Selasa (25/5). Istri mantan Presiden BJ Habibie itu meninggal dunia pada usia 72 tahun di Rumah Sakit Ludwig Maximilians-Universitat, Klinikum Gro’hadem, Muenchen, Jerman, Sabtu pukul 17.30 waktu setempat. Ny Ainun dirawat sejak 24 Maret 2010 hingga 22 Mei 2010. Dalam 1,5 bulan, Ny Ainun menjalani 12 kali operasi pengangkatan tumor.
”Dengan penuh kesetiaan dan kepercayaan, almarhumah senantiasa mendampingi Presiden Habibie melewati hari-hari yang tidak mudah dalam salah satu periode sejarah yang sangat menentukan,” ujar Presiden Yudhoyono yang bertindak sebagai inspektur upacara. Ketika itu, pada masa Presiden Habibie, Indonesia diguncang krisis dan terjadinya reformasi 1998-1999.
Sebagai Ibu Negara ketika itu, Ny Ainun juga menunjukkan kepedulian dan peran aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan. Hingga akhir hayatnya, Ny Ainun adalah Ketua Umum Perhimpunan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI) dan pengurus Yayasan Amal Abadi Beasiswa Orang Tua Bimbing Terpadu (YAAB-ORBIT).
”Dedikasi yang tak berkesudahan kepada nilai-nilai kemanusiaan menjadi bukti nyata keteladanan almarhumah,” ujar Presiden Yudhoyono. Atas pengabdian dan jasa-jasanya itu, Ny Ainun menerima Bintang Republik Indonesia Adipradana dan Bintang Mahaputra Adipurna.
Alumnus Fakultas Kedokteran UI ini dilahirkan di Semarang, Jawa Tengah, 11 Agustus 1937. Menikah dengan BJ Habibie pada 12 Mei 1962, Ny Ainun dikaruniai dua putra, Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie, serta empat cucu.
Sepanjang prosesi pemakaman Ny Ainun, BJ Habibie tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang mendalam. Bahkan, ia tampak lunglai sehingga dipapah ketika meninggalkan makam.
Banyak tokoh masyarakat hadir pada pemakaman itu. Selain Wakil Presiden Boediono dan para menteri, hadir pula para mantan wakil presiden, seperti Jusuf Kalla, Hamzah Haz, dan Try Soetrisno, serta pimpinan lembaga negara. (DAY)

Wardiman Djojonegoro : Ibu Ainun Dalam Kenangan

Pada tahun 1963, beberapa mahasiswa Universitas Aachen menunggu di Bandara Dusseldorf, menanti kedatangan seniornya, BJ Habibie, yang membawa pasangannya yang baru.
Begitu diperkenalkan, kesan pertama kami adalah alangkah serasinya kedua sejoli ini dari segi penampilan, Habibie tidak tinggi dan Dr Hasri Ainun Besari Habibie (Ainun) tidak lebih tinggi dari suaminya. Ia murah senyum, terlihat anggun dan menyerahkan semua percakapan kepada suaminya. Kami, anak mahasiswa Aachen, memang sudah terbiasa dengan sifat Rudy—panggilan Habibie—yang ramai, tetapi ramah. Kesan lain yang kami dapati adalah, Ainun seorang tokoh yang tidak ingin menonjol dan sengaja berada di garis belakang, tetapi bukan berarti tidak berbobot.
Mendukung dari belakang
Dalam sejarah perkenalan saya dengan keluarga ini, kesan pertama itu diperkuat lagi oleh kuatnya pendirian Ainun dalam mendukung suaminya dari belakang. Ia sangat memahami tugas-tugas suaminya dan bagaimana dengan setia mendampingi dan mendukung suaminya. Ke mana pun sang suami pergi, beliau dengan setia dan sabar mendampinginya, tidak saja secara fisik, tetapi juga dengan kata-kata dan nasihat yang bermakna.
Misalnya, sewaktu Sidang MPR tahun 1999, kata-kata kasar dari anggota DPR tetap diterima dengan anggun dan, di rumah, Ainun membantu Rudy mengatasi kecaman-kecaman yang diucapkan tidak pantas itu. Banyak dari kami yang mengatakan bahwa Ainun adalah contoh istri yang ideal, tidak menonjol tetapi menjadi satu kesatuan dengan suaminya karena selalu mendukungnya dari belakang.
Seorang sosok yang cantik, anggun, pintar, tetapi pandai menempatkan diri dalam pergaulan sehari-hari dan perjalanan karier di samping suaminya. Apalagi sang suami adalah seorang yang dinamis dan penuh dengan energi. Dalam berbagai kesempatan, Rudy menyatakan di depan umum betapa Ainun menjadi penopang dan pendorong dalam hidup dan aktivitasnya. Betul pula pepatah yang menyatakan bahwa ”di balik seorang laki laki yang sukses bisa didapati wanita yang telah mendukungnya”.
Pada masa awal pacaran mereka, setelah Ainun menerima lamaran Rudy, Rudy secara reguler mengantar Ainun pergi bekerja ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, tempat Ainun bekerja di bagian anak-anak. Biasanya, Rudy menjemput Ainun memakai becak, sesudah itu mereka berjalan meninggalkan kompleks RSCM. Mereka mengalami masa pacaran yang singkat, tetapi cukup mengesankan. Mereka berpacaran di atas becak malam hari dengan jok tertutup kendati saat itu tidak sedang hujan.
Pernah pula ketika sedang pacaran mereka ketemu dengan rombongan teman-teman Ainun dari Fakultas Kedokteran. Salah seorang bertanya, ”Siapa sih nama tunanganmu Ainun?” Seorang lagi memotong, ”Namanya Bacharuddin Jusuf Habibie. Orang Arab lagi.” Ainun tersenyum lalu berkata, ”Ini orang Arab-nya,” sambil menunjuk Rudy yang berada di sebelahnya. Teman-teman Ainun kaget, Rudy hanya senyum-senyum.
Selalu mengingatkan
Mereka menikah 12 Mei 1962 dan Ilham—putra mereka pertama—lahir pada 1963 di Jerman karena, setelah menikah, Ainun langsung di boyong ke Jerman. Di situ mereka hidup dalam rumah tangga anak muda, berpahit-pahit karena penghasilan Rudy sebagai mahasiswa tingkat doktoral masih sangat kecil, pemasukan harus pula disisihkan sebagian untuk ditabung. Masa itulah masa berat mereka di awal-awal pernikahan. Ketika saya harus ke Holland (Belanda dengan Aachen sangat dekat), Rudy menitipkan kepada saya untuk membelikan kereta dorong bayi karena harga di Belanda lebih murah.
Ainun sangat mencintai dan selalu memberikan perhatian besar kepada suaminya. Ketika masih menjadi Menristek/Ketua BPPT, Rudy sering pulang terlambat dari kantor, biasanya bisa lewat dari pukul 22.00. Jika sudah terlambat seperti itu, Ainun menelepon langsung dari rumah mengingatkan agar Rudy segera pulang karena harus menjaga kesehatan. Rudy biasanya minta kepada sekretariat agar menjawab ”Bapak sudah menuju lift”, padahal sebenarnya ia masih duduk di kursi dan meneruskan pekerjaan, tidak langsung pulang.
Perhatian Ainun juga tertuju pada makanan Rudy sehari-hari. Ia selalu menjaga kalori yang pantas dalam asupan suaminya. Ia memberikan batasan-batasan makanan apa saja seharusnya yang dikonsumsi. Karena itu, Rudy sangat tertib dalam hal makanan jika Ainun ada di dekatnya. Namun, jika Ainun tak ada, saya lihat Rudy sering melanggar pantangan yang diberikan Ainun. Hal lain yang menarik adalah soal waktu. Kita semua tahu jika Rudy memberikan sambutan dan berceramah biasanya selalu panjang melebihi batas waktu yang dijatahkan. Namun, jika Ainun hadir, almarhumah biasa memberikan isyarat agar segera berhenti dan Rudy dengan jujur menyampaikan kepada hadirin, ia akan segera menghentikan pidato dan ceramahnya karena sudah mendapat isyarat dari Ibu Ainun agar berhenti.
Suatu waktu, pada acara salat tarawih di kediaman beliau di Jalan Patra, Rudy diberi kesempatan menyampaikan sambutan kepada jemaah. Ternyata, sambutan Rudy berkepanjangan. Melihat jemaah sudah gelisah karena masih akan dilanjutkan acara tarawih, Ibu Ainun melalui salah seorang cucunya meminta supaya memberikan isyarat kepada ”eyang kakungnya” agar mengakhiri sambutan. Sang cucu memang menjalankan tugasnya dan tampil ke depan mengayunkan tangan seperti kalau sedang salat. Rudy mengerti isyarat itu dan mengakhiri sambutannya. Namun, ia tidak lupa berkomentar, ”Itu pasti disuruh oleh Ibu Ainun.” Jemaah pun tertawa.
Ainun penuh dengan energi dan tidak saja aktif sebagai ibu rumah tangga meski suaminya menteri dalam Kabinet Pembangunan. Ia aktif dengan berbagai kegiatan di bidang organisasi wanita: Dharma Wanita Pusat, Ria Pembangunan, dan banyak kegiatan sosial di bidang anak dan manula. Namun, beliau sangat religius dan pengajian secara teratur dilakukan di rumahnya.
Sewaktu menjadi Ibu Negara saya sangat terkagum-kagum bagaimana Ainun bisa mempunyai stamina dan membagi waktu untuk mengikuti setiap acara Presiden, baik di dalam maupun di luar kota. Menerima lebih banyak lagi tamu di luar kegiatan keluarga. Dan, di samping itu, ia masih dapat membagikan kepedulian dalam kegiatan sosial.
Setelah Rudy tidak lagi menjabat di pemerintahan, Ainun masih aktif dalam kegiatan sosial. Misalnya menjadi Ketua Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI), Wakil Ketua Dewan Pendiri Yayasan SDM Iptek, mendirikan Yayasan Orbit dengan cabang di seluruh Indonesia. Juga memprakarsai majalah teknologi anak anak Orbit. Semasa gejolak di Aceh pada tahun 2000-an, Ainun mengadakan beasiswa ORBIT khusus untuk siswa Aceh.
Ibu Ainun sudah tiada, meninggalkan kita dengan banyak kenangan yang manis dan berkesan. Meskipun tak banyak diekspos media, banyak tindakan beliau semasa hidup yang menjadi suri teladan bagi kita semua. Kasih sayang dan cinta tidak saja dibagi dengan suami, anak, dan keluarga, tetapi juga dengan masyarakat. Bagi saya, Ainun betul-betul sosok ibu dari anak-anak negara dan seorang istri teladan.
Wardiman Djojonegoro Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Kabinet Pembangunan VI, 1993-1998

Minggu, 23 Mei 2010

dr. Hasri Ainun Habibie : Kisah Cinta Berakhir di Jerman

Minggu, 23/05/2010 17:54 WIB
Tifatul: Ibu Ainun Sosok yang Tegar Mendampingi Pak Habibie
Jakarta - Berpulangnya mantan Ibu Negara, Hasri Ainun Habibie, mengembalikan ingatan Tifatul Sembiring pada sosok yang tegar dan setia. "Ketika Pak Habibie jadi wapres dan presiden itu banyak "serangan" terhadap Pak Habibie. Tapi beliau sabar dan tidak mengeluarkan statemen pada masyarakat," kata Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring usai usai acara penyerahan bantuan SMS Donasi Komunitas Pos dan Telekomunikasi di SDN 18 Ganting, Kecamatan Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumbar, Minggu (23/5/2010).
Tifatul menilai Ainun dan Habibie sebagai pasangan yang saling setia dalam mendampingi satu sama lain.
"Luar biasa kesetiaan beliau mendampingi Pak Habibie. Begitu juga kesabaran Pak Habibie mendampingi beliau ketika sakit bahkan sampai 12 kali operasi. Untuk orang yang usianya 72 tahun itu luar biasa," kata politisi PKS ini.
Tifatul mengucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya atas wafatnya Ibu Ainun Habibie.
"Atas nama pribadi dan juga keluarga besar Menkominfo mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Ibu Aiunun Habibie," kata Tifatul yang menggunakan batik berwana coklat ini. (nrl/nrl)



Minggu, 23/05/2010 12:39 WIB
Ainun Terharu Dengar Surat SBY
Rumah Habibie Banjir Karangan Bunga

Jakarta - Presiden SBY sempat mengirimkan surat kepada almarhumah Ainun Habibie saat mantan Ibu Negara itu dirawat di rumah sakit. Ainun terharu mendengar isi surat itu.
"Pada saat Ibu masih dirawat dan baru dioperasi, Presiden SBY sempat mengirimkan surat yang sempat dibacakan di dekat telinga almarhumah dan ia sangat terharu," tutur Direktur The Habibie Center, Ahmad Watik Pratiknya, pada wartawan di rumah duka, Jl Patra Kuningan XIII, Jakarta Selatan, Minggu (23/5/2010).
Watik menyatakan, meninggalnya Ainun membuat bangsa Indonesia merasa kehilangan mengingat jasa almarhumah yang banyak. "Beliau banyak memiliki jasa pada masyarakat dan organisasi sosial, apakah itu dalam bentuk beasiswa dan juga dukungan terhadap kaum tunanetra," paparnya.
Surat SBY pada keluarga BJ Habibie dikirimkan melalui anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bidang pembangunan dan otonomi daerah Ginandjar Kartasasmita ke tempat Ainun dirawat, di LMU Klinikum, Munich, Jerman.
"Isinya menyampaikan rasa atas nama pemerintah bangsa Indonesia, keluarga menyampaikan rasa keprihatian Presiden atas kondisi kesehatan Ibu Habibie," ujar Ginandjar usai bertemu SBY pada 5 Mei lalu. (dip/nrl)



Minggu, 23/05/2010 01:15 WIB
Kisah Cinta Indah 48 Tahun itu Berakhir di Jerman

Jakarta - Hasri Ainun Habibie, istri Presiden ke-3 RI, Prof Dr BJ Habibie, hampir selalu ada mendamping suaminya yang sedang bertugas. Ainun juga selalu melempar senyum saat berada disamping Habibie.
Wanita kelahiran Semarang pada 11 Agustus 1937 itu kuliah di Fakultas Kedokteran di Jakarta dan pernah bekerja di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Bahkan Ainun pernah tinggal di belakang asrama RSCM, di Jalan Kimia.
Ainun dipersunting BJ Habibie pada 12 Mei 1962. Dari pernikahan itu, Ainun mempunyai anak dua orang yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal, serta enam orang cucu.
Ainun masuk rumah sakit RS Ludwig-Maximilians-Universitat, Klinikum Gro`hadern, Munich, Jerman pada 24 Maret lalu. Dia telah menjalani sembilan kali operasi yaitu empat operasi utama dan lima eksplorasi yang semuanya berlangsung dengan lancar.
Namun kondisi Ainun kian memburuk. Istri BJ Habibie ini meninggal dalam usia 72 tahun. Ainun meninggal Sabtu (23/5/2010) sekitar pukul 17.30 waktu setempat di Rumah Sakit Ludwig-Maximilians-Universitat, Klinikum Gro`hadern, Munich, Jerman.
Habibie terus mendampingi Ainun dalam sakitnya. Saat Ainun meninggal pun Habibie berada di sisinya. Presiden pertama era reformasi ini berusaha tabah dalam kehilangannya.

Sabtu, 22/05/2010 23:21 WIB
Ibu Hasri Ainun Habibie Tutup Usia

Jakarta - Istri mantan presiden RI BJ Habibie, Hasri Ainun Habibie tutup usia di usia 72 tahun. Ainun meninggal sekitar pukul 17.00 waktu setempat di Rumah Sakit Ludwig-Maximilians-Universitat, Klinikum Gro`hadern, Munich, Jerman.
"Innalillahi wa inna ilaihii raajiuun. Telah meninggal Ibu Hasri Ainun Habibie. Mohon do'a untuk Almarhumah," demikian informasi resmi yang diperoleh detikcom dari twitter The Habibie Center pukul 23.15 WIB, Sabtu (22/5/2010).
Sebelumnya Ibu Hasri sempat kritis setelah menjalani perawatan intensif. Dia baru saja menjalani operasi kanker usus.
Saat ini semua keluarga termasuk BJ Habibie, dan dua putranya Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie sudah berada di Jerman.
(rdf/rdf)

dr. Hasri Aiun Habibie : "Sebuah Senyum Ketulusan dan Keikhlasan dari Seorang Ibu Negara"


JAKARTA, KOMPAS.com - Kehadiran sosok Ainun Habibie semasa hidupnya dinilai mempunyai arti tersendiri sebagai istri maupun ibu teladan. Setidaknya pengakuan ini disampaikan oleh promotor musik terkemuka Adrie Soebono yang adalah keponakan mantan Presiden RI BJ Habibie atau anak kakak tertua BJ Habibie di kediaman duka di Patra Kuningan XIII, No. 1, Jakarta. .
Adrie Soebono mengaku pernah dididik oleh Ibu Ainun sejak umur 14 tahun saat ia menetap selama 8 tahun di Jerman. "Enggak pernah sekalipun diomelin justru saya disayang padahal saya lagi bandel-bandelnya," ujar Adrie Soebono
"Bu Ainun ini cantik sekali waktu mudanya. Tahun 1962, dia pacaran dengan Pak Habibie di rumah orang tua saya," tambahnya.
"Pak Habibie ini enggak bisa lepas dari Ibu Ainun, mereka pasangan yang sangat serasi. Ke mana-mana selalu berdua. Selama Ibu Ainun sakit, Pak Habibie selalu ada di samping, dia enggak pernah ninggalin rumah sakit."
Adrie Soebono justru saat ini khawatir dengan kondisi kesehatan Habibie. Ini karena Ibu Ainun yang pernah berprofesi sebagai dokter semasa hidupnya merupakan orang yang mengendalikan obat-obat yang biasa dikonsumsi Habibie.
Adrie Soebono mengaku terakhir kali bertemu Ibu Ainun 2 bulan lalu sebelum beliau berangkat berobat ke Jerman. Menurut Adrie Soebono, Ibu Ainun saat itu tidak pernah mengeluh sedikit pun walaupun mengidap penyakit.
Saya menyesal saat-saat terakhir ini enggak di Jerman. Rencananya minggu depan mau ke Jerman tapi ada pekerjaan yang enggak bisa saya tinggalin.
"Yang lucu saat ketemu terakhir saya masih dianggap anak kecil padahal sayasudah tua begini," demikian dikisahkan Adrie Soebono.
Pesawat Garuda Indonesia yang khusus diterbangkan untuk menjemput jenazah Ibu Ainun bertolak dari Jakarta besok dan dijadwalkan tiba di Jerman Senin. Pesawat ini dijadwalkan bertolak dari Jerman Selasa dan tiba kembali di Jakarta Rabu pagi


Ainun Habibie Sosok Disiplin yang Santun
Senin, 24 Mei 2010 - 03:02 wib
Habibie mendampingi Ainun (Ist)
JAKARTA – Pembacaan surat yasin dan tahlil masih terus berkumandang di rumah duka, kediaman mantan Presiden RI BJ Habibie di Patra Kuningan XIII Blok L XV Kav. 3, Kuningan, Jakarta Selatan.
Iringan doa tertuju kepada mantan Ibu Negara almarhumah Hasri Ainun Habibie, yang wafat karena penyakit kanker usus di Munich, Jerman.
Pantauan okezone, Minggu (23/5/2010) malam, puluhan kerabat dan para pelayat dari tetangga kerabat almarhum dengan khusyuk membaca tahlil usai salat isya dilanjutkan dengan taushiyah yang dipimpin oleh pengamat pendidikan, Arief Rahman.
Arief Rahman melihat sosok almarhumah sebagai wanita dengan tingkat keimanan dan ketakwaan yang tinggi sarta dikenal taat beribadah.
“Saya pikir ada beberapa hal yang perlu dikenang dari beliau, yakni kedekatan beliau dengan Tuhan. Kesabaran dan kesyukuran adalah sifat yang menonjol dari sosok beliau,” ujar Arief kepada wartawan, di rumah duka.
Ditambahkannya, Ainun merupakan salah satu wanita pemerhati pendidikan yang memiliki kecerdasan dalam berpikir.
“Beliau ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Beliau juga disiplin tidak mentoleransi orang yang datang terlambat, dengan kesantunan itu kedisiplinan ditanamkan kepada dua putranya Ilham dan Tareq dan diberikan kebebasan untuk kreatif,” pungkasnya.(ram)


Keluarga: Bila Mau Kirim Doa, Pelayat Datang Pagi
Senin, 24 Mei 2010 - 07:04 wib
Habibie mendampingi Ainun (Ist)
JAKARTA - Mantan Ibu Negara Hasri Ainun Habibie (72) rencananya akan dimakamkan pada hari Selasa 25 Mei 2010 menjelang waktu Zuhur. Jadwal pemakaman ini mengalami percepatan satu hari setelah sebelumnya direncanakan pada Rabu 26 Mei 2010.
Dengan perubahan jadwal tersebut, pihak keluarga mengimbau kepada para pelayat yang hendak melepas almarhumah sekaligus membacakan doa di rumah duka agar datang sebelum waktu salat Zuhur tiba.
”Siapa yang ingin membaca doa agar dilakukan di antara waktu kedatangan jenazah yakni pukul 06.00 WIB sampai meninggalkan rumah sekitar pukul 10.00 WIB,” kata Juru Bicara Keluarga Habibie, Didit Ratam kepada wartawan, Minggu (23/5/2010) malam.
Didit yang juga merupakan keponakan langsung dari Habibie itu menjelaskan aturan dalam syariat Islam menjadi faktor utama penyebab dimajukannya jadwal pemakaman almarhumah Ibu Ainun. “Sesudah melakukan pertimbangan dari keluarga juga dari sudut pandang keagamaan di mana semakin cepat semakin baik,” sambungnya.
Dia memaparkan pihak keluarga sebelumnya juga telah melakukan diskusi dengan pemerintah terkait rencana pemakaman mantan Ibu Negara yang juga seorang dokter ahli kandungan itu.
Hasri Ainun Habibie, wafat di usia 72 tahun. Ainun menghembuskan napas terakhirnya sekira pukul 17.30 waktu setempat di Rumah Sakit Ludwig-Maximilians-Universitat, Klinikum Gro`hadern, Munich, Jerman. Ainun sebelumnya telah menjalani operasi sebanyak 12 kali dan sempat dikabarkan membaik.(ram)


Ainun Habibie Dikebumikan Selasa
Senin, 24 Mei 2010 - 01:03 wib
Habibie mendampingi Ainun (Ist)
JAKARTA - Mantan Ibu Negara Hasri Ainun Habibie (72) rencananya akan dimakamkan pada hari Selasa 25 Mei 2010 besok lusa. Jadwal pemakaman ini mengalami percepatan satu hari setelah sebelumnya direncanakan pada Rabu 26 Mei 2010.
"Pemakamannya akan dilakukan pada hari Selasa diharapkan bisa selesai sebelum sholat Zhuhur,” ujar Juru Bicara Keluarga Didit Ratam di rumah duka Jalan Patra Kuningan XII, Jakarta Selatan Minggu (23/5/2010).
Malam ini lanjut dia, pihak keluarga yang berjumlah sekira 17 orang akan berangkat menuju Munich, Jerman guna menjemput almarhumah yang dikenal ramah dan bersahaja itu. “Hari ini keluarga akan berangkat ke Jerman pada pukul 01.00 WIB dini hari, dan dijadwalkan tiba di Jerman hari Senin pukul 09.00 waktu lokal (Munich),” terang Didit.
Delegasi dari pihak keluarga Habibie tersebut terdiri kakak dan adik dari kedua pihak BJ Habibie dan (alm) Hasri Ainun Habibie, serta para cucu yang akan dipimpin asisten Habibie, Ahmad Watik Pratiknya. Mereka akan kembali ke Jakarta pada pukul 11.00 waktu setempat.
Bila tak ada rintangan, jenazah ibu Ainun akan tiba pada Selasa pagi di Bandara Halim Perdana Kusumah dan dibawa ke rumah duka untuk selanjutnya segera dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan.
“Rencana akan tiba di Jakarta pukul 05.00 WIB. Kami dari pihak keluarga akan meyerahkan jenazah kepada negara mungkin sekitar pukul 10.00 WIB supaya dapat dimakamkan segera pada pukul 11.00 WIB di TMP Kalibata,” tutupnya.
Sebelumnya, Hasri Ainun Habibie tutup usia pada Sabtu sore waktu setempat atau Sabtu malam pukul 22.30 WIB. Jenazah rencananya akan tiba di Tanah Air pada Selasa 25 Mei 2010 lusa. Kepulangan jenazah terhambat dengan libur di Jerman hingga Senin.

Ainun Habibie Dikebumikan Selasa
Senin, 24 Mei 2010 - 01:03 wib
Habibie mendampingi Ainun (Ist)
JAKARTA - Mantan Ibu Negara Hasri Ainun Habibie (72) rencananya akan dimakamkan pada hari Selasa 25 Mei 2010 besok lusa. Jadwal pemakaman ini mengalami percepatan satu hari setelah sebelumnya direncanakan pada Rabu 26 Mei 2010.
"Pemakamannya akan dilakukan pada hari Selasa diharapkan bisa selesai sebelum sholat Zhuhur,” ujar Juru Bicara Keluarga Didit Ratam di rumah duka Jalan Patra Kuningan XII, Jakarta Selatan Minggu (23/5/2010).
Malam ini lanjut dia, pihak keluarga yang berjumlah sekira 17 orang akan berangkat menuju Munich, Jerman guna menjemput almarhumah yang dikenal ramah dan bersahaja itu. “Hari ini keluarga akan berangkat ke Jerman pada pukul 01.00 WIB dini hari, dan dijadwalkan tiba di Jerman hari Senin pukul 09.00 waktu lokal (Munich),” terang Didit.
Delegasi dari pihak keluarga Habibie tersebut terdiri kakak dan adik dari kedua pihak BJ Habibie dan (alm) Hasri Ainun Habibie, serta para cucu yang akan dipimpin asisten Habibie, Ahmad Watik Pratiknya. Mereka akan kembali ke Jakarta pada pukul 11.00 waktu setempat.
Bila tak ada rintangan, jenazah ibu Ainun akan tiba pada Selasa pagi di Bandara Halim Perdana Kusumah dan dibawa ke rumah duka untuk selanjutnya segera dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan.
“Rencana akan tiba di Jakarta pukul 05.00 WIB. Kami dari pihak keluarga akan meyerahkan jenazah kepada negara mungkin sekitar pukul 10.00 WIB supaya dapat dimakamkan segera pada pukul 11.00 WIB di TMP Kalibata,” tutupnya.
Sebelumnya, Hasri Ainun Habibie tutup usia pada Sabtu sore waktu setempat atau Sabtu malam pukul 22.30 WIB. Jenazah rencananya akan tiba di Tanah Air pada Selasa 25 Mei 2010 lusa. Kepulangan jenazah terhambat dengan libur di Jerman hingga Senin.


JK: Ibu Ainun Sosok Keibuan
Minggu, 23 Mei 2010 - 19:00 wib
Ainun Habibie dalam suatu acara. (Foto: strangerinparadise.com)
JAKARTA - Meninggalnya istri mantan Preden BJ Habibie, Hasri Ainun Habibie meninggalkan kesan tersendiri bagi mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Menurutnya almarhumah merupakan sosok keibuan yang baik.
"Saya kenal baik dengan beliau, dan yang saya tahu beliau adalah sosok ibu yang sangat baik," ujar JK usai menyaksikan film 'Alangkah Lucunya Negeri Ini' di Bioskop Djakarta Theater XXI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (23/5/2010).
JK yang hadir didamping sang istri Mufidah Kalla dalam acara nonton bareng tersebut turut merasa kehilangan atas wafatnya isteri mantan Presiden RI ke-3 itu. "Meskipun tidak selalu ketemu, tapi yang saya tahu dia ibu yang selalu mengabdi untuk keluarga," ungkapnya.
Selain itu JK yang mewakili keluarga besarnya tak lupa mengucapkan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga besar BJ Habibie dan mendoakan agar seluruh keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dalam menghadapinya.
"Saya harap keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kebesaran hati. Semoga amal baik almarhumah di terima oleh-Nya," tandasnya.(hri)


Makam Ainun Berdampingan dengan Habibie
Minggu, 23 Mei 2010 - 12:41 wib
Ainun Habibie dalam suatu acara. (Foto: strangerinparadise.com)
JAKARTA - Pemerintah rupanya sudah menyiapkan sepasang lubang makam untuk pemakaman BJ Habibie dan Asri Ainun Habibie, jika kelak dipanggil Yang Maha Kuasa. Kedua lubang itu letaknya berdampingan.
Pemerintah sengaja, menyiapkan dua lubang secara berdampingan, karena mantan Presiden BJ Habibie menginginkan selalu bersama dengan istrinya.
Seperti dituturkan Direktur Habibie Center Ahmad Watik Pratikya di kediaman duka, bukti kebersamaan pasangan Habibie ini terlihat dengan perilaku mantan Presiden itu sejak istrinya sakit. Habibie tak pernah lepas dari sisi istrinya, sejak Ainun masuk ke rumah sakit 24 Maret lalu.
"Pak Habibie tak pernah keluar dari atap rumah sakit," cerita Ahmad di rumah duka, Jalan Patra Kuningan XII, Kawasan Kuningan, Jakarta, Minggu (23/5/2010).
Sementara mengenai pemakaman Ainun di TMP Kalibata, kata Ahmad, hal itu merupakan keputusan pemerintah. Dalam hubungan komunikasi dengan BJ Habibie, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan Ainun berhak mendapatkan kehormatan itu.
"Bukan hanya sebagai istri Presiden, tapi karena jasa beliau yang luar biasa," ungkapnya.(hri)

Jumat, 21 Mei 2010

Sri Mulyani : Air Mata Kecintaan

Economy - Fiskal & Moneter

Air Mata Warnai Pidato Terakhir Sri Mulyani
Kamis, 20 Mei 2010 - 18:15 wib
TEXT SIZE :
Andina Meryani - Okezone

Sri Mulyani. Foto: Koran SI
JAKARTA - Acara serah terima jabatan (sertijab) Menteri Keuangan antara Sri Mulyani Indrawati kepada Agus Martowardojo kembali diiringi dengan air mata yang keluar dari Sri Mulyani.

Awalnya, Sri Mulyani mengucapkan terimakasihnya untuk keluarganya, yakni suami dan anak-anaknya.

"Terakhir saya ingin menyampaikan keberhasilan saya tidak lepas dari peran suami, Tony Sumartono," ucap Sri Mulyani yang langsung berhenti berkata, dan meneteskan air mata, di Gedung Kemenkeu, di Jakarta, Kamis (20/5/2010).

Sesaat kemudian, dia melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus. "Suami saya dan anak-anak saya adalah aset-aset yang tidak terkira dalam menjalankan semua tugas-tugas, saya ingin menyampaikan terima kasih ayah (panggilan Tony, suami Sri Mulyani)," lanjutnya sambil mulai menangis.

"Terima kasih yang sebesar-besarnya di Kemenkeu, para keluarga. Media adalah salah satu partner yang terbaik sebagai kontrol mengingatkan saya untuk berbuat yang makin baik. Terima kasih kepada media, saya benar-benar berharap Anda bisa memahami posisi saya. Saya berterima kasih semoga apa yang kita lakukan yang terbaik bagi bangsa negara kita semua," ungkap Sri Mulyani yangt di sambut dengan deru tangis hadirin para pejabat di lingkungan Kemenkeu yang datang karena terharu sambil bertepuk tangan.

Walau dalam keadaan yang demikian syahdu, Sri Mulyani juga masih sempat sedikit bercanda.

"Saya boleh menangis karena sudah bukan menkeu. Pak Agus, kalau jadi Menkeu tidak boleh nangis, nanti rupiah bergoncang. Kalau saya ini ekspresi kelegaan. Saya pamit," tambahnya.

Dia juga menegaskan jika komitmen dirinya kepada Indonesia tidak akan berkurang sedikit pun. Dia juga mengaku memiliki kepedulian yang sangat besar kepada Kementerian Keuangan.

"Saya mohon maaf, maaf saya kepada seluruh jajaran keuangan, banyak ketidaksempurnaan dalam hubungan secara pribadi dan institusional," tukas sang Srikandi.(wdi)

SBY: Ekonomi RI Selamat Berkat Sri Mulyani
Kamis, 20 Mei 2010 - 15:56 wib
TEXT SIZE :
Andina Meryani - Okezone

Menkeu Sri Mulyani. Foto: Koran SI
JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menitipkan sebuah pesan sederhana kepada Sri Mulyani Indrawati (SMI) yang bakal segera hengkang ke Washington DC untuk menjadi Managing Director World Bank.

"Selamat jalan di pengabdian baru. Perjuangkan kepentingan dunia terutama kepentingan negara berkembang, terutama Indonesia," kata SBY dalam sambutannya di sela pelantikan Menkeu-Wamenkeu di Istana Presiden, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (20/5/2010).

Pada kesempatan itu, SBY juga menyinggung jasa-jasa mantan Menteri Keuangan yang mengabdi kepadanya sejak Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I, serta hanya sebentar di KIB jilid II.

"Selamatnya perekonomian Indonesia dari krisis disumbangkan dari kerja keras saudari sebagai Menteri Keuangan negara," ucapnya lagi.

SBY juga mengucapkan terima kasih atas apa yang telah SMI lakukan selama dia menjadi Menkeu.

"Saya, atas nama negara dan pemerintah, ingin mengucapkan terima kasih kepada Sri Mulyani Indrawati, Menkeu yang telah menjalankan tugas sebagai Menkeu sejak Kabinet Indonesia Bersatu I, dan II sekarang ini," tukas dia.

Sebelumnya, sebelum menyampaikan sambutannya, SBY juga memberikan penghargaan dengan memberikan salam terlebih dahulu kepada SMI, baru kepada Mankeu baru Agus Martoawardojo dan Wamenkeu Anny Ratnawati. (wdi)
(ade)
Sri Mulyani: Saya Hanya Manusia Biasa
Kamis, 20 Mei 2010 - 15:34 wib
TEXT SIZE :
Andina Meryani - Okezone

Menkeu Sri Mulyani. Foto: Heru Haryono/Okezone.com
JAKARTA - Sri Mulyani mengucapkan salam terakhirnya ke anggota dewan yang terhormat alias DPR hari ini, karena ini merupakan hari terakhirnya menjadi Menteri Keuangan (Menkeu).

Sri juga memohon maaf kepada seluruh anggota DPR yang hadir dalam sidang paripurna yang membahas RKP 2011, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (20/5/2010).

"Terima kasih untuk semua bantuan baik langsung maupun tidak langsung. Saya pasti punya kesalahan dan kekeliruan karena saya hanya manusia biasa," ujar Sri Mulyani dengan santai.

Dia menambahkan, bila pada sidang dewan yang terhormat ini merupakan penghabisan bagi dirinya untuk berdiri di depan mimbar di hadapan para anggota DPR.

"Karena pada hari ini masa tugas saya akan berakhir, saya mohon diri untuk berpisah, saya senang bisa bekerja sama dengan dewan," tandasnya.

Selain itu, dia juga merasakan banyaknya suka dan duka yang dialami bersama ketika menjalankan tugas masing-masing, serta berusaha mencapai keputusan yang baik demi kepentingan rakyat yang diwakili para anggota DPR. Di mana sering terjadi adanya pandangan yang sama atau sesekali berbeda pendapat.

"Saya jalani dengan percaya dan berusaha keras untuk tidak melupakan, karena setiap orang ingin memperjuangan kepentingan rakyat Indonesia. Saya bersyukur bisa mendapat kesempatan kerja dengan dengan dewan yang terhormat untuk membentuk sejarah bangsa ini. Kita sama-sama bekerja sama untuk kemuliaan dan kesejahteraan bangsa Indonesia," pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Sri Mulyani meminta kepada anggota dewan yang terhormat tersebut untuk iklas memaafkannya dan memperkenankan dirinya untuk pergi dengan perasaan lega, dengan harapan melalui jalan masing-masing yang sudah ditentukan Tuhan dan Allah SWT.
(ade)
Kata-Kata Perpisahan Sri Mulyani untuk DPR
Kamis, 20 Mei 2010 - 11:30 wib
TEXT SIZE :
Andina Meryani - Okezone

Menkeu Sri Mulyani. Foto: Koran SI
JAKARTA - Dalam rapat terakhirnya dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Sri Mulyani Indrawati (SMI) mengucapkan 'kata perpisahan' dengan anggota dewan yang terhormat tersebut.

"Pada sidang dewan yang terhormat ini, ini penghabisan bagi saya untuk berdiri di mimbar ini di hadapan saudara-saudara. Karena pada hari ini masa tugas saya akan berakhir. Saya mohon diri untuk berpisah," kata SMI dalam rapat paripurna DPR, di gedung DPR, Jakarta, Kamis (20/5/2010).

Sedikit mengenang, dia mengatakan jika telah banyak suka dan duka yang terlewati antara dirinya yang menjabat Menkeu dengan anggota DPR ini. Dia juga mengatakan, dalam rapat yang digelar dewan, seringkali dirinya dan anggota dewan berpendapat sama, terkadang beda, dan bahkan juga bertentangan.

"Bukan tidak pernah terjadi salah paham, semua itu saya terima dan jalani dengan tidak melupakan bahwa semua pihak berjuang demi masyarakat dan negara," jelasnya.

Sekaligus, pada kesempatan itu SMI juga mengungkapkan dirinya sangat bersyukur dapat mewakili pemerintah dalam merumuskan kebijakan di DPR ini.

"Saya bersyukur telah memperoleh kesempatan mewakili pemerintah (berkomunikasi) dengan DPR, saya bangga menjadi Menkeu membentuk sejarah bangsa ini. Dan saya berterimakasih atas segala bantuan secara langsung dan tidak langsung," tukas SMI.(wdi)
Kata-Kata Perpisahan Sri Mulyani untuk DPR
Kamis, 20 Mei 2010 - 11:30 wib
TEXT SIZE :
Andina Meryani - Okezone

Menkeu Sri Mulyani. Foto: Koran SI
JAKARTA - Dalam rapat terakhirnya dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Sri Mulyani Indrawati (SMI) mengucapkan 'kata perpisahan' dengan anggota dewan yang terhormat tersebut.

"Pada sidang dewan yang terhormat ini, ini penghabisan bagi saya untuk berdiri di mimbar ini di hadapan saudara-saudara. Karena pada hari ini masa tugas saya akan berakhir. Saya mohon diri untuk berpisah," kata SMI dalam rapat paripurna DPR, di gedung DPR, Jakarta, Kamis (20/5/2010).

Sedikit mengenang, dia mengatakan jika telah banyak suka dan duka yang terlewati antara dirinya yang menjabat Menkeu dengan anggota DPR ini. Dia juga mengatakan, dalam rapat yang digelar dewan, seringkali dirinya dan anggota dewan berpendapat sama, terkadang beda, dan bahkan juga bertentangan.

"Bukan tidak pernah terjadi salah paham, semua itu saya terima dan jalani dengan tidak melupakan bahwa semua pihak berjuang demi masyarakat dan negara," jelasnya.

Sekaligus, pada kesempatan itu SMI juga mengungkapkan dirinya sangat bersyukur dapat mewakili pemerintah dalam merumuskan kebijakan di DPR ini.

"Saya bersyukur telah memperoleh kesempatan mewakili pemerintah (berkomunikasi) dengan DPR, saya bangga menjadi Menkeu membentuk sejarah bangsa ini. Dan saya berterimakasih atas segala bantuan secara langsung dan tidak langsung," tukas SMI.(wdi)

Kamis, 20 Mei 2010

Sri Mulyani : Air Mata Itu Akhirnya Jatuh Saat Sertijab Menkeu

Liputan6.com, Jakarta: Sri Mulyani Indrawati menangis. Air mata mantan menteri keuangan ini akhirnya tak terbendung. Dalam acara serah terima jabatan menkeu, baru-baru ini, Sri Mulyani berulang kali terisak di saat menceritakan suka duka menjadi menkeu [baca: Sri Mulyani Serahkan Jabatan]
Di depan penggantinya, Agus DW Martowardojo dan sejumlah wartawan, Sri Mulyani menceritakan dukungan suami, keluarga dan sejumlah media yang setia mendampinginya. Dia merasa tekanan selama menjabat menteri keuangan tidaklah ringan. Terlebih ketika kebijakan bail out Bank Century dipersoalkan sejumlah pihak, termasuk DPR.
Tangisan menkeu terbaik Asia ini jelas tidak biasa, terlebih dilakukan di hadapan media. Selama ini, Sri Mulyani dikenal sebagai sosok yang kuat, percaya diri, dan penuh integritas. Namun, kali ini air mata Sri Mulyani benar-benar tumpah ketika dirinya kembali mengingat dukungan yang sudah diberikan sejumlah pihak, termasuk keluarga dan media.
Kepada penggantinya, Agus Martowardojo, Sri Mulyani berpesan untuk terus mempertahankan kemajuan ekonomi yang sudah dilakukan dalam lima tahun terakhir. Dia juga mengingatkan bahwa tidak mudah menjadi menkeu, mengingat tugas yang harus diemban cukup berat--termasuk menghadapi tekanan politik [baca: Sri Mulyani: Agus Martowardojo Bisa Lanjutkan Reformasi]
Agus Martowardojo mengaku tak gentar terhadap tekanan politik. Dirut Bank Mandiri ini juga berjanji akan melanjutkan reformasi birokrasi dan kebijakan yang sudah dikeluarkan Sri Mulyani.
Sementara itu, Sri Mulyani dalam pekan ini akan berangkat ke Washington DC, Amerika Serikat. Dia bakal menjalankan tugas baru sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia.(ULF)

Senin, 10 Mei 2010

Mencari Dirigen Lapangan Banteng

10 Mei 2010
Mencari Dirigen Lapangan Banteng
ISYARAT yang dilontarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu langsung memercikkan spekulasi di lingkungan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Setelah Presiden menyatakan Menteri Keuangan berikutnya harus memiliki pengetahuan mumpuni di bidang ekonomi makro dan aktif di forum G-20, nama Armida Alisjahbana mendadak ramai dibicarakan. "Dua kata kunci itu mengarah ke Ibu Armida," kata seorang pejabat Bappenas, Kamis pekan lalu.

Sinyal itu diberikan Presiden setelah kabar mundurnya Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan mencuat ke publik, Rabu pekan lalu. Siang harinya, kabar itu dibenarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam sebuah konferensi pers di Istana Negara, Yudhoyono menegaskan bahwa calon pengganti Sri Mulyani adalah figur yang memahami kebijakan fiskal dan makroekonomi. Menteri baru, kata Presiden, juga harus melanjutkan reformasi perpajakan dan bea-cukai serta bisa mewakili peran Indonesia di forum G-20.

Armida memang kenyang pengalaman. Sebelum menjabat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, ia acap menjadi konsultan Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan Australian Agency for International Development. Dalam pertemuan tahunan ke-43 Dewan Gubernur Bank Pembangunan Asia di Tashkent, Uzbekistan, Selasa pekan lalu, ia juga mendorong Bank Pembangunan Asia berpartisipasi aktif dalam forum G-20, khususnya dalam "proyek" Global Financial Safety Net.

Sosok Armida, kata sumber Tempo yang dekat dengan lingkaran Presiden, pas dengan skenario yang akan diambil Yudhoyono. Menurut dia, setelah bertahun-tahun tensi hubungan antara Sri Mulyani dan Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie memanas, Presiden tidak akan mengambil calon menteri yang dikenal dekat dengan lingkaran Sri Mulyani ataupun yang disodorkan Ical-panggilan Aburizal. "Akan dicari jalan tengah yang lebih adil," katanya. Presiden juga tengah mempertimbangkan kembali kemungkinan sosok perempuan sebagai pengganti Sri Mulyani.

Kepulangan Armida dari Tashkent-lebih cepat dari jadwal semula-memperkuat spekulasi itu. Armida, yang melakukan kunjungan kerja ke Uzbekistan, sejatinya baru pulang pekan ini. Tapi, pada Jumat siang pekan lalu, Armida tiba di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, kemudian menghadiri rapat di Kementerian Keuangan dengan Sri Mulyani. Ia mengelak ketika ditanya ihwal bursa Menteri Keuangan yang baru. "Wah, enggak tahu, saya belum dihubungi Presiden," kata doktor ekonomi lulusan University of Washington, Seattle, Amerika Serikat, ini.

Meski santer digadang-gadang, Armida bukan tanpa catatan. Untuk menjadi Menteri Keuangan, dibutuhkan sosok yang tangguh dengan determinasi tinggi. "Armida belum terbukti dalam hal ini," kata sumber di lingkungan Istana Wakil Presiden. Sedangkan Sri Mulyani sudah membuktikan diri saat menjadi Kepala Bappenas. "Ketika itu, ia langsung menangani Aceh yang habis dilumat tsunami dan ikut merasakan gempuran setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak lima tahun lalu," katanya.

Calon perempuan lain yang santer dibicarakan adalah Anny Ratnawati. Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan ini sebelumnya menjabat Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. "Ia orang titipan Presiden yang ditempatkan di Kementerian Keuangan," kata sumber lain. Anny pula yang menguji disertasi doktoral Susilo Bambang Yudhoyono dalam sidang senat di Institut Pertanian Bogor enam tahun lalu. Menurut Andi Rahmat, anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Keadilan Sejahtera, meski tidak dikenal publik, Anny cukup dikenal di kalangan pelaku ekonomi dan politikus.

Dirjen Anny juga salah satu peneliti di Brighten Institute, lembaga pemikiran yang mendukung Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden pada Pemilihan Umum 2004. Di lembaga ini, Yudhoyono masih tercatat sebagai ketua dewan penasihat. Itu sebabnya, kata sumber di Kementerian Keuangan, meski tak tampak banyak berpolitik, doktor ekonomi pertanian Institut Pertanian Bogor ini dekat dengan lingkungan Istana. Kata sumber di Kementerian Keuangan, Anny juga sohib Kristiani Herawati, istri Yudhoyono.

Yang jelas, sikap Anny berubah sejak namanya masuk bursa calon Menteri Keuangan. Ia biasanya sulit dimintai keterangan oleh juru warta, tapi Kamis pekan lalu mau meladeni wawancara, dari urusan rencana kenaikan gaji hingga reformasi birokrasi di sebelas kementerian dan lembaga. "Reformasi jalan dulu, kemudian diikuti remunerasi," katanya seusai acara pelantikan eselon II Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. Saat disinggung soal bursa calon Menteri Keuangan, dia mengeluarkan jurus lama. "Saya enggak berkomentar soal itu," katanya sambil buru-buru menuju mobil dinasnya.

Anny bukan satu-satunya calon dari lingkungan Kementerian Keuangan yang banyak dibicarakan. Setelah tempo hari gagal menjadi Wakil Menteri Keuangan, nama Anggito Abimanyu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal, kembali disebut-sebut. "Ia dari dulu tangan kanan Sri Mulyani dalam penyusunan fiskal," kata Andi Rahmat. Menurut politikus ini, reputasi Anggito sudah dikenal publik. Kapasitas intelektualnya juga tidak kalah dengan Sri Mulyani.

Bedanya, pendekatan Anggito lebih lentur dan halus. Posisi Anggito selama ini, menurut Andi, menutupi kelemahan Sri Mulyani dalam menjalin komunikasi dengan politikus di parlemen. Sumber Tempo mengatakan ketegasan Sri Mulyani menolak menyediakan "pos gizi" buat mitranya di parlemen menyebabkan ia kurang disenangi para politikus Senayan.

Anggito bukan tanpa cela. Dalam kasus suap anggaran dana stimulus awal tahun lalu, Abdul Hadi Djamal-terpidana kasus suap proyek di Departemen Perhubungan-menyebut nama Anggito sebagai perwakilan pemerintah yang melakukan lobi kepada anggota Dewan soal kewenangan perubahan atau pengajuan anggaran dana stimulus. "Saya yang pertama kali dilobi," ujar bekas anggota Dewan dari Fraksi Partai Amanat Nasional itu. Pertemuan berlangsung di Hotel Borobudur pada akhir Januari 2009 dan di Hotel Four Seasons pertengahan Februari 2009. Anggito mengakui adanya pertemuan informal dengan Dewan. Namun ia juga mengaku lupa agenda pertemuan yang berlangsung di luar gedung Dewan itu.

Kebiasaan Anggito "main belakang" dengan anggota Dewan itulah yang membuat hubungannya dengan Sri Mulyani renggang. "Ia terlalu dekat dengan Dewan," kata sumber itu. Sri Mulyani bukannya tidak tahu apa yang dilakukan Anggito. Ia beberapa kali memanggil Anggito. "Tapi kekuatan Anggito, yang merapat ke (Menteri Koordinator Perekonomian) Hatta Rajasa, juga diperhitungkan," kata sumber tadi. Yang pasti, kata sumber di lingkaran Presiden, insiden Anggito dengan Abdul Hadi Djamal menjadi bahan pertimbangan Presiden Yudhoyono mencari Menteri Keuangan baru.

Anggito belum mau berkomentar soal masuknya nama dia dalam bursa Menteri Keuangan baru. "Saya tidak tahu apa-apa," katanya ketika dihubungi Rabu pekan lalu. Ia juga belum memastikan kesediaannya seandainya Presiden menunjuknya menggantikan Sri Mulyani. "Saya masih umrah. Soal itu nanti saja kalau sudah pulang."

Dari semua kandidat yang bermunculan, cuma Darmin Nasution yang sudah menyatakan bersedia. Penjabat Gubernur Bank Indonesia itu mengaku tidak bisa menghindar bila nanti ditunjuk menggantikan Sri Mulyani. "Kalau saya anggap itu sebagai amanah, ya, saya tidak bisa menghindar," katanya Kamis pekan lalu. Darmin termasuk yang paling senior di lingkungan Kementerian Keuangan. Ia pernah menjadi Direktur Jenderal Lembaga Keuangan, Kepala Badan Pengawas Pasar Modal, dan Direktur Jenderal Pajak.

Jauh sebelum nama-nama itu muncul, kabarnya, Presiden sudah mengajukan wacana untuk menunjuk Gita Wirjawan sebagai pengganti Sri Mulyani. Menurut sumber Tempo, nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal itu dimunculkan dalam pertemuan di Istana Tampak Siring, Bali, akhir April lalu. Pertimbangannya, bekas Presiden JP Morgan Indonesia itu dinilai sosok yang biasa menghadapi gejolak risiko di pasar. "Saya cuma sekadar mendengar (kabar itu)," kata M. Ikhsan, anggota staf khusus Wakil Presiden Boediono.

Yang jelas, sehari setelah pengumuman Sri Mulyani pindah ke Bank Dunia, Presiden menggelar pertemuan di Puri Cikeas, Bogor. Di rumah pribadinya itu, ia mengumpulkan menteri serta ketua umum partai dan ketua fraksi pendukung pemerintah. Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie mengaku tidak mengantongi nama yang akan disodorkan ke Presiden. "Kami sepakat Menteri Keuangan dari kalangan profesional," kata seorang sumber yang hadir pada Kamis malam itu.

Yandhrie Arvian, Agoeng Wijaya, Isma Savitri