Jumat, 07 Mei 2010

Sri Mulyani, Menkeu RI antara Pengandian dan Penolakan DPR RI

Armida Belum Tahu Jadi Kandidat Menkeu
Jum'at, 7 Mei 2010 - 17:10 wib
TEXT SIZE :
Andina Meryani - Okezone
Menteri PPN/Kepala Bapenas Armida Alisjahbana
JAKARTA - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bapenas Armida Alisjahbana mengaku belum mengetahui rumor seputar dirinya akan menjadi salah satu calon pengganti Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Armida yang baru saja tiba di Tanah Air dari pertemuan Asian Development Bank (ADB) di Uzbekistan mengaku, belum mendapat berita terbaru terkait seputar pengganti Menteri Keuangan.
"Enggak tahu, belum dapat berita terbaru, mesti di-update dahulu," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jalan Dr Wahidin, Jakarta, Jumat (7/5/2010).
Guru besar Universitas Padjadjaran ini dikabarkan masuk dalam salah satu kandidat pengisi kursi Menteri Keuangan selepas Sri Mulyani menjabat sebagai Managing Director Bank Dunia.
Sejumlah nama lain yang juga beredar untuk mengisi pos strategis yang ditinggalkan Sri Mulyani tersebut, di antaranya Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Anggito Abimanyu, Deputi Gubernur Senior BI Darmin Nasution, dan Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo.
Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan bahwa pemilihan orang yang tepat untuk mengisi jabatan Menteri Keuangan merupakan hak preogatif Presiden yang akan ditentukan sebelum tanggal 1 Juni 2010.
"Itu hak progratifnya Presiden, itu kebijakan presiden," jelas Hatta.(wdi)
Sebelum ke Amerika, Sri Mulyani Ziarah ke Makam Ibu
Jum'at, 7 Mei 2010 - 15:27 wib
TEXT SIZE :
Menkeu Sri Mulyani. Foto: Koran SI
SEMARANG - Tak lama lagi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akan segera meninggalkan Indonesia untuk bertugas di Wasington DC, Amerika Serikat, sebagai Direktur Bank Dunia.
Sebelum meninggalkan Tanah Air, perempuan penyabet gelar doktor ini di Illinois Urbana Champaign ini juga menggelar sejumlah aktivitas untuk menikmati detik-detik terakhirnya di Indonesia. Hari ini, Ani (sapaan Sri Mulyani) menyambangi kampung halamannya di Semarang, Jawa Tengah.
"Tadi dia menyempatkan ziarah ke makam Ibu kami di Bergota. Setelah itu, kami menghabiskan waktu untuk berbincang," ujar kakak Sri Mulyani, Asri Purwajadi (51) kepada wartawan di kediaman ibunya yang kini dihuni adik bungsu Sri Mulyani di Jalan Kelud Raya Nomor 4, Semarang.
Menurut Asri, Ani juga menyempatkan untuk salat di kamar almarhumah ibunya, Retno Sriningsih Satmoko. "Dia juga sempat mencicip makanan kesukaannya, yakni mangot dan gembus bacem," tandas Asri.
Menanggapi kepergian Ani ke Negeri Paman Sam, keluarga mengaku mendukung sepenuhnya. Di mata keluarga, Ani memiliki disiplin tinggi seperti orang tuanya. "Kami percaya kepada dia, kami mendukung dia beraktivitas di Amerika," tukas Asri.
Sebagaimana diketahui, awal Juni mendatang Sri Mulyani akan memulai aktivitas baru sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia. Keputusan Ani tersebut meninggalkan kontroversi. Ani dinilai, telah mengharumkan bangsa, tapi sebagian kalangan juga menilai Ani tidak memiliki jiwa nasionalis.(susilo himawan/Koran SI/wdi)
Hatta Rajasa Kehilangan Sosok Sahabat
Jum'at, 7 Mei 2010 - 14:45 wib
TEXT SIZE :
Andina Meryani - Okezone
Menkeu Sri Mulyani. Foto: Heru Haryono/Okezone.com
JAKARTA - Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengaku sangat kehilangan sosok sahabatnya, Sri Mulyani, yang akan meninggalkan posnya sebagai Menteri Keuangan.
Hatta yang telah bersama-sama Sri Mulyani bergabung dalam Kabinet Indonesia Bersatu sejak 2004, telah menganggapnya sebagai sahabat yang bersama-sama berjuang di pemerintah.
"Sebagai sahabat, saya merasa kehilangan beliau (Sri Mulyani). Kita sudah menjadi satu tim, sudah lima tahun di Kabinet Indonesia Bersatu," ujarnya saat temu wartawan, di Kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (7/5/2010).
Meskipun secara pribadi, Hatta merasa kehilangan sahabatnya, namun di lain pihak, dirinya pun merasa sangat bangga dengan prestasi Sri Mulyani yang akan menduduki posisi orang nomor dua di Bank Dunia.
"Tapi saya juga bangga ada seorang putri Indonesia yang akan menjadi orang nomor dua di Bank Dunia," tegasnya.
Dia berharap, siapapun orang yang menggantikan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan mampu melanjutkan reformasi birokrasi sektor keuangan yang telah diusungnya.
Sebagaimana diketahui Presiden Susilo Bambang Yudhoyoni memang menaruh concern besar terhadap Reformasi Birokrasi sehingga siapapun yang dipilih presiden haruslah meneruskan hal tersebut.
"Penunjukkannya tidak boleh ada diskriminasi. Tapi siapapun yang ditunjuk, agenda reformasi harus terus berjalan," tandasnya.(wdi)

Kerja di World Bank, SMI Bisa Moratorium Utang RI?
Jum'at, 7 Mei 2010 - 14:30 wib
TEXT SIZE :
Andi Wesal Saladin - Okezone
Menkeu Sri Mulyani. Foto: Koran SI
JAKARTA - Keberangkatan Sri Mulyani ke Washington DC selayaknya membawa misi khusus bagi bangsa Indonesia. Bila itu tercapai, baru bangsa ini akan mengangkat dia sebagai manusia setengah dewa.
Salah satu misi khusus yang seharusnya diemban Sri Mulyani di World Bank adalah mengupayakan moratorium utang Pemerintah Indonesia yang jumlahnya mencapai triliunan rupiah.
Selain itu, dengan posisinya sebagai Managing Director World Bank, dia bisa mendorong perubahan kebijakan intervensi bank dunia terhadap investasi-investasi dan industri yang merusak alam Indonesia.
"Seharusnya itu yang dimandatkan kepada Sri Mulyani oleh SBY dan para menterinya. Akan lebih menarik, cerdas, dan pintar apabila SBY memperbolehkan Sri Mulyani memegang jabatan di World Bank dengan agenda yang jela," ujar Koordinator Kampanye Walhi Teguh Surya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Jumat (7/5/2010).
Sebaliknya, bila SBY melepas Sri Mulyani tanpa agenda yang jelas. Maka hal itu merupakan bukti baru kegagalan SBY dalam melindungi Sri Mulyani. "SBY memang tidak pernah belajar dari kegagalan yang dilakukannya," ujarnya.
Seperti diketahui, Presiden telah menerima permohonan pengunduran diri Sri Mulyani. Per 1 Juni mendatang, Sri Mulyani akan pindah kantor ke Washington DC, Amerika Serikat. (wdi)

Mustafa Dukung Agus Marowardoyo Jadi Menkeu
Jum'at, 7 Mei 2010 - 14:18 wib
TEXT SIZE :
Wilda Asmarini - Okezone
Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo
JAKARTA - Beredarnya rumor dicalonkannya Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo sebagai Menteri Keuangan pengganti Sri Mulyani disambut baik oleh Menteri BUMN Mustafa Abubakar.
"Ya baguslah. Kami sangat bangga kalau beliau (Agus Martowardojo) terpilih," ungkap Mustafa, saat ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (7/5/2010).
Namun demikian, Mustafa menegaskan, keputusan siapa yang akan menjadi Menteri Keuangan itu merupakan kewenangan Presiden. "Presiden akan memilih yang terbaik," tukasnya.
Tapi di sisi lain dia juga berharap agar Dirut Mandiri tersebut menjadi calon kuat di antara sejumlah calon dari rumor yang beredar.
"Kita doakan Beliau menjadi calon kuat dari empat calon yang ada," pungkasnya.
Seperti rumor yang saat ini beredar, ada beberapa nama yang dilontarkan sebagai pengganti Sri Mulyani, antara lain Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu, Pjs Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardoyo.(wdi)
Hatta: Baiknya Menkeu dari Non-Parpol
Jum'at, 7 Mei 2010 - 14:12 wib
TEXT SIZE :
Andina Meryani - Okezone
Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Foto: Koran SI
JAKARTA - Bergengsinya jabatan menteri keuangan (menkeu) membuat posisi tersebut menjadi incaran sejumlah pihak. Namun, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengusulkan sebaiknya orang yang mengisi jabatan menkeu bukanlah berasal dari partai politik (Parpol).
"Saya pribadi mengusulkan menteri keuangan sebaiknya dari non-parpol," ujarnya saat temu wartawan di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (7/5/2010).
Menurutnya, calon pengganti Sri Mulyani tersebut haruslah memiliki sejumlah kapasitas yang kompeten untuk memimpin lembaga yang mengusung reformasi birokrasi tersebut.
Di antaranya yaitu memiliki integritas dan track record yang baik, serta memiliki kompetensi di bidang makro dan fiskal, serta mampu memahami sektor riil dan pasar. Namun, menurutnya yang terpenting dimiliki oleh calon Menkeu baru tersebut, yaitu harus melanjutkan program reformasi birokrasi sektor keuangan yang telah dirintis Sri Mulyani sebagaimana dipesankan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Agenda reformasi di sektor keuangan harus berlanjut," tegasnya.
Sementara itu, terkait dengan kebijakan yang akan dijalankan oleh Menkeu baru, dia meyakinkan, tidak akan terdapat suatu hal yang mengejutkan dari Menkeu baru tersebut. Pasalnya semua kebijakan yang telah berjalan saat ini akan tetap dilanjutkan.
"Siapapun Menteri Keuangannya tidak akan melakukan perubahan policy yang telah berjalan, tidak akan ada kejutan," tambahnya.
Dia pun menegaskan, pemilihan orang yang tepat untuk mengisi jabatan menkeu merupakan hak preogatif Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan ditentukan sebelum tanggal 1 Juni 2010.
"Itu hak progratifnya presiden, itu kebijakan presiden," jelasnya.(rhs)
Darmin: Jadi Menkeu? Saya Belum Tahu
Jum'at, 7 Mei 2010 - 14:03 wib
TEXT SIZE :
Rheza Andhika Pamungkas - Okezone
Pjs Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution
JAKARTA - Pjs Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution santer disebut-sebut menjadi salah satu orang yang akan bakal menjabat Menteri Keuangan (Menkeu) menggantikan Sri Mulyani yang hengkang ke World Bank.
Walau demikian, Darmin juga masih belum banyak berkomentar mengenai hal itu. "Saya belum tahu," katanya usai salat Jumat di kantornya, Jakarta, Jumat (7/5/2010).
Pascakepastian mundurnya Sri Mulyani diungkapkan oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, muncul banyak nama yang bakal menjadi pengganti Sri Mulyani.
Selain Darmin, ada juga Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo dan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Anggito Abimanyu yang namanya disebut.
"Itu hak presiden yang memutuskan (pengganti Sri Mulyani). Kalau diganti yang cocok Agus Martowardojo, Anggito Abimanyu, Darmin Nasution, dan Iwan Jaya Azis (guru besar ekonomi di Harvard)," tukas Anggota Komisi XI dari Fraksi PKS Andi Rahmat belum lama ini.(wdi)
Menkeu: Hilangkan Kebiasaan Beri Amplop!
Jum'at, 7 Mei 2010 - 11:17 wib
TEXT SIZE :
Rani Hardjanti - Okezone
Menkeu Sri Mulyani. (Foto: Koran SI)
JAKARTA - Sebelum bertolak ke Washington, Menteri Keuangan Sri Mulyani terus memberikan wejangan kepada anak buahnya di lingkungan Kementerian Keuangan.
Dalam beberapa kali kesempatan acara, Sri Mulyani memberikan petuah seputar reformasi birokrasi dan memberikan amanah mengenai kesiapan mental pegawai Departemen Keuangan dalam menghadapi berbagai kesempatan.
Tampaknya Sri Mulyani pun kini telah bersiap diri untuk meninggalkan Lapangan Banteng, tempat dirinya biasa mengantor sejak 2005.
Pada suatu kesempatan Sri Mulyani juga secara terang-terangan menyatakan akan memasuki masa transisi, menyusul penunjukkan dirinya sebagai managing director World Bank oleh Presiden Bank Dunia Robert Zoellick.
Yang terbaru, Menkeu berpesan pada pegawai Ditjen Perbendaharaan untuk berhati-hati dalam menjalani tugasnya.
Hal tersebut disampaikan dalam grand launching layanan unggulan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan DKI Jakarta, Kamis 6 April kemarin.
''Bendahara harus hati-hati, tapi juga harus responsif. Kalau hati-hati terus, bisa frustasi,'' ujar Menkeu, demikian dikutip dalam keterangan tertulis Departemen Keuangan, Jakarta, Jumat (7/6/2010).
Seperti halnya Dirjen Perbendaharaan, Menteri Keuangan pun pernah mendengar pernyataan bahwa Menkeu yang baik adalah Menkeu yang selalu bilang "tidak".
''Mungkin artinya tepat sasaran, tepat jumlah, tepat waktu, karena ini bukan uang pribadi saya,'' paparnya.
Untuk itu, Menkeu mengimbau kepada setiap satuan kerja agar menghilangkan kebiasaan memberikan amplop. ''Tolong ini (kebiasaan memberi amplop) dihilangkan. Tulis besar-besar di setiap loket, dilarang memberi dan menerima amplop,'' pinta Menkeu.
Dalam kesempatan tersebut, Menkeu juga menyampaikan bahwa pihaknya akan menginstruksikan Inspektorat Jenderal untuk melakukan pengawasan.
''Semua random, ad hoc, anytime, anyplace. Semua bisa jadi sample. Jangan sampai ada alasan apapun, saya juga tidak rela, karena remunerasi sudah cukup,'' tegas Menkeu. ''Kalau merasa tidak cukup, ya keluar saja, jadi wiraswasta atau apa saja boleh. Jangan jadi Gayus saja, jangan sampai merusak korps,'' tambahnya.
(rhs)

Kursi Menkeu Jangan Kosong Seperti Gubernur BI
Kamis, 6 Mei 2010 - 10:05 wib
TEXT SIZE :
Candra Setya Santoso - Okezone
Foto: Koran SI
JAKARTA - Sosok pengganti Sri Mulyani Indrawati (SMI) yang ideal masih menjadi tanda tanya besar, pascapindah ke Bank Dunia (World Bank/WB) per 1 Juni nanti. Sebagai pengganti Sri Mulyani, Indonesia perlu ambil yang baik dan tinggalkan banyak kelemahan Sri Mulyani selama ini.
"Salah satunya, kita perlu menteri keuangan yang menjaga amanah UUD 1945 dalam kelola kebijakan fiskal," ungkap Pengamat dari Econit Hendri Saparini, melalui pesan singkatnya yang diterima okezone, di Jakarta, Kamis (6/5/2010).
Dijelaskannya, masyarakat harus menanggapi dengan legowo, pinangan Bank Dunia kepada ibu Sri Mulyani Indrawati dengan proporsional. Adalah wajar jika bank dunia memilih beliau karena cara pandang yang sama.
Menjadi catatan saat ini, jelasnya karena Sri Mulyani masih menjadi pejabat publik dan masih ada masalah politik dan hukum, baik Century maupun pajak yang mustinya menjadi pertimbangan Presiden SBY dan Bank Dunia, bila benar-benar pendukung good governance.
"Tapi Insya Allah untuk pengelolaan fiskal tidak akan terganggu, asal Presiden SBY segera berani mencari pengganti tidak seperti gubernur Bank Indonesia (BI) yang dibiarkan lowong," jelasnya.
Apa yang diamanahkan konstitusi harus jadi prioritaskan APBN. Baik penerimaan maupun belanja. Selain itu, penguasaan sumber daya alam (SDA) oleh negara sebagai sumber penerimaan negara harus tercermin dalam APBN. Selain itu pembiayaan pembangunan dengan utang yang selama lima tahun terakhir meningkat tajam, juga harus dikoreksi karena telah mempengaruhi kebijakan yang menjauh dari konstitusi.
"Amanah memberi pendidikan, lapangan kerja bagi seluruh rakyat juga santuni fakir miskin harus tercermin dalam prioritas anggaran," ujarnya.
Syarat lainnya adalah kemampuan manajemen fiskal yang lebih baik, sehingga realisasi anggaran tidak tertumpuk di akhir tahun. "Jangan berani melakukan terobosan kebijakan tetapi tidak melanggar aturan perundangan sehingga kasus Century tidak terulang," pungkasnya.
(css)

Sri Mulyani, Perjelas Dismatched Politik dengan Ekonomi
Kamis, 6 Mei 2010 - 07:55 wib
TEXT SIZE :
Widi Agustian - Okezone

Foto: Koran SI
JAKARTA - Ekonomi Indonesia sekarang ini berada dalam level yang unik. Di mana ekonomi berjalan tanpa ada dukungan dari politik.
Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Airlangga Hertarto mengungkapkan sekarang ini tengah terjadi dismatched antara ekonomi dan politik. "Dismachted ekonomi dan politik memang tengah terjadi sekarang ini," ujar Arilangga saat ditemui di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (5/5/2010) malam.
Dia menjelaskan, dimana sepanjang sejarah Indonesia sekarang ini tidak ada orang yang menduduki jabatan sebagai pemegang tertinggi otoritas moneter, Gubernur Bank Indonesia (BI).
"Posisi Menkeu juga kosong, karena ibu Menkeu mengundurkan diri," ungkapnya.
Menurutnya, Sri Mulyani yang menerima pinangan Bank Dunia untuk menjadi managing director memanglah haknya. Dan Indonesia, lanjutnya harus bergerak secara prudent dari sisi ekonominya.
Tak hanya itu, katua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) juga masih dijalankan oleh ketua sementara (Plt) pasca MS Hidayat terpilih menjadi Menperin.
"Dan semua itu terfaktorkan dalam market, berakumulasi dengan faktor negatif lainnya melemahkan market," paparnya.
Karena itu, dia mengungkapkan jika dalam waktu dekat ini akan ada Gubernur BI baru, Menkeu baru serta ketua Kadin baru.
Airlangga menjelaskan, tokoh yang bisa menjadi penggantau Sri Mulyani menjadi Menkeu adalah tokoh yang memfokuskan diri kepada sektor riil.
"Kami menginigngkan tokoh yang mendorong sektor riil. Ekonomi Iindonesia sebenarnya 80 persen didorong oleh sektor riil, dan itu ada di luar jangkauan pemerintah selama ini," paparnya.
Di mana ia menyebutkan jika sektor riil ini selalu kurang mendapatkan perhatian. Akibatnya pertumbuhan terhambat kendti fundamentalnya bagus. "Sektor riil tidak memperoleh insentif (yang cukup). Padahal ini back bone ekonomi kita," ungkapnya.
(css)

SBY Kehilangan Menteri Terbaiknya
Rabu, 5 Mei 2010 - 14:45 wib
TEXT SIZE :
Insaf Albert Tarigan - Okezone
Foto: Koran SI
JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku kehilangan salah satu menteri terbaiknya. Sri Mulyani dinilai sebagai menteri terbaik yang menduduki dua periode kabinet di bawah kepemimpinan SBY.
Ungkapan yang disampaikan Presiden tersebut sehubungan dengan permintaan dan pengangkatan Sri Mulyani sebagai managing director pada lembaga donor internasiona, Bank Dunia. ”Sesungguhnya kita kehilangan salah satu menteri terbaik kita, karena harus berpindah tempat yang sebelumnya bergabung dalam jajaran kabinet Indonesia I dan II, untuk pindah ke Bank Dunia,” ungkap SBY, saat memberikan keterangan perss mengenai promosi Sri Mulyani, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/5/2010).
Di mata SBY, Sri Mulyani telah bekerja keras, serta telah mengembangakan kebijakan besar yang selama ini tepat. Beliau mendisiplinkan penggunaan anggaran dan akuntabilitas dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) juga melakukan reformasi di Direktorat Pajak dan Direktorat Bea Cukai. Sehingga, jelasnya, penerimaan negara saat ini kian meningkat cukup besar. "Bahkan, Sri Mulyani juga aktif di forum internasional, seperti G-20," katanya.
Dijelaskannya, Bank Dunia telah mengumumkan tentang pengangkatan tersebut. "Hari ini juga saya telah menerima surat pengunduran diri beliau," katanya.(css)
Diperiksa KPK Lagi, Menkeu Tak Ikut Rakor
Selasa, 4 Mei 2010 - 12:10 wib
TEXT SIZE :
Andina Meryani - Okezone
Menkeu Sri Mulyani. Foto: Koran SI
JAKARTA - Jelang pemeriksaan kedua oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Menteri Keuangan Sri Mulyani sepertinya mempersiapkan segala sesuatunya di kantornya saja.
Semestinya pagi tadi, Sri Mulyani menghadiri dua acara. Yang pertama yaitu rakor Pangan di Kantor Menko Perekonomian pukul 07.00 WIB dan acara lokakarya revenue recognition and tax revenue under accounting di Hotel Borobudur.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa, menyatakan bahwa menkeu sudah menyampaikan izin untuk tidak mengikuti rakor pagi tadi dengan alasan ada kegiatan lain.
"Tadi ibu Sri Mulyani menyampaikan bahwa tidak bisa hadir rapat karena ada kegiatan lain," ujar Hatta usai rakor di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (4/5/2010).
Namun berdasarkan pantauan okezone di kantor Kementerian Keuangan, sejak sekira pukul 09.30 WIB Menkeu sudah datang di kantornya dan tidak diketahui pasti kegiatan Menkeu hari ini selain pemeriksaan KPK yang dijadwalkan pada pukul 14.00 WIB.
Sejumlah pewarta pun sudah mulai terlihat menyambangi kantor kementerian keuangan.(wdi)
Besok, Menkeu Kembali Diperiksa KPK Pukul 14.00 WIB
Senin, 3 Mei 2010 - 11:49 wib
TEXT SIZE :
Andina Meryani - Okezone
Menkeu Sri Mulyani. Foto: Koran SI
JAKARTA - Menteri Keuangan akan kembali diperiksa KPK terkait bailout Bank Century besok sekira pukul 14.00 WIB. Namun, belum diketahui secara pasti lokasi pemeriksaan apakah di Kantor Kemenkeu seperti pemeriksaan sebelumnya ataukah dilakukan di KPK.
Hal tersebut diungkapkan oleh Sekjen Kemenkeu Mulia Nasution usai acara konferensi pers di Kantor Pusat Pajak, Jakarta, Senin (3/5/2010).
Menurutnya, Menkeu siap untuk menjalankan pemeriksaan KPK dimana saja baik di KPK maupun dikantornya.
"Ibu siap diperiksa dimana saja, kalau diminta ke KPK beliau akan datang, kalau mereka datang jam 2, ya Ibu juga siap menemui," ujarnya.
Namun, menurutnya, pihak Kemenkeu tetap berharap pemeriksaan terhadap Menkeu tetap dilakukan di Kantor Kemenkeu. "(Inginnya) di Kantor," tandasnya.(wdi)

Lagi, Hanura dan PDIP Walk Out dari Paripurna
Senin, 3 Mei 2010 - 11:44 wib
TEXT SIZE :
Wilda Asmarini - Okezone
Suasana sidang anggota DPR. (Foto: Heru Haryono/okezone)
JAKARTA - Lagi-lagi kehadiran Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam rapat di DPR disikapi dingin oleh anggota dewan. Kali ini, dalam rapat paripurna yang beragendakan pengesahan APBNP 2010, dua fraksi dengan total jumlah anggota 72 anggota dewan melakukan walk out.
Dimana sebanyak seluruh anggota Fraksi PDIP yang berjumlah 60 orang walk out, begitu juga dengan sebanyak 12 orang anggota Fraksi Hanura.
"Kami keberatan atas kehadiran Sri Mulyani karena terkait putusan paripurna sebelumnya tentang kasus Century," jelas anggota DPR dari Fraksi Hanura Erick Fatriya Wardana dalam rapat paripurna, sebelum dirinya angkat kaki daru ruangan di Gedung DPR, Jakarta, Senin (3/5/2010).
"Sekali lagi kami menyatakan, ini bukan masalah personal. Tolong pemerintah menghargai putusan DPR, begitu juga DPR menghargai putusannya (sendiri)," kata Anggota Fraksi Hanura Akbar Faisal pada kesempatan yang sama.
Sementara itu anggota DPR dari Fraksi PDIP Bambang Mulyanto menjelaskan, jika rapat paripurna harus konsisten dengan keputusan rapat paripurna sebelumnya. "Kalau sudah menyetujui APBNP dalam tingkat pertama, kami tidak akan menghadiri tingkat dua ini bila Menkeu tetap hadir di sini," tegasnya.
"Yang pasti Fraksi PDIP konsisten dengan apa yang sudah diputuskan," jelas anggota Fraksi FPIP Puan Maharani.
Pada kesempatan itu, pimpinan sidang Anis Matta menegaskan, jika kehadiran Menkeu adalah atas undangan dari DPR sendiri. Yakni berdasarkan kepada kesepakatan Badan Musyawarah (Bamus) DPR.
"Karena Bamus diwakili semua fraksi maka kekuatan legalnya sangat kuat. Terkait kasus Century kan masih dalam proses hukum. Oleh karena itu, mari kita lanjutkan rapat ini," ajak Anis.
Akan tetapi, salah satu anggota F-PDIP Effendi Simbolon menjelaskan, jika tidak ada kesepakatan Bamus seperti yang dikatakan oleh Anis Matta. "Tidak ada itu," ungkap setelah keluar dari ruangan sidang.
"Sri Mulyani jangan ada dong, dia kan bermasalah. Masa lagi bermasalah ikut sidang. Tapi putusan DPR kan sudah jelas Sri Mulyani bersalah. Kalau ini diteruskan pasti akan ada kebuntuan. Presiden mementingakan Sri Mulyani apa APBNP? Apa sih pentingnya Sri Mulyani? Memang mereka berani melanjutkan sidang, kalau Sri Mulyani keluar kita juga akan balik lagi," kata Effendi.(wdi)
Sri Mulyani Waspadai Overheating
Minggu, 2 Mei 2010 - 16:29 wib
TEXT SIZE :
Wilda Asmarini - Okezone
Menkeu Sri Mulyani. Foto: Heru Haryono/Okezone.com
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan jika dirinya sudah menyadari bahaya dari overheating pascapemulihan ekonomi yang tengan berjalan sekarang ini.
"Kami sudah memahami akan terjadinya kemungkinan dampak dari pemulihan ekonomi ini dan capital inflow yang akan menciptakan dampak terhadap jumlah uang beredar dan akan menimbulkan beberapa ekses dalam bentuk overheating," jelas Sri Mulyani saat ditemui usai rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR, Sabtu (1/5/2010).
Dia menggambarkan, yang dimaksud dengan overheating tersebut adalah tekanan-tekanan terhadap beberapa harga dari aset-aset apakah itu aset likuid, seperti capital market atau aset-aset yang sifatnya nonlikuid seperti properti dan lain-lain.
Wanita yang kerap di sapa Ani ini menjelaskan jika dilihat dari target inflasi yang sekarang ini sebesar 5,3 persen lebih rendah dari pada realisasi inflasi pada 2009 yang sebesar 2,8 persen telah menggambarkan kemungkinan terjadinya overheating.
"Sebetulnya kalau dilihat dari target inflasi itu lebih tinggi dari tahun lalu itu sudah menggambarkan," jelasnya.
Tapi, lanjutnya bukan berarti defisit anggaran sebesar 2,1 persen disebabkan atau akan menyebabkan overheating.
"Kita kan defisit 2,1 persen, memang tujuannya stimulus. Kalau overheating yang berasal dari instansi permintaan itu bukan faktor penyebabnya. Overheating kan penyebabnya jumlah uang beredar karena capital flow, itu yang disampaikan IMF," tukasnya.(wdi)
Sri Mulyani Lempar Senyum Soal Pemeriksaan KPK
Rabu, 28 April 2010 - 19:46 wib
TEXT SIZE :
Ajat M Fajar - Okezone
Menkeu Sri Mulyani. Foto: Heru Haryono/Okezone.com
JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan meminta keterangan Sri Mulyani, besok, terkait penyelidikan kasus Century.
Meski tak berkomentar, mantan Ketua Komite Sistem Stabilitas Keuangan (KSSK) itu tampak yakin menghadapi pemeriksaan skandal bailout Bank Century senilai Rp6,7 triliun.
"Kita siapkan semuanya," kata Mulyani sembari melempar senyum kepada wartawan di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu, (28/4/2010).
Ketika wartawan kembali mempertegas pertanyaan, Mulyani menjawab dengan kalimat sama. "Kita siapkan semuanya," ujar dia.
Seperti diketahui, besok, KPK akan meminta keterangan Sri Mulyani di kantornya. Dalam perkara Century, KPK sudah memanggil lebih dari 70 orang di antaranya pejabat KSSK, Bank Indonesia, Bank Century (kini Mutiara), termasuk terpidana kasus perbankan Century, Robert Tantular dan Hermanus Halim.
Sebelumnya melalui Kementrian Keuangan atau Kemenkeu, Sri Mulyani meminta KPK melakukan pemeriksaan dirinya di Gedung Kemenkeu. Surat tersebut dilayangkan ke KPK pada Selasa 27 April kemarin.
Atas persetujuan tersebut, KPK berencana memeriksa Ani, panggilan Sri Mulyani, di kantornya. Dalam pemeriksaan tersebut, KPK akan mendalami kasus Bank Century yang diselidiki KPK. (ram)(ade)
Mau Diperiksa KPK, Sri Mulyani Didoakan Menteri Agama
Rabu, 28 April 2010 - 12:55 wib
TEXT SIZE :
Andina Meryani - Okezone
Menkeu Sri Mulyani. Foto: Astra Bonardo/Koran SI
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani yang akan diperiksa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) besok kelihatannya tampak tenang dan santai.
Dirinya pun tidak berkomentar banyak mengenai pemeriksaannya besok dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) pada saat kebijakan bailout Bank Century di 2008. Pemeriksaan sendiri rencananya akan dilangsungkan di kantor Menteri Keuangan.
Namun demikian, di balik itu, dirinya ternyata banyak mendapat dukungan serta doa. Seperti misalnya Menteri Agama Suryadharma Ali yang mengungkapkan bila dirinya mendoakan kelancaran pemeriksaan wanita yang biasa disapa Ani ini.
"Sudah didoakan kok," ujar Suryadharma Ali, yang berjalan di sebelah Sri Mulyani, di sela-sela pembukaan Musrenbangnas 2010 di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (28/4/2010).
Sebelumnya, Sri Mulyani saat ditanyai persiapannya menghadapi pemeriksaan itu, dia hanya menjawab bercanda, "Tanya sama bapak dong (Suryadharma Ali)," katanya kepada Suryadharma, yang kebetulan berdiri di dekatnya.
Saat disinggung mengenai materi apa yang disiapkannya menjelang pemeriksaan, Sri Mulyani pun mengelak. "Ya disiapkan saja."(ade)

Pertemuan Jum'at Sore antara Sri Mulyani dengan Armida

Pertemuan Jumat Sore antara SMI dan Armida
Sabtu, 8 Mei 2010 - 12:12 wib TEXT SIZE : Andina Meryani - Okezone
JAKARTA - Ada yang tidak biasa dengan kedatangan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bapenas Armida Alisjahbana ke Kantor Kementerian Keuangan, Jumat (7/5/2010) sore. Apa pasal?
Armida yang mengaku baru saja mendarat dari rangkaian kegiatan Asian Development Bank (ADB) Meeting di Riyadh, Arab Saudi langsung menemui Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang juga baru tiba dari kampung halamannya di Semarang. Kabar yang beredar, bahwa kedatangan Armida tersebut untuk menghadiri rapat koordinasi terkait perumahan iklim (climate change).
Namun, apakah ada pembicaraan lain dalam pertemuan dua menteri perempuan tersebut ketika bertemu? Pertanyaan ini wajar terlontar, mengingat Armida adalah salah satu nama yang masuk dalam bursa calon pengganti menteri keuangan.
Ketika dikonfirmasi terkait hal tersebut, Armida terlihat malu-malu menjawabnya. Lagi-lagi, dia mengaku belum terlibat pembicaraan seputar rumor yang beredar tersebut.
"Ya nanti aja kita lihat ya, itu kan baru berita belum bisa dikonfirmasi. kalau saya sendiri belum datang tidak lama dari bandara langsung ke sini," ujarnya.
Dia pun mengaku belum ada pembicaraan terkait kemungkinan dia mengisi posisi Menteri Keuangan dengan Presiden SBY.
"Oh belum (pembicaraan), tidak ada," tegasnya.
Sebagai rekan kerja di Kabinet Indonesia Bersatu II ini, Armida mengaku sangat menghargai dan mengagumi kepemimpinan dan prestasi yang dicetak oleh Sri Mulyani selama ini terutama terkait masalah reformasi birokrasi.
"Selama Beliau menjadi menkeu, banyak yang telah Beliau lakukan reformasi birokrari yang sifatnya internal di Kementerian Keuangan maupun nasional," tambahnya.
Selain mengangumi kinerja Sri Mulyani di dalam negeri, dirinya juga mengapresiasi dan respek terhadap prestasi Sri Mulyani di dunia internasional, sehingga tidak salah jika akhirnya Sri Mulyani ditunjuk oleh Bank Dunia untuk menduduki jabatan sebagai Managing Director.
"Tentu juga yang saya juga apresiasi dan respek adalah kepemimpinan leadership Bu Ani di forum-forum internasional itu sangat direncanakan seperti G20," tandasnya.(adn)
(rhs)

Dekan Fakultas Ekonomi UI Firmansyah : DPR versus Menteri Keuangan RI

DPR versus Menkeu
Rabu, 14 April 2010 - 09:55 wib TEXT SIZE :
Dekan Fakultas Ekonomi UI Firmanzah, Ph.D. (Foto: Koran SI) GLOBAL Competitiveness Report mendefinisikan daya saing sebagai seperangkat institusi, kebijakan, dan faktor-faktor yang menentukan tingkat produktivitas suatu negara.
Selaras dengan definisi itu,institusi berperan penting dalam meningkatkan produktivitas ekonomi di Indonesia. Masing-masing institusi perlu menyadari peran tersebut sehingga permasalahan antarinstitusi pemerintah (Kementerian Keuangan) dan Komisi XI DPR, terutama dalam pembahasan RAPBN-P 2010,seharusnya tidak perlu terjadi. Elite di DPR dan pemerintah seharusnya dapat lebih intens lagi membangun basis kerja sama demi meningkatkan efektivitas koordinasi antarinstitusi, khususnya an-tara eksekutif dan legislatif.
Masalah kerja sama antara pemerintah dan DPR sangat substansial lantaran masalah ini menyangkut efektivitas kerja birokrat, baik di tingkat pusat maupun daerah. Peran eksekutif dan legislatif perlu diletakkan dalam perspektif kepentingan nasional yang lebih luas sehingga tidak perlu terkotak-kotak di antara kepentingan keduanya. Eksekutif dan legislatif bisa saling melengkapi demi mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Persoalan RAPBN tidak hanya menyangkut kepentingan pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Komisi XI DPR.RAPBN berdampak cukup luas kepada nasib seluruh rakyat Indonesia. Penyesuaian (adjustment) asumsi-asumsi yang melatarbelakangi APBN perlu dilakukan demi mewujudkan anggaran yang sehat dan adaptif dengan berbagai perubahanekonomiglobaldannasional.
Kita mengetahui secara persis bahwa ekonomi nasional sangat dipengaruhi tidak hanya faktorfaktor domestik.Turbulensi di tataran regional dan global seperti kenaikan harga minyak mentah dunia berdampak langsung terhadap beban anggaran nasional sehingga dibutuhkan kecepatan untuk mengantisipasi setiap unexpected-event. Keharmonisan antara pemerintah dan DPR adalah prasyarat bagi tercapainya hubungan antarinstitusi yang efektif.
Institusi yang dapat membuat keputusan dengan efektif dalam menghadapi situasi normal maupun dalam krisis akan menentukan efektivitas implementasi belanja pemerintah (government expenditure). Tanpa ada kejelasan hubungan kerja yang efektif ini, usaha untuk merencanakan berbagai praktik yang dapat meningkatkan efisiensi institusi dan birokrasi di Indonesia sulit direalisasikan.
Publik beberapa hari ini memperhatikan bahwa pertemuan yang sedianya dilaksanakan oleh menteri keuangan, BI, Bappenas dengan DPR adalah pertemuan yang akan membahas usulan optimistis target pertumbuhan ekonomi di atas 5,5 persen dalam APBN-P 2010.
Target optimistis yang akan disampaikan pemerintah ditambah dengan sejumlah asumsi makro yang akan mengalami perubahan antara lain inflasi berubah dari 5,0 persen menjadi 5,7 persen,kurs rupiah yang terapresiasi dari Rp10.000 menjadi Rp9.500 per dolar Amerika Serikat (AS),suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) tiga bulan dari 6,5 persen menjadi 7,0 persen, harga minyak dari USD65 menjadi USD77 per barel, dan asumsi lifting minyak sebesar 965.000 barel per hari.
Perubahan asumsi-asumsi di atas memiliki implikasi terhadap belanja pemerintah.Selama krisis subprime-mortgage beberapa waktu lalu, dunia kembali disadarkan arti penting peran pemerintah dalam menggerakkan roda perekonomian suatu negara.Stimulus fiskal menjadi tumpuan untuk kembali membangun optimisme pasar yang tersendat akibat krisis ekonomi. Belajar dari hal ini,ekonomi nasional juga akan sangat bergantung pada kemampuan dan efektivitas belanja pemerintah dalam menggairahkan ekonomi nasional dan daerah.
Karena itu,kesepakatan perubahan asumsi dalam APBN-P akan memberikan kepastian alokasi anggaran dan hal ini sangat dibutuhkan bagi perekonomian nasional. Melalui momen ini, kita mempunyai kesempatan untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi eksekutif dan legislatif. Berdasarkan laporan Global Competitiveness Report 2009- 2010, sebanyak 20,2 persen responden menyatakan, hal yang paling bermasalah dalam melakukan bisnis di Indonesia adalah tidak efisiennya birokrasi di pemerintahan.
Salah satu penyebab ketidakefisienan adalah faktor ketidakpastian kelembagaan. Kita berharap tercapainya kesepakatan tentang perubahan APBN akan mengurangi derajat ketidakpastian kelembagaan di Indonesia. DPR dan pemerintah perlu menempatkan persoalan kepastian anggaran ini dalam kerangka lebih besar.
Ketegangan antara pemerintah, dalam hal ini menteri keuangan dengan DPR, perlu dicairkan demi mengurangi dampak sistemik terhadap persoalan ini.Tertundanya pembahasan RAPBN-P akibat ketegangan antara menteri keuangan dan Komisi XI DPR bisa memperburuk daya saing nasional. Investor,pengusaha,dan beberapa proyek pemerintah berpotensi terganggu yang nantinya justru akan merugikan kepentingan nasional yang lebih besar. (*)
Firmanzah PhD, Dekan Fakultas Ekonomi UI,(Koran SI/Koran SI/rhs)

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat : Jebakan Sebuah Sukses

Jebakan Sebuah Sukses
Jum'at, 30 April 2010 - 09:18 wib TEXT SIZE :
Prof Dr Komaruddin Hidayat SETIAP orang pasti menginginkan sukses dalam hidupnya. Hanya saja, setiap orang memiliki keinginandan ukuran berbeda-beda mengenai sebuah sukses.
Yang sering menjadi ukuran sukses biasanya merujuk pada titel kesarjanaan, jabatan tinggi, dan kekayaan melimpah. Satu pelajaran penting yang pantas kita renungkan adalah setiap sukses itu mengandung risiko dan jebakan. Semakin tinggi jabatan seseorang dan semakin melimpah kekayaannya, derajat risikonya juga semakin besar.
Berbagai kasus mantan bupati, anggota DPR, gubernur, dan menteri yang sekarang masuk penjara setelah usai menjabat karena terbukti korupsi adalah contoh nyata risiko dan kegagalan dari sebuah sukses. Mereka sukses ketika berjuang dan merangkak menapaki tangga sukses setapak demi setapak, tapi ternyata gagal menjaga momentum dan prestasi yang telah diraih.
Banyak orang yang tahan menderita, tetapi tidak tahan ketika sudah berhasil menjadi kaya raya. Saya sering melihat beberapa orang ternama yang sewaktu mahasiswa menderita, tetapi setelah sukses secara materi lalu berubah drastis perilakunya. Mereka dendam dengan masa lalunya. Alih-alih bersyukur, mereka bertingkah dan hidup berfoya-foya untuk membalas derita masa lalunya. Sukses model seperti ini adalah sukses semu dan sifatnya hanya sesaat.
Sebuah nasihat lama mengatakan, kegagalan adalah guru yang mengajarkan kedewasaan hidup, sehingga dengan demikian secara potensial kegagalan menjanjikan sukses di hari esok. Nasihat ini sesungguhnya mempunyai pesan ganda. Pesan lainnya ialah bahwa di balik kesuksesan selalu menyimpan potensi kegagalan. Ibarat orang memanjat pohon, semakin tinggi memanjat, semakin kencang tiupan angin dan semakin tinggi jarak untuk turun atau kemungkinan jatuhnya.
Nasihat serupa datang dari kearifan China, yin-yang, bahwa gerak kehidupan itu tidak selalu bergerak maju, tapi bagaikan putaran bola yang menggulir ke berbagai penjuru. Di sini yin-yang mengajak kita untuk melihat persoalan hidup secara dialektis dan komprehensif, bukannya linier-parsialistik. Sebuah penelitian sosial di Amerika Serikat (AS) menyebutkan, kehidupan yang serbalinier, mewah, dan selalu memperoleh proteksi dari orang tua ternyata bukannya meningkatkan kualitas hidup remaja, tapi malah merusak mental dan moral mereka.
Berbeda dari generasi orang tuanya yang penuh semangat juang, generasi muda AS yang dimanjakan oleh kemewahan materi sangat rendah rasa tanggung jawab sosialnya. Jadi, implikasi sosial dari pembangunan yang terlalu memihak pada peningkatan GNP tapi kurang memperhatikan prinsip-prinsip moralitas seperti keadilan, kejujuran, demokrasi, dan hak asasi manusia sama halnya dengan mendirikan tiang bangunan yang tinggi, tapi melupakan fondasinya.
Sudah bisa diduga maka bangunan tadi sangat rawan guncangan dan tidak tahan lama. Sejarah banyak merekam cerita sukses yang bersifat sementara dan semu ini. Perasaan sukses yang ternyata mengantarkan malapetaka ini pernah juga dialami oleh para ilmuwan. Ketika awal mula bom atom ditemukan, masyarakat ilmuwan bersorak kegirangan karena sukses yang mereka raih.
Tapi kebanggaan tadi luluh lantak menjadi ratapan dan duka sejarah yang amat dalam ketika akhirnya Hiroshima dan Nagasaki hangus olehnya. Di sini kita menemukan paradoks- paradoks kebudayaan. Bisa jadi kita kagum terhadap kemegahan bangunan Taj Mahal di India. Tetapi, akal kritis akan bertanya, berapa uang rakyat dikuras hanya untuk memenuhi ambisi sang raja? Berapa ribu korban jiwa ketika bangunan piramid di Mesir itu dibangun?
Benarkah Borobudur yang megah itu dibangun secara suka rela oleh rakyat? Pertanyaan-pertanyaan senada tentu saja bisa diperpanjang. Di situ ternyata apa yang oleh penguasa disebut sebagai sukses, bagi masyarakat mungkin dilihat sebaliknya. Seorang camat, misalnya, bisa jadi merasa gembira dan sukses ketika meresmikan sebuah jalan aspal yang menghubungkan kota dan desa.
Tetapi pernahkah pak camat melakukan penelitian secara serius, adakah jalan tadi benar-benar berfungsi meningkatkan ekonomi orang desa ataukah malah sebaliknya, yaitu memperlicin dominasi tengkulak kota atas petani desa? Dengan menyimak kembali lembaran sejarah politik dan kekuasaan, apa yang disebut kemenangan dan kesuksesan rezim penguasa tidak selalu identik dengan kemenangan akal sehat dan nurani rakyat.
Bagaikan gerak dalam fisika kuantum, gerak pendulum kehidupan tidaklah selalu bersifat teleologis dan deterministis. Hanya mereka yang bisa menghindari sindrom “posisi puncak” yang tak akan pernah jatuh, sebagaimana juga mereka yang bisa mengelak dari jeratan ”posisi bawah” maka tidak akan pernah khawatir terinjak. Dalam hal ini perjalanan hidup Rasulullah Muhammad menarik sekali dijadikan teladan.
Dia pernah dalam posisi yang amat menderita, dikejar-kejar dan disayembarakan hendak dibunuh, namun pernah juga sebagai raja diraja yang amat sukses disegani kawan dan lawan. Meski pendulum hidup Nabi berayun dari kutub ekstrem yang satu ke kutub ekstrem sebaliknya, pribadi dan perilakunya tidak berubah, selalu berada di titik tengah, pada garis moderat. (*)
PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Rektor UIN Syarif Hidayatullah

Jaya Suprana : Sri Mulyani seorang Kartini Abad 21

Sri Mulyani Indrawati
Sabtu, 8 Mei 2010 - 10:06 wib TEXT SIZE :
SUKA tak suka, fakta tak bisa dibantah, Sri Mulyani Indrawati memang wanita pertama, bahkan satu-satunya pada saat naskah ini ditulis, yang dilantik menjadi Menteri Keuangan Republik Indonesia.
Juga tidak bisa dibantah menteri keuangan perempuan pertama ini juga yang pertama menyatakan mengundurkan diri di masa jabatan belum habis. Saya kenal Sri Mulyani sejak masa rezim Orde Baru masih berkuasa mutlak di persada Nusantara melalui berbagai forum seminar ekonomi, di mana kita berdua masih bergerilya sebagai pembicara.
Yang menonjol pada wanita doktor ekonomi itu di samping profesionalisme kaliber unggul adalah keberanian menyatakan apa yang dianggapnya benar sebagai benar, dan yang keliru sebagai keliru tanpa pandang apa dan siapa yang dianggap keliru atau benar.
Keberanian semacam itu tidak dimiliki para pembicara seminar, termasuk saya, yang masih takut bicara apa adanya akibat khawatir ada apanya di balik apa pun yang dibicarakan di masa kekuasaan rezim Orde Baru. Sri Mulyani memang bukan penganut paham tidak-semua-yang-benar-perludibicarakan- tetapi-apabila -bicara sebaiknya- secara-benar.
Terkesan, seolah Mbak Ani tidak punya syaraf ketakutan.Setelah era Orde Baru diruntuhkan gerakan Reformasi, tiba masa kebebasan berbicara menyampaikan kritik tanpa khawatir dampak reaksi perlawanan dari yang dikritik (kecuali kelompok agama). Maka daya tarik seminar bergaya gerilya merosot akibat semua,bukan hanya pembicara seminar, berani bicara bebas sebebasnya bebas yang paling bebas.
Sementara saya masih priapanggilan yang menunggu panggilan untuk bicara di forum seminar yang jumlahnya jauh menurun ketimbang masa belum ada kebebasan bicara, lambat namun pasti, Sri Mulyani mutasi profesi. Sri Mulyani bermutasi dari pengkritik kekuasaan ke pelaku kekuasaan tanpa meninggalkan sifat berani menyatakan yang benar sebagai benar, dan yang keliru sebagai keliru berdasar keyakinan dirinya sendiri. Keyakinan atas diri sendiri memang secara politis rawan ditafsirkan sebagai keras kepala, egois, egosentris, otoriter, bahkan arogan. Maka sejak diangkat Presiden SBY menjadi menteri keuangan, langsung para lawan politik SBY, terutama yang merasa kepentingannya terancam gelora semangat obsesi fanatisme Sri Mulyani untuk gigih melakukan reformasi (baca: pembersihan ) di Kementerian Keuangan,memasang kuda-kuda.
Mereka bukan cuma defensif membela diri, namun juga agresif menyerang sang Menteri Keuangan yang kemudian dianggap termasuk 10 perempuan paling berpengaruh, bukan hanya di Indonesia, bahkan di dunia! Akibat tidak ada manusia yang sempurna, maka memang pasti tidak ada menteri, apalagi menteri keuangan, apalagi perempuan, yang sempurna.Jika dicari-cari dijamin pasti ditemukan ketidaksempurnaan pada setiap kebijaksanaan keuangan termasuk di khasanah bailout demi menyelamatkan bank dari musibah atau hikmah kebangkrutan. Di Amerika Serikat, terutama di masa krisis perbankan sedang asyik melanda negara adi-defisit terbesar di planet bumi itu, bailout sudah di-anggap lumrah maka tidak ada yang menggubris apalagi sibuk mempermasalahkannya.
Namun lain ladang lain belalang,ternyata bailout di Indonesia malah menjadi senjata politik sakti mandraguna untuk merongrong pemerintah melalui jalur perbankan. Kebetulan Sri Mulyani sempat melaksanakan kebijaksanaan bailout demi menyelamatkan Bank Century dari kebangkrutan yang entah disengaja atau tidak. Maka kasus bailout Bank Century yang benar atau kelirunya bisa diperdebatkan tanpa batas akhir sampai mulut berbusa, langsung didayagunakan para lawan politik SBY sebagai senjata pamungkas untuk menggulingkan tahta kementerian Sri Mulyani.
Bahwa Sri Mulyani akhirnya mengundurkan diri dari jabatan menteri keuangan merupakan fakta bahwa di Indonesia masa kini memang politik lebih berkuasa ketimbang moral dan profesionalisme.Tidak jelas yang keliru dalam peristiwa pengunduran Menteri Keuangan itu, apakah Sri Mulyani Indrawati atau mereka yang menginginkan perempuan pertama yang menjadi menteri keuangan RI itu mengundurkan diri? Jawaban silakan tanya ke rumput bergoyang. (*)

Agus Marto Jadi Menkeu, Bakal Ditolak DPR

Agus Marto Jadi Menkeu, Bakal Ditolak DPR
Kamis, 6 Mei 2010 - 14:24 wib TEXT SIZE : Frida Astuti
JAKARTA - Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso menilai Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo yang disebut-sebut namanya bakal menggantikan posisi Sri Mulyani sebagai Menkeu akan menuai penolakan dari fraksi di DPR.
Penolakan tersebut dikatakan Priyo, terlihat ketika Martowadojo mencalonkan diri menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI).
"Saya saat itu masih ketua fraksi golkar DPR RI. Ketika Agus Marto diusulkan dan saya tahu betul mengapa fraksi-fraksi tidak bersepakat dan cenderung menolak yang bersangkutan," tandas Priyo di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (6/5/2010).
Dirinya membeberkan meski memiliki kemampuan yang bagus, Agus Martowadojo pernah tidak lolos sewaktu tes fit and proper test pada pencalonan Gubernur BI.
"Agus Martowadojo Presdir Mandiri sebenarnya termasuk seperangkat yang bagus. Sayangnya kemarin fakta dan sejarah mengatakan pernah tertolak menjadi gubernur BI ketika fit and proper tes di DPR dan terjadi penolakan," bebernya.
Meski mengalami penolakan dirinya menganggap bahwa hal tersbut syarat muatan politik dan menyerahkan siapa yang bakal menduduki posisi menkeu kepada Presiden "Tapi ini politik saya tidak tahu apakah karena kewenangan bapak presiden bisa saja memilih beliau," jelasnya.
Priyo menambahkan agar pemilihan Agus dipertimbangkan kembali agar tidak terjadi benturan. "Hanya saja mungkin ke depan perlu di pertimbangankan ada benturan ketika tokoh itu pernah tidak diterima oleh DPR," pungkasnya.(ade)

Kisah Mirza dan Seikat Bunga untuk Sri Mulyani

Kamis, 6 Mei 2010 - 14:19 wib TEXT SIZE : Andina Meryani - Okezone
JAKARTA - Mundurnya Sri Mulyani dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan untuk kemudian berganti menjabat menjadi Managing Director Bank Dunia, ternyata meninggalkan rasa kehilangan yang mendalam bagi salah seorang pegawai Telkom Indonesia yang bekerja sama dengan Kementerian Keuangan bernama Chairuddin Mirza.
Dengan setia Mirza menunggu Sri Mulyani yang tengah menghadiri acara Kanwil Perbendaharaan Kemenkeu, di Jalan Otista, Jakarta, Kamis (6/5/2010).
Dengan memakai jaket bergambar logo Kemenkeu, Mirza setia mengikuti setiap acara Sri Mulyani, sambil membawa seikat bunga.
Ketika acara selesai, Mirza berusaha untuk memberikan bunga yang dibawanya kepada Sri Mulyani. Petugas keamanan yang mengawal Menkeu sempat melarang Mirza mendekat dan sempat melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Barulah kemudian Mirza diperkenankan mendekati Sri Mulyani yang akan meninggalkan tempat acara.
"Ibu Sri, saya Mirza. Saya sudah tiga tahun bekerja di Kemenkeu di bawah pimpinan Ibu. Saya merasa kehilangan,'' ujarnya sambil berlinang air mata sambil menyerahkan seikat bunga yang dibawanya.
Sri Mulyani yang awalnya tidak mengubrisnya dan dijaga ketat, mendadak berhenti tepat di depan pintu mobilnya dan mengambil bunga yang diberikan Mirza kemudian menepuknya bahunya dua kali.
"Terima kasih bunganya, tidak ada yang ditinggalkan," kata Sri Mulyani sambil menatapnya.
Dalam keadaan terisak, Mirza kembali bertanya kepada Sri Mulyani apakah dirinya akan kembali lagi ke Indonesia. "Bu, kami menunggu. Ibu kembali lagi mengabdi ke Tanah Air?" tanyanya.
Sri Mulyani pun menjawab bahwa dirinya pun pasti akan kembali lagi ke Indonesia, usai dirinya menyelesaikan tugasnya di Bank Dunia. "Iya, pasti. Pasti kembali," ujar Sri Mulyani sambil naik ke mobilnya.
Mirza yang masih terlihat terharu menyatakan, apa yang dilakukannya tersebut bukanlah sekedar untuk membuat sensasi. "Saya datang ke sini secara pribadi dan bukan untuk mencari sensasi. Kita harusnya bangga diurus oleh seorang wanita pintar dan Menteri Keuangan seperti beliau," tandasnya.
Mirza mengaku, secara langsung dirinya tidak pernah berada di bawah pimpinan Sri Mulyani. Dia hanyalah petugas yang beberapa kali memasang infokus dalam sejumlah rapat yang dihadiri Sri Mulyani. (css)

Revrison : Sri Mulyani Indrawati ke Bank Dunia, Indonesia Kacung AS

Jum'at, 7 Mei 2010 - 10:24 wib TEXT SIZE :
YOGYAKARTA - Pakar ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Revrisond Baswir menilai, diangkatnya Sri Mulyani sebagai managing director Bank Dunia bukan sebagai sebuah prestasi namun intervensi. Intervensi khususnya yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) sebagai penguasa tunggal hak veto di Bank Dunia.
“Itulah yang berita diangkat seolah itu sebuah prestasi, padahal jelas ini intervensi AS terhadap Indonesia,” kata Revrisond ketika dihubungi, okezone, di Yogyakarta, Kamis (6/5/2010).
Dia menambahkan, kasus semacam ini sebenarnya telah beberapa kali terjadi dan bukan saja terhadap para pejabat tinggi negara selevel menteri, bahkan di bawahnya. Nantinya setelah para pejabat tersebut menjabat di Bank Dunia dua hingga tiga tahun kemudia akan dikembalikan lagi ke Indonesia dengan masih menyandang jabatan tertentu pula.
“AS akan bersikap jika anak emasnya tengah dirundung kasus. Kasusnya sudah terjadi beberapa kali kok,” katanya.
Di sisi lain dengan intervensi terhadap SMI ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sama sekali tidak berdaya. Dengan demikian dalam pandangan Revrisond, sudah tidak penting lagi untuk membicarakan siapa nanti pengganti yang pas untuk SMI jika Indonesia masih saja menjadi antek AS. “Penggantinya sudah tidak menarik lagi itu kalau kita masih saja jadi kacung AS," katanya.
Untuk itu Revrisond berharap ada ketegasan dan kejujuran dari pihak terkait baik itu DPR dan pemerintah perihal ditariknya SMI oleh Bank Dunia. Bahkan, jika diperlukan sehubungan dengan kasus Century yang masih melilitnya diharapkan ada pihak terkait yang berani mencekalnya.
“Entah itu KPK atau polisi atau yang berwenang ya sebaiknya dicekal dulu sebelum persoalannya usai mengenai Century ini,” tuntas Soni panggilan akrab Revrisond.(adn)(Satria Nugraha/Trijaya/rhs)

Air Mata Kerinduan dan Kesedihan untuk Kepergian Ibunda Terkasih

Raut Wajah Sri Mulyani Sang Kartini di Hadapan Anggota DPR