Minggu, 01 September 2024

ASIH TI TANJAKAN MANDALAWANGI

Jika saja ini sebuah kesakitan, kami berharap ini adalah sebuah ilusi yang tumbuh dalam hati yang membuat Kami tak bias percaya dengan luka yang dihasilkannya. Tetapi jika luka itu ada pada cinta dan kerinduan serta kenangan itu sendiri, maka kesakitan ini adalah hanya sebuah rongga yang niscaya Kami nikmati. Ibu bagi Kami ini adalah sebuah fase kehidupan yang benar-benar tak terperikan dari sebuah kehidupan sebuah keluarga yang tak tertahankan. Ibu, kau mengingatkan Kami pada kenangan saat singgah di Saung Huma Kecil Tanjakan Mandalawangi. (Shubuh, 12082024, Griya Asri BSD RT54)

IBU, ANTARA KAU DAN AKU

Ibu, antara kau dan aku tahu, bagaimana rasa sakit hati itu datang dan pergi dengan bekas luka yang ditinggalkannya. Sebelumnya aku menduga dimana kau akan tersenyum sekali lagi dimana rasa sakit itu akan berakhir. Kau tidak akan punya waktu untuk berduka. Ibu, antara kau dan aku menangis, ketika itu matahari masih di langit dan bersinar di atasmu. Biarkan aku mendengarmu bernyanyi sekali lagi seperti yang kau lakukan sebelumnya. 




HUKUM & KEADILAN

Pagi Ayah, aku ingin menyampaikan terimakasih apa yang Ayah dan Ibu berikan padaku. Maafkan pengembaraanku tidak sesuai harapan Ayah dan Ibu, biarkan aku berkarier sesuai pilihan. Bagiku Pendidikan sebuah proses menuju pendewasaan bagaimana cara aku berpikir melangkah secara dinamis dan kreatif menaklukan masa depan yang lebih baik. Bukankah Ayah pernah menyampaikan quote padaku saat aku di Bandara CGK 2 tahuln lalu, dimana itu adalah momen melihat tawa dan senyum Ibu juga pelukannya yang terakhir bahwa "Hukum kehidupan bukanlah sekedar keadilan yang dibayangkan, hukum juga bukan kebenaran yang dituliskan, tetapi hukum adalah bertemunya kebenaran dan keadilan dalam satu keputusan." Kini Ibu telah tiada, saat khabar WAG dalam Infinitum publish, aku benar-benar terguncang dahasyat karena teriris tadir yang mengerikan. Ayah, saat khabar itu sampai dunia benar-benar runtuh. Tapi karena ingat quote yang ayah sampaikan, aku tersadar bahwa ini adalah hukum kebenaran dan keadilan dalam kehidupan. Terimakasih Ayah, bagiku kau adalah mata air, semoga kita dipertemukan dan berakhir dalam takdir yang saling mengikhlaskan. (Shubuh,20082024)


Senyummu pada suatu pertemuan jiwaku telah menelan semua jarak tentang kenangan. Dan kini, yang tersisa hanya kanangan pada matamu dan mataku yang saling mencium kerinduan. Sepanjang hidup ini aku akan menunggu rahasia terbuka debgan sia-sia.

DIA SELALU ADA DALAM LELAHKU




Kau telah berjanji akan menjaga dan memeliharaku dan akan terus bersamaku hingga titik perhentian waktumu. Dan kini kau telah berakhir pada hidupku yang masih bersambung lalu bagaimana aku bisa menyambung hindupku tanpamu? (Shubuh, 170824, Griya Asri BSD Blok.F4/7)

IBU TELAH TIADA : MENGENANG 100 HARI WAFATNYA IBU SRI HARTINI


Saya telah menyeka air matanya, itulah kesedihan berujung takdir sehingga kesedihan itu pun terus mengalir dalam detak waktu. Perkenan sebagai pribadi dalam titik puncak kesedihan menghaturkan terimakasih dan Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1 Syawal 1445 H. Semoga Allah SWT memberi kemuliaan pada sisa waktu kehidupan sekalipun  takdir mengiris kebahagiaan. (Jelupang Serpong, 11.4.2024. Pkl.02.17 WIB)

Minggu, 14 Juni 2020

ALBUM PENANDATANGANAN AKTA JUAL BELI : Tanah Al Bayan Putri Selabintana Sukabumi































PENADATANGANAN JUAL BELI TANAH AL BAYAN PUTRI SELABINTANA SUKABUMI - 1

Sekretaris Umum Yayasan: Penandatangan Dokumen


 Ketua Umum Yayasan   
 Menerima Penjelasan dari Abah Jusffry

Abah Menerangkan Tentang Area dan Luasan Tanah Al Bayan Putri Selabintana Sukabumi.


Penyerahan Dokumen MoU dan Jual Beli Tanah 
Al Bayan Putri Sukabumi 
Ketua Umum Yayasan Menyaksikan Penyerahan Dokumen Jual Beli

Abah Juffry Menandatangani Dokumen


Ketua Umum Yayasan Menandatangani Jual-Beli Tanah Al Bayan Putri Selabintana Sukabumi.
Ketua Umum Yayasan: Penandatanganan